Langsung ke konten utama

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas

Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa.

Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep:

-    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman.
-    Ritus transisi, yakni berhubungan dengan peralihan dari satu kedudukan ke kedudukan yang lain.
-    Ritus inkroporasi, yaitu ritus ini biasanya terjadi pada upacara perkawinan.

Dapat disimpulkan bahwa ritus di atas menggambarkan sebuah upacara peralihan dari kematian, kelahiran dan sampai inisiasi.

Di lain pihak menurut Van Gennep menyebut ritus spesialisasi atau peralihan dalam pasca liminal. Penemuan Van Gennep berbeda dengan penemuan oleh Victor Turner khususnya pada liminal.

Menurut Van Gennep, ritus-ritus yang mengiringi tahap setiap perubahan tempat, keadaan, status soial, dan umur. Ia membagi hal tersebut  ke dalam tiga faktor yaitu pemisahan, liminal, aggregation. Sementara oleh Turner membagi ritus spesialisasi juga kedalam tiga faktor yaitu separasi, liminal, dan reintegration.

Namun, ada perbedaan pandangan antara Van Gennep dan Victor Turner mengenai spesialisasi yaitu:

o    Van Gennep melihat pada diri individu yang lebih menekankan perubahan luar yakni status sosial yang dilengkapi oleh ritus-ritus misalnya pada ritus kematian. Tentunya hal demikian menggambarkan bahwa seseorang yang meninggal tadi akan berganti status sosial dari hidup ke mati. Sedangkan Victor Turner melihat pada diri individu dimana yang lebih ditekankan pada perubahan-perubahan batin, moral, dan kognitif yang terjadi pada diri individu tersebut. jadi Victor Turner lebih melihat bagaimana perubahan batin, moral, kognitif saat seseorang mengalami liminalitas.

o    Van Gennep melihat liminal lebih pada keadaan sosial liminalitas. Artinya ia lebih melihat bagaimana keadaan liminalitas itu pada masyarakat. Sementara Victor Turner lebih menekankan pada denkotruktif (penggalian kembali kebudayaan) dan rekontruktif (penyusunan kembali kebudayaan) dari ritus itu.
 

Liminoid (waktu senggang)

Definisi liminoid sama halnya dengan liminalitas artinya sama-sama ambang pintu yang tidak di sana juga tidak di sini. Namun dalam hal ini, Victor Turner menggunakan istilah ini untuk melihat bagaimana perkembangan masyarakat industri, baik sebelum maupun sesudah.

Dalam hal ini liminoid lebih tererikat oleh peraturan-peraturan organisasi atau perusahaan, di mana individu tersebut harus mematuhi budaya yang ada dalam perusahaan itu. Yang dilihat pada diri individu saat ia memiliki waktu senggang  atau waktu libur. Hal demikianlah dapat dikatakan ia mengalami liminoid karena akan terlihat berbeda saat bekerja dan berlibur bersama keluarga. Contohnya sesorang yang bekerja di perusahaan industri seperti yang ada di Amerika. Saat mereka mendapatkan waktu senggang biasanya mereka gunakan waktu tersebut untuk berlibur di tempat lain bahkan sampai ke negara lainnya. Jadi, kalau masyarakat industri biasanya mereka mempergunakan waktu senggang sebaik muingkin untuk refresing diri. Sementara pada masyarekat pra industri biasanya waktu senggangnya tak dapat diketahui contohnya pada masyarakat nelayan. Biasanya pekerjaan seperti ini tidak ada penekanan dari pihak lain untuk tuntuk bekerja pada waktu yang telah ditentukan tetapi semau mereka dalam menjalani pekerjaan ini. Artinya kalau mereka ingin melaut hari ini maka mereka akan melaut tapi kalau tida, ya tidak juga maksudnya tak ada pihak yang mengikat mereka untuk bekerja.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa liminod pada masyarakat pra-industri tidak ada keterkaitan oleh peraturan dari pihak lain sementara liminod pada masyarakat post-industri adanya keterkaitan oleh peraturan organisasi atau perusahaan. Namun, perbedaan antara liminoid dengan liminalitas terletak pada di mana hal demikian diterapkan. Artinya liminod bersifat terikat dan terbatas sementara liminalitas terikan dan tidak terbatas.  
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Makalah Tentang Antropologi Politik (Antropologi Politik)

ANTROPOLOGI POLITIK OLEH: LA ODE ACO 28 MEI 2019 PART I: TERBENTUKNYA ANTROPOLOGI POLITIK  Dalam aspek pertama ini merupakan upaya untuk mentransedensi pengalaman-pengalaman dan doktrin-doktrin politik terentu. Ke arah pembentukkan sebuah pengetahuan ilmiah tentang politik, yang memandang makhluk manusia sebagai homo politikus dan mencari peralatan umum dari semua organisasi politik dalam berbagai keragaman geografis maupun sejarahnya. Dalam aspek kedua, antropologi politik adalah sub-devisi dari antropologi sosial atau etnologi. Ini memusatkan perhatiannya pada deskripsi dan analisa tentang sistem politik yang terdapat pada masyarakat yang di anggap primitif atau arkahik. Sebagai sebuah disiplin yang menyandang status sebagai pengetahuan ilmiah Montesqueu mengembangkan istilah oriental despotism, tempat yang diberikan untuk masyarakat-masyarakat sebagai sebuah kelas bagi dirinya sendiri, dan yang menampilkan dirinya pula sebagai satu dari yang dikenal oleh Eropa. Antropo...