Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

SEJARAH MUNCULNYA DAN PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI LINGUISTIK (Antropologi Linguistik)

SEJARAH MUNCULNYA DAN PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI LINGUISTIK     Sejak kelahiran Antropologi sebagai sebuah ilmu, ahli dari Eropa yang meneliti masyarakat diluar Eropa (Asia, Afrika, Oceania, Amerika Latin) tertarik dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku. Bahkan pada fase awal perkembangan ilmu Antropologi, salah satu kajiannya tentang perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka warna bahasa yang diucapkan manusia di seluruh dunia.     Pada tahap awal ini, para ahli Eropa yang tertarik dengan bahasa suku dilakukan dengan cara ekspedisi, yaitu dengan melakukan observasi lebih banyak dan wawancara dengan menggunakan penerjemah.     Pada tahap baru (Bronislaw Malinowski), mengkaji bahasa suku Trobrian dengan cara observasi partisipasi`dan belajar bahasa lokal untuk wawancara dan untuk memahami budaya. Sehingga pada tahap ini, bahasa lokal itu adalah objek sekaligus alat penelitian.     Fokus kajian di atas melahirkan bi...

PENJELASAN TENTANG ANTI STRUKTUR: BATASAN DAN KOMUNITAS (Antropologi Simbolik)

ANTI STRUKTUR: BATASAN DAN KOMUNITAS Setelah mengadopsi pandangan prosesual tentang ritual dari Van Gennep, kemudian di seluruh karyanya berulang kali ini ia membahas pentingnya fase liminal sebagai perantara dalam ritual. Pada 1967, ketika Turner meninggalkan Cornell University untuk menjadi profesor pemikiran sosial dan antropologi di University of Chicago, dia sudah menerbitkan The Forest of Symbols (Turner 1967) dimana esainya yang diterbitkan ulang tentang Van Gennep menduduki sebuah tempat sentral. Kemudian datanglah publikasi The Drums of Affliction (Turner 1968a), sebuah karya yang tidak mengungkapkan inovasi teoretis tetapi menawarkan akun terperinci dari Ndembu. Kompleks ritual, diikuti oleh The Ritual Process (Turner 1969a). Ketiga buku-bukunya yang diterbitkan sangat inti dari pendekatan Turner terhadap ritual. Antara ini The Ritual Process, publikasi Turner Henry Morgan Lectures yang ia menyampaikan di University of Rochester pada bulan April 1966, yang paling penting, kar...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Pembagian Simbol oleh Victor Turner Beserta Contoh Dalam Kehidupan Masyarakat (Antropologi Simbolik)

Simbol dan Tanda Menurut Victor, simbol itu mewakili yang dibayangkan dalam kenyataan. Misalnya molulo pada masyarakat Tolaki. Dalam adat kebiasaan ini, para masyarakat nampak mambuat lingkaran sambil bergandengan tangan. Hal demikian tentunya menunjukan rasa persatuan pada masyarakat tersebut yang terjalin dengan baik antar sesama anggota masyarakat. Simbol dalam ritual terdiri atas dua yaitu: -    Simbol action (tindakan) -    Simbol artikel( bahan) 1)    Simbol action Adalah sebuah sembol yang menandakan kelakuan dalam ritual baik, ritual kematian maupun pesta. Conto hnya pada masyarakat Tolaki sebut saja molulo dalam memperingati hari kematian dan kelahiran akan berbeda (perlakuannya). Pada saat molulo dalam memperingati hari kematian, masyarakat yang paham dalam melakukan aktivitas tersebut terlihat sedih, raut wajah pucat kehitaman, dan terasa tidak bergairah dalam melakukan ritual tersebut. Sementara molulo dalam menperingati hari kela...

Pengalaman Kami Berkunjung ke Desa Jati Bali Kendari Sulawesi Tenggara (Multikulturalisme)

Assalamualaikum warrahmatulahi wabarakatu...! Minggu , 25 November 2018, saya dan teman-teman melakukan kunjungan di Desa Jati Bali dengan tujuan untuk melakukan penelitian di desa tersebut. Saat kami sampai di tempat tujuan ternyata yang melakukan penelitian saat itu bukan hanya mahasiswa antropologi tapi mahasiswa jurusan lain juga saat itu, melakukan penelitian di desa itu. Awalnya saya mengirah bahwa ketika sampai di lokasi penelitian, kami akan langsung penelitian tapi sesuai kebiasaan masyarakat Jati Bali di mana setiap mahasiswa yang melakukan penelitin di temapat itu, terlebih dahulu mereka dikumpul di balai desa. Kebiasaan ini juga dilakukan oleh para mahasiwa yang melakukan penelitian saat itu. Kami dikumpul di ruang pertemuan atau di balai desa bersama dengan jurusan lain. Disitu pula saya melihat wajah-wajah baru   yang sebelumnya belum dilihat. Karena saat itu, bukan hanya jurusan antropologi yang melakuka penelitian tapi jurusan pertanian juga melakukan penelit...

