A. PENDAHULUAN
Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi hingga saat ini peninggalannya masih dilhat di wiayah kesultanan Buton di antaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia. Istanah Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang kesultanan Buton yang bernama kapuan, dan banyak lagi.
Jika dilhat dari sejarah suku Buton dan asal-usulnya dapat diketahui dengan menggunakan lebih dahulu sejarah kedatangan Sipanjonga dan kawan-kawannya, yang dikenal dalam sejarah wolio dengan nama kesatuanya “Mia Pata Piana” yang artinya “empat orang” lebih jelasnya dimaksudkan dengan empat pemuka yaitu Sipanjonga, Simalui, Sijawangkati, dan Siumanajo. Dan dengan berpegang pada buku silsilah dari raja-raja di Wolio, keempat orang teresbut konon menurut riwayat berasal dari tanah Semenanjung Johor (Malaysia) pulau Liya Melayu, dimana tibanya di Buton dapat dperkirakan berkisar akhir abad ke-13 atau setidaknya pada awal abad ke-14. Perkiraan tibanya Sipanjonga dan kawan-kawannya.
Adapun dalam makalah ini, kami akan lebih memfokuskan pada asal-usul suku Buton, struktur bangunan, dan fungsi bangunan tersebut pada masyarakat Buton khususnya kalangan bawah. Di mana untuk rumah rakyat biasa, tiangnya berbentuk bulat. Biasanya tiang-tiang ini puncaknya terpotong. Dengan melihat jumlah tiang sampingnya dapat diketahui siapa atau apa kedudukan si pemilik. Rumah adat yang mempunyai tiang samping 4 buah berarti rumah tersebut terdiri dari 3 petak merupakan rumah rakyat biasa. Rumah adat bertiang samping 6 buah akan mempunyai 5 petak atau ruangan, rumah ini biasanya dimiliki oleh pegawai Sultan atau rumah anggota adat kesultanan Buton. Sedangkan rumah adat yang mempunyai tiang samping 8 buah berarti rumah tersebut mempunyai 7 ruangan dan ini khusus untuk rumah Sultan Buton.
B. FOKUS KAJIAN
a) Bagaimana Latar Belakang Sejarah Suku Buton
b) Bagaimana Struktur Bangunan Rumah Panggung di Buton
c) Bagaiamana Fungsi Rumah Panggung di Buton
C. KONSEP
a) Rumah
Rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Rumah bisa menjadi tempat tinggal manusia maupun hewan, namun untuk istilah tempat tinggal yang khusus bagi hewan adalah sangkar, sarang, atau kandang.
b) Rumah Adat
Rumah Adat merupakan salah satu representasi kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku/ masyarakat. Rumah adat juga dapat dipahami sebagai bangunan yang memiliki cirikhas khusus, digunakan untuk tempat hunian oleh suatu bangsa tertentu. Keberadaan rumah adat di Indonesia sangat beragam dan mempunyai arti yang penting dalam perspektif sejarah, warisan dan kemajuan masyarakat dalam sebuah peradaban. c) Buton
Buton adalah sebuah pulau di Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan akan produksi aspalnya. Berdasarkan luas wilayah, pulau Buton urutan ke-130 di dunia dan mendudki urutan ke-73 di daftar pulau menurut jumlah penduduk berdasarkan jumlah penduduknya. Buton termasuk dalam wilayah administrasi provinsi Sulawesi Tenggara.
d) Suku Buton
Suku Buton adalah salah satu etnis yang mendiami wilayah kekuasaan kesultanan Buton. Seperti suku-suku yang ada di Sulawesi kebanyakan, suku Buton juga merupakan suku pelaut. Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi hingga saat ini peninggalannya masih dilhat di wiayah kesultanan Buton di antaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia. Istanah Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang kesultanan Buton yang bernama kapuan, dan banyak lagi.
D. PEMBAHASAN
a. Latar Belakang Sejarah
Adanya suku Buton di latar belakangi datangnya kesatuan “Mia Pata Miana” yang artinya empat orang, lebih jelasnya yang dimaksudkan dengan empat pemuka yaitu Si Panjonga, Si Malui, Si Jawangkati dan Si Tuamanajo. Dan dengan berpegang pada buku silsilah dari raja-raja di Wolio, keempat orang teresbut konon menurut riwayat berasal dari tanah Semenanjung Johor (Malaysia) pulau Liya Melayu, dimana tibanya di Buton dapat dperkirakan berkisar akhir abad ke-13 atau setidaknya pada awal abad ke-14. Perkiraan tibanya Sipanjonga dan kawan-kawannya.
