BAB III
KEMATIAN DALAM KONSTELASI
BUDAYA JAWA
A. Mati dalam Konsepsi Jiwa
Kematian merupakan lenyapnya segala aktivitas kehidupan yang dialmi semua manusia tanpa kecuali. Kematian dijalani secara pasif oleh manusia karena manusia yang terdiri dari ribuan sel yang hidup dan kompleks sesudah jangka waktu tertentu tidak mampu memproduksi lagi. Orang Jawa tidak melihat kematian sebagai titik tamat yang menelan kehidupan melainkan sebagai proses pasif yang dicapai dalam rentang kehidupan. Kematian terjadi manakala nyawa menghilang dari tubuh. Sebagaimana kejadian yang dialami oleh Mba Hartini hanya kejadian ketidak sadaran atau tertidur dan bermimpi. Disini dia mengungkapkan bahwa sebelum dia melihat anak-anaknya dan mendengar suara banyak orang yang meruktinya (keadaan setengah sadar), dia serasa mandi di kolam sebelah selatan rumah yang sejuk airnya. Ditengah asyiknya mandi, dia kebingungan karena kain jarik miliknya diambil seorang wanita cantik. Namun tidak lama kemuadian, wanita itu kembali membawa kain baru seraya berkata, “jangan marah-marah, saya tidak ingin mencuri kainmu tetapi akan menggantinya dengan yang baru karena yang lama sudah rusak. Akan tetapi, sanak keluarga dan orang-orang yang berada disekitarnya menyatakan mati karena mereka mengkap gejala-gejala dan keadaan tubuhnya mirip orang mati. Pengalaman yang melintas ketidak sadaran itu tidak sama dengan pengalaman di alam kematian.
Tubuh tanpa nyawa adalah tubuh yang mati, sebaliknya nyawa tidak bisa menjadi bagian dari kehidupan tanpa tubuh. Sementara itu, tubuh yang mati dipandang akan kembali menjadi empat campuran anasir yng membentuknya yaitu: api, tanah, angin dan air. Misalnya kulit, daging, dan tulang berasal dari zat makanan yang semula berada didalam tanah; darah dan keringat dari air yang diminum; nafas dari angin atau udara yang dihirup; serta api dari matahari.
Djimu Widiatmanto melukiskan tahap-tahap hancurnya tubuh dan kembalinya unsur rohani ke asalnya sejalan dengan penyelenggaraan ritual kematian di Jawa. Pertama, saat meninggal dunia sampai tiga hari disebut saat ngabuh-abuhi. Roh si mati dianggap masih berada di dalam rumah. Kedua, pada hari ketuju disebut saat pecahing awak amblesing bumi (hancurnya badan dan masuk kedalam tanah). Roh dibanyangkan masih berada di sekitar pekarangan rumah. Ketiga, tahap hari keempat puluh disebut wis rampung sing nakoni (segala pertanyaan yang diajukan kepadanya telah selesai). Roh sudah keluar pekarangan rumah tetapi masih sering pulang. Keempat, pada hari keseratus saat roh berpamitan yang terakhir pada keluarganya. Dia masih sering berkunjung menengok keluarga dan anak cucunya. Kelima, mendhak pisan atau setaun setelah kematian dan mendhak pindho yaitu dua tahun kemudian yang dianggap roh sekali-kali suka datang melihat anak cucunya. Tahap keenam yang disebut entek-entekane pada hari keseribu. Disini, tubuh telah kembali ke asalnya dan roh samapi ke tujuannya.
Hilangnya nyawa merupakan metafor bahwa manusia dalam eksistensinya tidak abadi di dunia. Tubuh segera lenyap ditelan tanah ketika mati. Orang Jawa merenungkan bahwa dunia merupakan arena kehidupan yang fana. Kehidupan yang sejatih manakala kematian tiba. Dalam orang Jawa, kematian mengacu pada bidang orientasi atau suwung awang uwung.
