Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner
Tiga Dimensi Arti Simbol
Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain.
Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a) multivokal, artinya simbol memiliki banyak arti, menunjuk pada banyak hal, pribadi atau fenomena. Hal ini menunjukkan bahwa betapa kaya makna simbol ritual, (b) polarisasi simbol yaitu karena simbol memiliki banyak arti sehingga sering ada arti simbol yang bertentangan. Dalam hal ini Victor Turner memfokuskan pada dua kutub yang berbeda yaitu secara fisik atau indrawi dan kutub ideologis dan atau normatif. Kutub pertama disebut orektik, kutub kedua disebut normatif. Dua kutub, orektik dan normatif mengungkapkan level bahwa apa yang diinginkan dan level apa yang diwajibkan. Misalnya, pohon mudyi (pohon susu) merupakan simbol yang dominan di dalam ritus Nkang’a (ritus yang ditujukan pada wanita puber). Simbol pohon susu ini mempunyai arti bahwa buah dada, yang berhubungan dengan susu dan proses menyusui. Arti-arti ini membangkitkan keinginan-keinginan dan perasaan-perasaan khusus. Ini menunjukkan pada kutub fisik atau indrawi (orektik). (c) unifikasi, yang berarti memiliki arti penyatuhan. Ciri khas simbol-simbol ritual adalah unifikasi dari arti-arti yang terpisah. Penyatuhan ini menjadi mungkin karena adanya sifat yang sangat umum dan mirip. Di sisi lain, bahwa simbol-simbol berpartisipasi dalam kekuatan dan keutamaan yang ditampilkan oleh simbol-simbol tersebut.
Selanjutnya Victor Turner menunjukkan tiga dimensi arti simbol. Pertama, simbol eksegetik arti simbol. Dimensi ini meliputi penafsiran yang diberikan oleh informan asli kepada peneliti. Eksegensinya meliputi apa yang dikatakan informan mengenai simbol atau dapat mengambil dari cerita-cerita naratif.
Victor Turner membedakan antara tiga dasar arti eksegetik dari simbol-simbol ritual yaitu dasar nominal, substansial dan arti faktual. Dasar nominal adalah dasar yang memberikan nama pada simbol, atau keberadaan dari mana simbol itu berasal. Dasar substansial terdiri atas sifat-sifat alamiah. Dasat arti faktual ditampilkan dengan objek simbol, karya seni manusia sendiri dan digunakan dalam konteks ritual. Dasar ini dihubungkan dengan tujuan ritual diadakan. Kedua, dimensi oprasional. Dimensi ini meliputi tidak hanya penafsiran yang diungkapkan secara verbal, tetapi juga apa yang ditunjukkan pada pengamat dan peneliti. Dalam hal ini simbol perlu dilihat dalam rangka bagamana simbol-simbol ini digunakan. Misalnya ekspresi-ekspresi apa saja yang muncul sewaktu simbol-simbol ini digunakan seperti kegembiraan, kesedihan atau ketakutan.
Ketiga, dimensi poposional menjelaskan arti simbol-simbol itu bersal dari hubungan atau ada relasinya denga simbol-simbol lain. Beberapa arti simbol, dengan demikian menjadi relevan, apabila pada ritus tertentu salah satu simbol ditekankan, sedangkan pada ritual lainnya tidak ditekankan meski dipakai. Semua ini berhubungan dengan tujuan ritus ini diadakan (Victo Turner dalam Winangun, 1990: 19-20).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...
Komentar
Posting Komentar