Sejarah
Dalam sejarah Budaya Boton manusia pertama yang mendiami daerah ini adalah orang-orang sakti dan kedatangannya bertahap dan berkelompok.
1) Kedatangan Sipanjonga dan Rombongannya
Si Panjonga adalah orang sakti berasal dari suku Melatu di Negeri Pasai yang meninggalkan negeri asalnya dapa tiga likur malam bulan sa’ban tahun 634 Hijriah dengan mengajak Si Tamanajo sebagai pembantu utamanya serta 40 orang kepala keluarga sebagai pengikutnya. Kepergian rombongan besar ini dari negeri asalnya mencari daerah yang telah diberitahukan oleh leluhurnya untuk ditempati. Perjalanan itu menghabiskan waktu selama berbulan-bulan dengan melintasi daratan dan menyebrangi samudera dengan menggunakan bahtera yang bernama La kuleba. Di burian bahtera yang bernama hitam putih selang-seling. Dalam bahasa wolio-Buton bendera ini di sebut longa-longa. Nama armada yang digunakan oleh Si Panjonga dan pembantu utamanya serta para pengikutnya diabadikan dengan sebuah nama perkampungan yang ada di Buton yang di sebut desa Lakaliba.
Pada tahun 1236 M, armada Si Panjonga dan pengikutnya mendarat di salah satu daerah negeri Buton. Sesampai di negeri baru itu mereka mencari sebuah lokasi daratan tinggi untuk membina kaumnya agar muadah melakukan pengawasan serata menjaga kemungkinan serangan musuh. Rombongan besar ini membuat benteng, mereka kembali mendatangi lokasi pertama terdampar dengan maksud mengibarkan bendera kerajaan leluhurnya. Maka dibuktikanlah sebuah lubang yang berada disalah satu tempat yang dikelilingi benteng untuk mengibarkan bendera tersebut yang disebut Sulaa. Saat ini tempat tersebut tidak pernah beruh nemanya dan diabadikan menjadi sebuah nama kelurahan yaitu kelurahan Sulaa yang berada di wilayah kecamatan Betoambari. Namun, benteng tempat pengibaran bendera tersebut telah dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa waktu pasca pembuatan benteng dan pengibaran bendera, kehidupan di Tobe-Tobe mulai berjalan baik. Si Panjonga memintah kepada pembantunya Si Tamanajo untuk megajak sebagian pengikutnya untuk mencari daerah baru sebagai tempat tinggal dan mengembangkan keturunannya. Perintah ini disauti oleh Si Tamanajo dan langsung berpamitan kepada pemimpinnya Si Panjongan serta rombongan yang ditinggalkan.
Rombongan kecil yang dipimpin oleh Si Tamanajo ini meninggalkan Sulaa menyusuri pantai Buton menuju teluk Bungi Todanga (sekarang menjadi wilayah Kapuntori) kemudian yang disebutnya Lambelu dan memberi nama bentengnya Benteng Kamosope. Setelah perkampungan dan pembuatan benteng selesai, Si Tamanajo memerintahkan kepada rombongannya untuk membuat lubang pengibaran bendera kerajaan leluhurnya sama denga yang dikibarkan pemiminya di Sulaa yakni bendera Longa-Longa.
2) Kedatangan Armada Si Malui
Kedatangan manusia kedua di negeri Buton disebutkan dalam sejarah budaya Buton adalah manusia sakti bernama Si Malui dan adiknya bernama Si Baana serta pembantunya Si Jawangkati. Si Malui berasal dari negara Bumbu negeri Melayu Pariama, meninggalkan negeri asalnya pada lima belas hari bulan Sya’ban tahun 634 H. Sama seperti Si Panjonga, Si Malui membawa rombongan 40 orang kepala keluarga sebagai pengikutnya. Berbulan-bulai di kapal mengarungi lautan dan melewati daratan dengan menaiki sebuah bahtera dengan nama Popangua. Di buritan bahtera yang mereka tumpangi dikibarkan bendera kerajaan leluhurnya yang berwarna kuning hitam selang-seling dinamai bendera Buncaha.