B. Eskatologi Kematian Orang Jawa
Orang Jawa seperti halnya orang-orang dari kebudayaan lain yang membedakan alam kehidupan sebelu dan sesudah mati secara tegas. Alam kehidupan sebelum mati disebut alam wadag, tempat manusia dilahirkan dan menjalani hidup hingga masa kematiannya sedangkan alam sesudah mati disebut akhirat atau alam kelanggengan.
Pembedaan alam wadag dan alam kelanggengan secara parallel terartikukasikan dalam pemakaian bahasa Jawa yakni Krama dan Ngoko. Sebagaimana pendapat James T. Singel bahwa bahasa Jawa terdiri dari dua bahasa yaitu Krama dan Ngoko. Ngoko merupakan bahasa ibu yang dipergunakan dalam proses sosialisasi dan enkulturasi. Ongoko dipergunakan manakala orang berbincan-bincang dengan yang sederajat dan memiliki keintiman diantara mereka. Sedangkan Krama merupakan bahasa Jawa halus yang dipergunakan manakala menjumpai orang yang dipandang memilki derajat senioritas yang lebih tinggi dalam status serta hierarki social seperti karena usia, kesejahteraan, kekuasaan dan sebagainya.
Kematian merupakan trasformasi keberadaan sesorang dari alam wadag ke alam kelanggengan.orang mengalami kematian manakala roh meningalkan tubuh. Roh tidak terlihat dalam keadaan normal. Karena tidak kelihatan, roh tidak bisa diidentifikasi serta memilki potensi mengganggu kehidupan dan sekaligus mendatangkan berkah. Gangguan tersebut timbul karena orang yang ditinggalkan tidak mengetahui nasib roh setelah mati. Disamping itu, adanya upacara tadi persiapan roh akan menuju alam keanggengan dengan kendaraan hewan yang dipotong sebagai kurban dan berpayungkan burung merpati yang dilepas saat peringatan seribu hari geblaknya. Cerita yang terdapat pada halaman 89 ini menggambarkan bahwa munculnya roh itu karena ada yang mempercayai akan kemunculannya sehingga orang melakukan sesajen untuk roh yang telah menggal dunia.
KEMATIAN DALAM KONSTELASI
BUDAYA JAWA
A. Mati dalam Konsepsi Jiwa
Kematian merupakan lenyapnya segala aktivitas kehidupan yang dialmi semua manusia tanpa kecuali. Kematian dijalani secara pasif oleh manusia karena manusia yang terdiri dari ribuan sel yang hidup dan kompleks sesudah jangka waktu tertentu tidak mampu memproduksi lagi. Orang Jawa tidak melihat kematian sebagai titik tamat yang menelan kehidupan melainkan sebagai proses pasif yang dicapai dalam rentang kehidupan. Kematian terjadi manakala nyawa menghilang dari tubuh. Sebagaimana kejadian yang dialami oleh Mba Hartini hanya kejadian ketidak sadaran atau tertidur dan bermimpi. Disini dia mengungkapkan bahwa sebelum dia melihat anak-anaknya dan mendengar suara banyak orang yang meruktinya (keadaan setengah sadar), dia serasa mandi di kolam sebelah selatan rumah yang sejuk airnya. Ditengah asyiknya mandi, dia kebingungan karena kain jarik miliknya diambil seorang wanita cantik. Namun tidak lama kemuadian, wanita itu kembali membawa kain baru seraya berkata, “jangan marah-marah, saya tidak ingin mencuri kainmu tetapi akan menggantinya dengan yang baru karena yang lama sudah rusak. Akan tetapi, sanak keluarga dan orang-orang yang berada disekitarnya menyatakan mati karena mereka mengkap gejala-gejala dan keadaan tubuhnya mirip orang mati. Pengalaman yang melintas ketidak sadaran itu tidak sama dengan pengalaman di alam kematian.
Tubuh tanpa nyawa adalah tubuh yang mati, sebaliknya nyawa tidak bisa menjadi bagian dari kehidupan tanpa tubuh. Sementara itu, tubuh yang mati dipandang akan kembali menjadi empat campuran anasir yng membentuknya yaitu: api, tanah, angin dan air. Misalnya kulit, daging, dan tulang berasal dari zat makanan yang semula berada didalam tanah; darah dan keringat dari air yang diminum; nafas dari angin atau udara yang dihirup; serta api dari matahari.