Hubungan Antara Bahasa dan Media kajian tentang Linguistik (Antropologi Linguistik)

  Bahasa dan Media Mediaa adalah salah satu cara yang paling banyak kita gunakan untuk mengakses informasi tentang dunia sekitar kita, dan sekaligus merupakan sumber dari sebagian besar kegiatan hiburan kita. Hubungan antara bahasadan media sangaterat. Penggunaan bahsa dalam media beranekaragam sesuai dengan kepntingan. Hubungan bahasa dan media seringkali digunakan untuk mencari kekuasaan guna memenuhi unsure kepentingan dan memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk mencapai kepentingan itu. Terkait dengan kepentingan dan pengruh tertentu tak luput juga akan kekuasaan. Media massa bergerak dalam masyarakat yang ditandai oleh adanya pentebaran kekuasaan yang berkaitan kepada individu, kelompok dan kelas social secara tidak semata. Media massa dalam beberapa hal berkaitan dengan struktur politik dan ekonomi yang ada. Disinilah dapat ditelusuri potensi media berhubungan dengan kekuasaan, di atas media dianggap memilik kosekuensi ekonomi dapat diperebutkannya control dan akses. Misa...

Hubungan Antara Bahasa dan Gender (Antropologi Linguistik)

Bahasa dan Gender Sebelum membahas penggunaan bahasa berbasis gender, perlu dibahas konsep tentang “gender” dan “seks”. Thomas dan Wareing (2007:106) menjelaskan bahwa seks adalah kategori biologis, sedangkan gender adalah kategori sosial. Seks merupakan ketegori biologis karena sejak sebelum seseorang lahir hal itu sudah terbentuk. Sementara gender merupakan pola-pola perlaku tertentu yang dilakukan oleh pria dan wanita. Disisi lain, konsep “gender” lebih mengarah kepada bentuk-bentk perilaku antara pri dan wanita yang mengakibatkan keduanya dipandang berbeda. Sebagai contoh, cara berpekaian, cara berbicara, dan bentuk pekejaan. Wardhaugh (2006:327) menyampaikan bahwa tingkah laku bahasa menunjukan dominasi laki-laki. Laki-laki mengunakan kekuatanya untuk mendiominasi. Laki-laki mencoba mengambil kontrol, menginterupsi, memilah-milah topik, dan sebagainya. Secara sosial pria dan wanita berbeda karena masyarakat menentukan peranan sosial yang berbeda untuk mereka, dan masyaraka menghar...

Pembahasan tentang Teori Feminisme Radikal (Antropologi Gender)

Teori Feminisme Radikal Teori ini berkembang pesat di Amerika Serikat pada kurun waktu 1960-an dan 1970-an. Meskipun teori ini hampir sama dengan teori feminisme Marxis-sosialis (memfokuskan diri pada hak-hak perempuan di ruang publik), teori ini lebih memfokuskan serangannya pada keberadaan institusi keluarga dan sistem patriarki. Keluarga dianggapnya sebagai institusi yang melegitimasi dominasi.   Feminisme radikal berpandangan bahwa : “penindasan atas perempuan terutama terjadi karena patriarki (dominasi laki-laki), yang berorientasi baik pada level keluarga dan pada harapan atas heteroseksualitas (keadaan dimana setiap manusia saat menikah harus berbeda jenis kelamin) wajib dan pada level budaya, di mana citra seksis (seksis secara sederhana dapat diartikan sebagai ungkapan yang memosisikan salah satu gender seks pada tataran subordinasi (inferior) atau idak setara) perempuan diobjektifkan sehingga menindas mereka”.   Feminis radikal berpandangan bahwa feminis perlu merunt...

Pembahasan Teori Ekofeminisme (Antropologi Genger)

Teori ekofeminisme Teori ekofeminisme muncul karena ketidakpuasan akan arah perkembangan ekologi dunia yang semakin bobrok. Teori ini mempunyai konsep yang bertolak belakang dengan tiga teori feminisme modern lainnya. Teori-teori feminisme modern berasumsi bahwa individu adalah makhluk otonom yang lepas dari pengaruh lingkungannya dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Sedang teori ekofeminisme melihat individu secara lebih komprehensif, yaitu sebagai makhluk yang terikat dan berinteraksi dengan lingkungannya (Ratna Megawangi, 1999: 189). Menurut teori ini, apa yang terjadi setelah para perempuan masuk ke dunia maskulin yang tadinya didominasi oleh laki-laki adalah tidak lagi menonjolkan kualitas femininnya, tetapi justeru menjadi male clone (tiruan laki-laki) dan masuk dalam perangkap sistem maskulin yang hierarkhis. Masuknya perempuan ke dunia maskulin (dunia publik umumnya) telah menyebabkan peradaban modern semakin dominan diwarnai oleh kualitas maskulin (Bahwa menurut teori...