Rombongan yang dipimpin oleh Si Malui terdampat di sebelah Utara Timur negeri Buton, hampir bersamaan dengan kedatangan Si Panjonga. Daerah pendaratan pertama di wilayah Kamaru dengan bentengnya yang disebut Wanco. Sama halnya Si Panjonga, Si Malui juga memerintahkan pembantu utamanya untuk mencari daerah dunia baru. Daerah yang dikunjungi Si Jawangkati atas permntaan Si Malui adalah wilayah yang diberi nama Wasuemba dan langsung mendirikn pemukimana dan benteng pertahanan yang diberi nama benteng Koncu di Wabula. Selanjutnya dibuatlah sebuah lubang untuk mengibarkan bendera di daerah Kamaru.
3) Terbentuklah Kampung Wolio
Kehadiran dua rombongan yang telah menempati 4 wilayah ini pun saling kenal mengenal an saling mengunjung. Ketika itu dibuatlah suatu kesepakatan untuk mengadakan musyawarah yang memutuskan untuk mendirikan perkampungan bersama yang di namai Batu Yi Gandangi. Ketua pelaksana Bandar perkapungan adalah Si Panjonga. Hinggga kini tempat Bandar perkampugan tersebut tetap diabadikan menjadi tempat makam pahlawan Ksatria Buton yaitu Laki La Ponto alias Murhum Raja Buton ke vi atau sultan Buton pertama. Selaku ketua pelaksana Bandar perkampungan, Si Panjonga berdiri di tengah-tengah kerumunan orang banyak sambil berteriak dalam bahasa Wolio dengan ucapan Welia, artinya buatlah perkampungan (we=buatlah; Lia=perkampungan). Ucapan Si Panjonga diabadikan menjadi nama wilayah kecamatan Wolio.
Mulai saat itulah Si Panjonga mulai bermukim di Batu Yi Gandangi atau yang saat ini disebut dengan Lele Mangura, tanpa seseorang pendamping atau seorang istri hingga akhir hayatnya seperti halnya pemimpin rombongan lain yang memiliki anak cucu di Buton.
b) Struktur Bangunan Rumah Panggung di Buton
Rumah panggung adalah rumah yang umumnya terbuat dari kayu bahkan samapai pasaknya yang tidak memiliki bahan besi misalnya paku atau pun sejenisnya.
Pada suku Buton, rumah panggung adalah sebuah rumah yang sudah cukup lama dipertahankan kelestariannya khususnya pada masyarakat Cia-Cia. Meskipun nama sama, pada masyarakat Buton rumah ini juga dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya. Adapun cara pembedaannya dapat dilihat dari struktur fisiknya, jika rumah tersebut berlantai dua berati pemilik rumah tersebut berkasta bangsawan (La Ode atau Wa Ode) sedangkan berlantai satu itu berati pemiliknya berkasta bawah (tapi-tapi). Namun, apapun bentuknya dari rumah tesebut seiring perkembangan zaman saat ini hampir sudah tidak bisa lagi di bedakan mana kasta atas dan mana kasta bawah karena saat ini rumah tersebut sudah tidak ada lagi rumah panggung yang berlantai dua dan umumnya yang ada saat ini hanyalah rumah panggung yang berlantai satu, hanya saja kasta tetap ada karena penggunaan nama setiap turunan tetap dilabelkan dengan gelar bangsawan.
Dalam pembuatan rumah ini dibutuhkan beberapa orang yang ahli (pande) dalam pembuatannya, karena tidak sembarang orang yang mengetahui cara pembuatannya. Di samping itu, harus ada orang tua yang mengetahui pale (pegangan rumah supaya tetap utuh dalam jangka waktu yang lama). Rumah panggung pada masyarakat ini di buat tanpa menggunakan besi atau paku sebagai penghubung antara satu kayu dengan kayu yang lainnya. Biasanya untuk mengganti paku sebagai penghubung kayu-kayu yang lain, para tukang membuat polahan kayu sedemikian rupaya yang di sebut kapaso. Waktu pembuatan rumah ini tergantung pada kelengkapan bahan-bahan yang disiapkan. Adapun bahan-bahan yang dipersiapkan antara lain:
a) Kayu
Karena rumah panggung pada dasarnya terbuat dari kayu jadi, untuk pembuatannya harus kayu yang tahan lama misalnya kayu jati, mahoni dan kayu-kayu lainnya yang kelas satu. Besar dan kecilnya pembangunan rumah tersebut tergantung banyaknya keluarga yang akan menempati rumah tersebut misalnya jumlah keluarga, anak-anak dan keluarga lainnya yang masih tinggal di rumah orang tua. Hal ini bisa dipahami melalui sudut pandang yang berbeda bahwa untuk orang Buton saat anak perempuan yang menikah maka suaminya harus mengikuti isrti tinggal rumah mertuanya sampai suami dari istrinya itu bisa membangun rumah sendiri.