Djimu Widiatmanto melukiskan tahap-tahap hancurnya tubuh dan kembalinya unsur rohani ke asalnya sejalan dengan penyelenggaraan ritual kematian di Jawa. Pertama, saat meninggal dunia sampai tiga hari disebut saat ngabuh-abuhi. Roh si mati dianggap masih berada di dalam rumah. Kedua, pada hari ketuju disebut saat pecahing awak amblesing bumi (hancurnya badan dan masuk kedalam tanah). Roh dibanyangkan masih berada di sekitar pekarangan rumah. Ketiga, tahap hari keempat puluh disebut wis rampung sing nakoni (segala pertanyaan yang diajukan kepadanya telah selesai). Roh sudah keluar pekarangan rumah tetapi masih sering pulang. Keempat, pada hari keseratus saat roh berpamitan yang terakhir pada keluarganya. Dia masih sering berkunjung menengok keluarga dan anak cucunya. Kelima, mendhak pisan atau setaun setelah kematian dan mendhak pindho yaitu dua tahun kemudian yang dianggap roh sekali-kali suka datang melihat anak cucunya. Tahap keenam yang disebut entek-entekane pada hari keseribu. Disini, tubuh telah kembali ke asalnya dan roh samapi ke tujuannya.
Hilangnya nyawa merupakan metafor bahwa manusia dalam eksistensinya tidak abadi di dunia. Tubuh segera lenyap ditelan tanah ketika mati. Orang Jawa merenungkan bahwa dunia merupakan arena kehidupan yang fana. Kehidupan yang sejatih manakala kematian tiba. Dalam orang Jawa, kematian mengacu pada bidang orientasi atau suwung awang uwung.
B. Eskatologi Kematian Orang Jawa
Orang Jawa seperti halnya orang-orang dari kebudayaan lain yang membedakan alam kehidupan sebelu dan sesudah mati secara tegas. Alam kehidupan sebelum mati disebut alam wadag, tempat manusia dilahirkan dan menjalani hidup hingga masa kematiannya sedangkan alam sesudah mati disebut akhirat atau alam kelanggengan.
Pembedaan alam wadag dan alam kelanggengan secara parallel terartikukasikan dalam pemakaian bahasa Jawa yakni Krama dan Ngoko. Sebagaimana pendapat James T. Singel bahwa bahasa Jawa terdiri dari dua bahasa yaitu Krama dan Ngoko. Ngoko merupakan bahasa ibu yang dipergunakan dalam proses sosialisasi dan enkulturasi. Ongoko dipergunakan manakala orang berbincan-bincang dengan yang sederajat dan memiliki keintiman diantara mereka. Sedangkan Krama merupakan bahasa Jawa halus yang dipergunakan manakala menjumpai orang yang dipandang memilki derajat senioritas yang lebih tinggi dalam status serta hierarki social seperti karena usia, kesejahteraan, kekuasaan dan sebagainya.
Kematian merupakan trasformasi keberadaan sesorang dari alam wadag ke alam kelanggengan.orang mengalami kematian manakala roh meningalkan tubuh. Roh tidak terlihat dalam keadaan normal. Karena tidak kelihatan, roh tidak bisa diidentifikasi serta memilki potensi mengganggu kehidupan dan sekaligus mendatangkan berkah. Gangguan tersebut timbul karena orang yang ditinggalkan tidak mengetahui nasib roh setelah mati. Disamping itu, adanya upacara tadi persiapan roh akan menuju alam keanggengan dengan kendaraan hewan yang dipotong sebagai kurban dan berpayungkan burung merpati yang dilepas saat peringatan seribu hari geblaknya. Cerita yang terdapat pada halaman 89 ini menggambarkan bahwa munculnya roh itu karena ada yang mempercayai akan kemunculannya sehingga orang melakukan sesajen untuk roh yang telah menggal dunia.
Komentar
Posting Komentar