Pembahasan Singkat tentang Feminisme Lesbian (Antropologi Gender)

Feminisme lesbian   merupakan feminis radikal, meski tidak semua feminisme radikal adalah separatis lesbian karena mereka menasihati perempuan untuk berpasangan hanya dengan perempuan. Yang tidak disukai feminisme radikal terhadap feminisme lesbian bahwa dari puluan tahu lalu merekalah yang melakukan menikan dengan sejenis jadi, mereka ingin melegalkan kalau dalam suatu keluarga harus sesama jenis.   Sebagaimana feminis liberal, feminis radikal berasumsi dan meyakini kapitalisme sebagai satu kerangka yang didalamnya feminis radikal melakukan kerja politis mereka dan menjalani hidup sebagaimana mereka hidup.   Feminis radikal menyalahkan dilema perempuan dalam patriarki’ yang mereka yakini berasal dari keluarga (tempat  di mana perempuan terjebak dalam peran tanggung jawab dan kewajiban mereka). Keluarga dianggapnya sebagai institusi yang melegitimasi dominasi laki-laki (patriarki), sehingga perempuan tertindas. Kaum feminis beranggapan bahwa keluarga adalah simbol pe...

Pembasan Singkat Tentang Feminisme Liberal (Antropologi Gender)

Feminisme Liberal Feminisme Liberal berkembang di Barat pada abad ke-18 (zaman pencerahan). Dasar asumsi : bahwa setiap manusia mempunyai hak asasi yang sama yaitu hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan kebebasan dan hak untuk mencari kebahagiaan.   Idenya : bahwa perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Agar persamaan antara hak laki-laki dan perempuan dapat terjamin pelaksanaannya, perlu adanya dasar hukum yang kuat.  Tujuan ini dapat tercapai  maka perjuangan di fokuskan pada perubahan segala undang-undang dan hukum yang dianggap dapat melestarikan institusi keluarga yang patriarkat. Kelompok ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total didalam semua peran termasuk bekerja diluar rumah. Dengan demikian tidak ada lagi suatu kelompok jenis kelamin yang lebih dominan. Organ reproduksi bukan merupakan penghalang terhadap peran-peran tersebut. Konsep utama teori feminis adalah menempatkan politik seksualitas sebagai isu sentral dalam pemahaman tenta...

Kajian Antropologi Linguistik di tinjau Bahasa dan Politik (Antropologi Linguistik)

Jika kita melihat hakikat bahasa sendiri secara umum didefinisikan sebagai alat komunkasi. Tetapi penjelasan tersebut kurang tepat, karena pertanyaan mengenai definisini juga harus menjawab dengan definisi dan bukan fungsi. Sebenarnya hakekat bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sebuah komponen yang berpola secara tetap dan dapa dikaidakan. Menurut pandangan sosiolinguistik bahasa itu mempunyai ciri sebagai alat mengidentifikasikan diri.   Sealain fungsi penggunaannya sebagai situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku menurut Gravin dan Matiot (1956:785-787) juga mempunyai funsi sosial politik yaitu fungsi pemersatu, pemisah, harga diri, kerangka acuan. Terlepas dari pendefinisian apa hakekat bahasa sebenarnya, maka pembahasan selanjutya kita akan menyinggung masalah topik utama yaitu “bahasa dan politik”. Bahasa dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Politikus harus menemukan cara-cara agar bisa mempengaruhi masyarakat dan mereka seringkali me...

Kajian Antropologi Linguistik ditinjau dari segi Bahasa, Pemikiran dan Representasi (Antropologi Lingustik)

Bahasa, Pemikiran dan Representasi Dari kutipan cerita yang di tampilkan oleh dosen pengampuh mata kulia, ini menggambarkan bahwa budaya yang satu selalu berbeda dari budaya yang lain sehingga sisuatu yang dianggap lazim oleh budaya yang satu (seperti misalnya bandul) belum tentu akan dianggap lazim oleh budaya yang lain. Kutipan di atas juga menunjukkan bahwa pembedaan dalam pengalaman dan persepsi antara dua budaya yang berbeda tetap bisa dikodekan lewat bahasa (coba perhatikan kata "jam" sama sekali tidak ada dalam kutipan di atas). Kita akan memulai dengan mendefinisikan bahasa sebagai sebuah sistem representasi dan kemuadian akan menguraikan tentang sejauh mana konsep bahasa sebagai sistem representasi ini berpengaruh terhadap pemikiran dan proses analisis yang kita lakukan. Teori Tanda dan Saussure Yang kami maksud dengan konsep adalah persepsi dalam benak anda tentang sesuatu, yaitu ide dari jam atau ide dari pohon yang bisa anda tampilkan dalam benak anda sendiri keti...