b) Papan
Salah satu bahan dari rumah ini adalah papan di mana fungsinya sebagai dinding agar rumah tersebut mampu melindungi pengghuninya dari dinginnya malam dan panasnya sinar matahari serta ancaman lainnya. Biasanya hambatan paling besar saat membangun rumah ini terletak pada papannya karena harga satu papan saat ini senilai Rp 75.000 dan itu baru ukuran ketebalan yang tipis sehingga saat ini banyak masyarakat membangun rumah beton di bandingkan rumah panggung karena alasan tadi. Di samping itu, rumah tersebut saat ini sudah dijadikan sebagai gaya hidup pada masyarakat yang bersangkutan sehingga rumah-rumah panggung ini hanya di miliki oleh para tetua-tetua kampun (ompu).
c) Fungsi Rumah Panggung di Buton
Berbicara mengenai rumah yang berkaitan dengan manfaatnya tentunya hampir semua sama karena fungsi dasarnya rumah adalah sebagai tempat untuk berlindung dari ancaman-ancaman luar. Namun, perlu digaris bawahi meskipun fungsi utama rumah pada dasarnya sama tapi ada hal-hal lain yang membedakan seperti yang terlihat pada rumah panggung ini. Adapun manfaat rumah panggung bagi masyarakat Buton Cia-Cia antara lain:
a) Sebagai tempat berteduh
b) Sebagai tempat dalam melangsungkan keturunan
c) Tempat perkunjungan kerabat-kerabat dekat maupun jauh
d) Tempat penyimpanan hasil panen
e) Juga berfungsi penahan gempa maupun banjir
f) Dan lain-lain.
E. PENUTUP
a. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa kedatangan Mia Pata Miana di Buton menjadikan daerah tersebut memiliki penghuni hingga saat ini. Di samping itu, karena orang-orang terdahulu yang datang di Buton di kenal memiliki kesaktian mandraguna sehingga ilmu-ilmu tersebut hingga saat ini masyarakatnya masih melestarikannya meskipun dalam ke adaan kertutup.
Malige sebagai rumah adat tradisional Buton yang masih tetap tegak hingga saat ini, namun tak bisa di hindari bahwa kebanyakan masyarakat-masyarakat tersebut saat ini telah membangun rumah-rumah yang berhan semen dan material lainnya sebagai gaya hidup kekinian dan fungsi rumah tersebut berbeda pula dengan rumah adat sebelumnya karena meskipun ia dari kalangan bangsawan namun tetap dianggap masyarakat biasa di bandingkan mereka yang sebelumnya masyarakat biasa tapi karena sudah membangun rumah beton yang bertingkat maka merekalah yang dianggap tokoh penting dalam masyarakat.
b. Saran
Dari kesimpulan di atas maka penulis menyarankan bahwa sebaiknya masyarakat Buton meninggalkan hal-hal yang berbaur mistis yang diperoleh dari pendahulu-pendahulu sebelumnya karena saat ini sudah ada agama yang melarang atau mengharamkan ilmu-ilmu yang berbaur natural, sebab hal ini ia dapat dikatakan syirik karena telah menduakan Allah SWT bagi orang-orang yang beriman. Di samping itu, seharusnya rumah-rumah adat tetap dilestarikan atau dikembangkan agar ciri khas kebudayaan masyarakat tersebut tidak hilang akan keasliannya.
Sementara itu, janganlah karena perkemabangan zaman fungsi rumah adat telah bergeser nilai-nilai sosialnya karena telah diganti dengan rumah beton. Seharusnya, dengan adanya rumah tersebut tingkat kepedulian sosial kita semakin meningkat sebab ini, berati masyarakat bersangkutan telah mampu dalam bidang perekonomian.
Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi hingga saat ini peninggalannya masih dilhat di wiayah kesultanan Buton di antaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia. Istanah Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang kesultanan Buton yang bernama kapuan, dan banyak lagi.
Jika dilhat dari sejarah suku Buton dan asal-usulnya dapat diketahui dengan menggunakan lebih dahulu sejarah kedatangan Sipanjonga dan kawan-kawannya, yang dikenal dalam sejarah wolio dengan nama kesatuanya “Mia Pata Piana” yang artinya “empat orang” lebih jelasnya dimaksudkan dengan empat pemuka yaitu Sipanjonga, Simalui, Sijawangkati, dan Siumanajo. Dan dengan berpegang pada buku silsilah dari raja-raja di Wolio, keempat orang teresbut konon menurut riwayat berasal dari tanah Semenanjung Johor (Malaysia) pulau Liya Melayu, dimana tibanya di Buton dapat dperkirakan berkisar akhir abad ke-13 atau setidaknya pada awal abad ke-14. Perkiraan tibanya Sipanjonga dan kawan-kawannya.
Adapun dalam makalah ini, kami akan lebih memfokuskan pada asal-usul suku Buton, struktur bangunan, dan fungsi bangunan tersebut pada masyarakat Buton khususnya kalangan bawah. Di mana untuk rumah rakyat biasa, tiangnya berbentuk bulat. Biasanya tiang-tiang ini puncaknya terpotong. Dengan melihat jumlah tiang sampingnya dapat diketahui siapa atau apa kedudukan si pemilik. Rumah adat yang mempunyai tiang samping 4 buah berarti rumah tersebut terdiri dari 3 petak merupakan rumah rakyat biasa. Rumah adat bertiang samping 6 buah akan mempunyai 5 petak atau ruangan, rumah ini biasanya dimiliki oleh pegawai Sultan atau rumah anggota adat kesultanan Buton. Sedangkan rumah adat yang mempunyai tiang samping 8 buah berarti rumah tersebut mempunyai 7 ruangan dan ini khusus untuk rumah Sultan Buton.
B. FOKUS KAJIAN
a) Bagaimana Latar Belakang Sejarah Suku Buton
b) Bagaimana Struktur Bangunan Rumah Panggung di Buton
c) Bagaiamana Fungsi Rumah Panggung di Buton
C. KONSEP
a) Rumah
Rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Rumah bisa menjadi tempat tinggal manusia maupun hewan, namun untuk istilah tempat tinggal yang khusus bagi hewan adalah sangkar, sarang, atau kandang.
b) Rumah Adat
Rumah Adat merupakan salah satu representasi kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku/ masyarakat. Rumah adat juga dapat dipahami sebagai bangunan yang memiliki cirikhas khusus, digunakan untuk tempat hunian oleh suatu bangsa tertentu. Keberadaan rumah adat di Indonesia sangat beragam dan mempunyai arti yang penting dalam perspektif sejarah, warisan dan kemajuan masyarakat dalam sebuah peradaban. c) Buton
Buton adalah sebuah pulau di Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan akan produksi aspalnya. Berdasarkan luas wilayah, pulau Buton urutan ke-130 di dunia dan mendudki urutan ke-73 di daftar pulau menurut jumlah penduduk berdasarkan jumlah penduduknya. Buton termasuk dalam wilayah administrasi provinsi Sulawesi Tenggara.
d) Suku Buton
Suku Buton adalah salah satu etnis yang mendiami wilayah kekuasaan kesultanan Buton. Seperti suku-suku yang ada di Sulawesi kebanyakan, suku Buton juga merupakan suku pelaut. Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi hingga saat ini peninggalannya masih dilhat di wiayah kesultanan Buton di antaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia. Istanah Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang kesultanan Buton yang bernama kapuan, dan banyak lagi.
D. PEMBAHASAN
a. Latar Belakang Sejarah
Adanya suku Buton di latar belakangi datangnya kesatuan “Mia Pata Miana” yang artinya empat orang, lebih jelasnya yang dimaksudkan dengan empat pemuka yaitu Si Panjonga, Si Malui, Si Jawangkati dan Si Tuamanajo. Dan dengan berpegang pada buku silsilah dari raja-raja di Wolio, keempat orang teresbut konon menurut riwayat berasal dari tanah Semenanjung Johor (Malaysia) pulau Liya Melayu, dimana tibanya di Buton dapat dperkirakan berkisar akhir abad ke-13 atau setidaknya pada awal abad ke-14. Perkiraan tibanya Sipanjonga dan kawan-kawannya.
Sejarah
Dalam sejarah Budaya Boton manusia pertama yang mendiami daerah ini adalah orang-orang sakti dan kedatangannya bertahap dan berkelompok.
1) Kedatangan Sipanjonga dan Rombongannya
Si Panjonga adalah orang sakti berasal dari suku Melatu di Negeri Pasai yang meninggalkan negeri asalnya dapa tiga likur malam bulan sa’ban tahun 634 Hijriah dengan mengajak Si Tamanajo sebagai pembantu utamanya serta 40 orang kepala keluarga sebagai pengikutnya. Kepergian rombongan besar ini dari negeri asalnya mencari daerah yang telah diberitahukan oleh leluhurnya untuk ditempati. Perjalanan itu menghabiskan waktu selama berbulan-bulan dengan melintasi daratan dan menyebrangi samudera dengan menggunakan bahtera yang bernama La kuleba. Di burian bahtera yang bernama hitam putih selang-seling. Dalam bahasa wolio-Buton bendera ini di sebut longa-longa. Nama armada yang digunakan oleh Si Panjonga dan pembantu utamanya serta para pengikutnya diabadikan dengan sebuah nama perkampungan yang ada di Buton yang di sebut desa Lakaliba.
Pada tahun 1236 M, armada Si Panjonga dan pengikutnya mendarat di salah satu daerah negeri Buton. Sesampai di negeri baru itu mereka mencari sebuah lokasi daratan tinggi untuk membina kaumnya agar muadah melakukan pengawasan serata menjaga kemungkinan serangan musuh. Rombongan besar ini membuat benteng, mereka kembali mendatangi lokasi pertama terdampar dengan maksud mengibarkan bendera kerajaan leluhurnya. Maka dibuktikanlah sebuah lubang yang berada disalah satu tempat yang dikelilingi benteng untuk mengibarkan bendera tersebut yang disebut Sulaa. Saat ini tempat tersebut tidak pernah beruh nemanya dan diabadikan menjadi sebuah nama kelurahan yaitu kelurahan Sulaa yang berada di wilayah kecamatan Betoambari. Namun, benteng tempat pengibaran bendera tersebut telah dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa waktu pasca pembuatan benteng dan pengibaran bendera, kehidupan di Tobe-Tobe mulai berjalan baik. Si Panjonga memintah kepada pembantunya Si Tamanajo untuk megajak sebagian pengikutnya untuk mencari daerah baru sebagai tempat tinggal dan mengembangkan keturunannya. Perintah ini disauti oleh Si Tamanajo dan langsung berpamitan kepada pemimpinnya Si Panjongan serta rombongan yang ditinggalkan.
Rombongan kecil yang dipimpin oleh Si Tamanajo ini meninggalkan Sulaa menyusuri pantai Buton menuju teluk Bungi Todanga (sekarang menjadi wilayah Kapuntori) kemudian yang disebutnya Lambelu dan memberi nama bentengnya Benteng Kamosope. Setelah perkampungan dan pembuatan benteng selesai, Si Tamanajo memerintahkan kepada rombongannya untuk membuat lubang pengibaran bendera kerajaan leluhurnya sama denga yang dikibarkan pemiminya di Sulaa yakni bendera Longa-Longa.
2) Kedatangan Armada Si Malui
Kedatangan manusia kedua di negeri Buton disebutkan dalam sejarah budaya Buton adalah manusia sakti bernama Si Malui dan adiknya bernama Si Baana serta pembantunya Si Jawangkati. Si Malui berasal dari negara Bumbu negeri Melayu Pariama, meninggalkan negeri asalnya pada lima belas hari bulan Sya’ban tahun 634 H. Sama seperti Si Panjonga, Si Malui membawa rombongan 40 orang kepala keluarga sebagai pengikutnya. Berbulan-bulai di kapal mengarungi lautan dan melewati daratan dengan menaiki sebuah bahtera dengan nama Popangua. Di buritan bahtera yang mereka tumpangi dikibarkan bendera kerajaan leluhurnya yang berwarna kuning hitam selang-seling dinamai bendera Buncaha.
Rombongan yang dipimpin oleh Si Malui terdampat di sebelah Utara Timur negeri Buton, hampir bersamaan dengan kedatangan Si Panjonga. Daerah pendaratan pertama di wilayah Kamaru dengan bentengnya yang disebut Wanco. Sama halnya Si Panjonga, Si Malui juga memerintahkan pembantu utamanya untuk mencari daerah dunia baru. Daerah yang dikunjungi Si Jawangkati atas permntaan Si Malui adalah wilayah yang diberi nama Wasuemba dan langsung mendirikn pemukimana dan benteng pertahanan yang diberi nama benteng Koncu di Wabula. Selanjutnya dibuatlah sebuah lubang untuk mengibarkan bendera di daerah Kamaru.
3) Terbentuklah Kampung Wolio
Kehadiran dua rombongan yang telah menempati 4 wilayah ini pun saling kenal mengenal an saling mengunjung. Ketika itu dibuatlah suatu kesepakatan untuk mengadakan musyawarah yang memutuskan untuk mendirikan perkampungan bersama yang di namai Batu Yi Gandangi. Ketua pelaksana Bandar perkapungan adalah Si Panjonga. Hinggga kini tempat Bandar perkampugan tersebut tetap diabadikan menjadi tempat makam pahlawan Ksatria Buton yaitu Laki La Ponto alias Murhum Raja Buton ke vi atau sultan Buton pertama. Selaku ketua pelaksana Bandar perkampungan, Si Panjonga berdiri di tengah-tengah kerumunan orang banyak sambil berteriak dalam bahasa Wolio dengan ucapan Welia, artinya buatlah perkampungan (we=buatlah; Lia=perkampungan). Ucapan Si Panjonga diabadikan menjadi nama wilayah kecamatan Wolio.
Mulai saat itulah Si Panjonga mulai bermukim di Batu Yi Gandangi atau yang saat ini disebut dengan Lele Mangura, tanpa seseorang pendamping atau seorang istri hingga akhir hayatnya seperti halnya pemimpin rombongan lain yang memiliki anak cucu di Buton.
b) Struktur Bangunan Rumah Panggung di Buton
Rumah panggung adalah rumah yang umumnya terbuat dari kayu bahkan samapai pasaknya yang tidak memiliki bahan besi misalnya paku atau pun sejenisnya.
Pada suku Buton, rumah panggung adalah sebuah rumah yang sudah cukup lama dipertahankan kelestariannya khususnya pada masyarakat Cia-Cia. Meskipun nama sama, pada masyarakat Buton rumah ini juga dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya. Adapun cara pembedaannya dapat dilihat dari struktur fisiknya, jika rumah tersebut berlantai dua berati pemilik rumah tersebut berkasta bangsawan (La Ode atau Wa Ode) sedangkan berlantai satu itu berati pemiliknya berkasta bawah (tapi-tapi). Namun, apapun bentuknya dari rumah tesebut seiring perkembangan zaman saat ini hampir sudah tidak bisa lagi di bedakan mana kasta atas dan mana kasta bawah karena saat ini rumah tersebut sudah tidak ada lagi rumah panggung yang berlantai dua dan umumnya yang ada saat ini hanyalah rumah panggung yang berlantai satu, hanya saja kasta tetap ada karena penggunaan nama setiap turunan tetap dilabelkan dengan gelar bangsawan.
Dalam pembuatan rumah ini dibutuhkan beberapa orang yang ahli (pande) dalam pembuatannya, karena tidak sembarang orang yang mengetahui cara pembuatannya. Di samping itu, harus ada orang tua yang mengetahui pale (pegangan rumah supaya tetap utuh dalam jangka waktu yang lama). Rumah panggung pada masyarakat ini di buat tanpa menggunakan besi atau paku sebagai penghubung antara satu kayu dengan kayu yang lainnya. Biasanya untuk mengganti paku sebagai penghubung kayu-kayu yang lain, para tukang membuat polahan kayu sedemikian rupaya yang di sebut kapaso. Waktu pembuatan rumah ini tergantung pada kelengkapan bahan-bahan yang disiapkan. Adapun bahan-bahan yang dipersiapkan antara lain:
a) Kayu
Karena rumah panggung pada dasarnya terbuat dari kayu jadi, untuk pembuatannya harus kayu yang tahan lama misalnya kayu jati, mahoni dan kayu-kayu lainnya yang kelas satu. Besar dan kecilnya pembangunan rumah tersebut tergantung banyaknya keluarga yang akan menempati rumah tersebut misalnya jumlah keluarga, anak-anak dan keluarga lainnya yang masih tinggal di rumah orang tua. Hal ini bisa dipahami melalui sudut pandang yang berbeda bahwa untuk orang Buton saat anak perempuan yang menikah maka suaminya harus mengikuti isrti tinggal rumah mertuanya sampai suami dari istrinya itu bisa membangun rumah sendiri.
b) Papan
Salah satu bahan dari rumah ini adalah papan di mana fungsinya sebagai dinding agar rumah tersebut mampu melindungi pengghuninya dari dinginnya malam dan panasnya sinar matahari serta ancaman lainnya. Biasanya hambatan paling besar saat membangun rumah ini terletak pada papannya karena harga satu papan saat ini senilai Rp 75.000 dan itu baru ukuran ketebalan yang tipis sehingga saat ini banyak masyarakat membangun rumah beton di bandingkan rumah panggung karena alasan tadi. Di samping itu, rumah tersebut saat ini sudah dijadikan sebagai gaya hidup pada masyarakat yang bersangkutan sehingga rumah-rumah panggung ini hanya di miliki oleh para tetua-tetua kampun (ompu).
c) Fungsi Rumah Panggung di Buton
Berbicara mengenai rumah yang berkaitan dengan manfaatnya tentunya hampir semua sama karena fungsi dasarnya rumah adalah sebagai tempat untuk berlindung dari ancaman-ancaman luar. Namun, perlu digaris bawahi meskipun fungsi utama rumah pada dasarnya sama tapi ada hal-hal lain yang membedakan seperti yang terlihat pada rumah panggung ini. Adapun manfaat rumah panggung bagi masyarakat Buton Cia-Cia antara lain:
a) Sebagai tempat berteduh
b) Sebagai tempat dalam melangsungkan keturunan
c) Tempat perkunjungan kerabat-kerabat dekat maupun jauh
d) Tempat penyimpanan hasil panen
e) Juga berfungsi penahan gempa maupun banjir
f) Dan lain-lain.
E. PENUTUP
a. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa kedatangan Mia Pata Miana di Buton menjadikan daerah tersebut memiliki penghuni hingga saat ini. Di samping itu, karena orang-orang terdahulu yang datang di Buton di kenal memiliki kesaktian mandraguna sehingga ilmu-ilmu tersebut hingga saat ini masyarakatnya masih melestarikannya meskipun dalam ke adaan kertutup.
Malige sebagai rumah adat tradisional Buton yang masih tetap tegak hingga saat ini, namun tak bisa di hindari bahwa kebanyakan masyarakat-masyarakat tersebut saat ini telah membangun rumah-rumah yang berhan semen dan material lainnya sebagai gaya hidup kekinian dan fungsi rumah tersebut berbeda pula dengan rumah adat sebelumnya karena meskipun ia dari kalangan bangsawan namun tetap dianggap masyarakat biasa di bandingkan mereka yang sebelumnya masyarakat biasa tapi karena sudah membangun rumah beton yang bertingkat maka merekalah yang dianggap tokoh penting dalam masyarakat.
b. Saran
Dari kesimpulan di atas maka penulis menyarankan bahwa sebaiknya masyarakat Buton meninggalkan hal-hal yang berbaur mistis yang diperoleh dari pendahulu-pendahulu sebelumnya karena saat ini sudah ada agama yang melarang atau mengharamkan ilmu-ilmu yang berbaur natural, sebab hal ini ia dapat dikatakan syirik karena telah menduakan Allah SWT bagi orang-orang yang beriman. Di samping itu, seharusnya rumah-rumah adat tetap dilestarikan atau dikembangkan agar ciri khas kebudayaan masyarakat tersebut tidak hilang akan keasliannya.
Sementara itu, janganlah karena perkemabangan zaman fungsi rumah adat telah bergeser nilai-nilai sosialnya karena telah diganti dengan rumah beton. Seharusnya, dengan adanya rumah tersebut tingkat kepedulian sosial kita semakin meningkat sebab ini, berati masyarakat bersangkutan telah mampu dalam bidang perekonomian.
Komentar
Posting Komentar