Langsung ke konten utama

Mengidentifikasi Permasalah-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Gerak Makmur (Antropologi Konflik)

 Oleh:
La Ode Aco


BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang

Suku Buton adalah salah satu etnis yang mendiami wilayah kekuasaan kesultanan Buton. Seperti suku-suku yang ada di Sulawesi kebanyakan, suku Buton juga merupakan suku pelaut. Orang-orang Buton sejak lama merantau keseluruh pelosok Nusantara dengan menggunakan perahu dengan berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat sekita 150 ton.

Kepulauan Buton saat ini telah terbagi menjadi beberapa kabupaten di antaranya Kabupaten Buton Utara, Buton Tengah, Buton Induk dan Buton Selatan. Adapun fokus pengkajian dalam makalah ini tentang pembangun masyarakat yakni pada masyarakat Buton Selatan.

Di Kabupaten Buton Selatan atau biasa disingkat Busel terdapat tujuh kecamatan salah satunya Kecamatan Sampolawa. Dalam Kecamatan Sampolawa juga tedapat beberapa kampung yakni kampung Tira, Bahari, Gunung Sejuk, Rongi, Hendea, Wawoangi, dan Lande. Di antara desa tersebut, penulis akan lebih memfokuskan pada masyarakat Lande tepatnya  di Desa Gerak Makmur.
Masyarat Gerak Makmur merupakan salah satu masyarakat yang masih mempertahankan kebudayaan. Hal ini karena, dalam keseharian masyarakat tersebut masih menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah. Tidak seperti pada masyarakat yang hidup di kecamatan rata-rata sudah hampir meninggalkan bahasanya sendiri. Hali ini di buktikan melalui pengamatan awal bahwa pada masyarakat tersebut  khususnya para generasinya sudah jarang menggunakan bahasa Indonesia secara umum. Adapun yang menggunakan bahasa daerah sendiri hanya pada kalangan orang tua.

Dalam makalah ini penulis akan mengajak pembaca untuk melihat apa-apa yang menjadi permasalahan yang ada di desa Gerak Makmur dan bangaimana solusi agar permasalah yang ada dapat terpecahkan hingga berdampak pada pembangunan suatu desa.

1.2    Rumusan Masalah

1)    Apakah permasalah-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Gerak Makmur?
2)    Program kerja apa saja yang harus di terapkan di desa tersebut?
3)    Bagaimana pemecahan masalah masalah-masalah tersebut dan solusinya agar dapat menjamin kemajuan suatu desa?

1.3    Tujuan

1)    Untuk mengetahui permasalah-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Gerak Makmur?
2)    Untuk mengetahui pemecahan masalah-masalah tersebut dan solusinya agar berdampat pada kemajuan suatu desa?







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Permasalah-Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Gerak   Makmur

Desa Gerak Makmur merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Samapolawa kab. Buton Selatan. Dalam desa tersebut terdapat 4 (empat) dusun yakni dusun I berada dibagian ujung desa Gerak Makmur, dusun II dibagian pasar desa Gerak Makmur, dusun III dibagian tengah, dan dusun IV dibagian pemakaman desa Gerak Makmur.

Bagian-bagian dusun yang ada dalam desa tersebut masih belum terlihat jelas karena para aparat desa belum membuat sebuah program kerja berupa tapal batas masing-masing dusun sehingga bagi pendatang baru yang memasuki desa tersebut akan kesusahan mengetahui setiap dusun yang ada. Disamping itu, desa tersebut masih terlihat kotor dan banyak sampah-sampah berserakan di tempat perairan sehingga masi jauh dari kata bersih . Artinya bahwa masyarakat masih memiliki kebiasaan membuat sampah di laut sehingga wilaya perairan desa tersebut masih tercemar akan sampah-sampah baik dari pabrik maupun rumah tangga.

Kebiasaan masyarakat tersebut hingga saat ini masih di lakukan oleh kebanyak masyarakat. Mereka beranggapan bahwa laut merupakan tempat pembuangan sampah yang aman. Pada hal tanpa mereka sadari bahwa sampah-sampah yang mereka buang di laut akan di bawah arus dan digiring ke ujung desa tersebut. Karena di bagian ujung desa tersebut terdapat pohon bakau sengga sampah-sampah yang sudah berada di laut akan berkumpul di tempat tersebut.
Alasan mengapa semua sampah bertumpukan di tempat tersebut karena saat gelombang laut menggiring sampah di tempat tersebut maka sampah tersebut akan sulit digiring kembali karena tertahan oleh pohon bakau sehingga sampah yang ada akan terus berada di tempat tersebut dalam waktu yang cukup lama hingga adanya kesadaran masyarakat bersangkutan dalam membersihkannya. Selain masalah lingkungan, masyarakat juga memiliki masalah sendiri dalam menunjang kehidupan misalnya pencarian nafkah dan lain-lain.  

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Gerak Makmur saat ini dipicu oleh pemerintahan desanya yang menjalani roda pemerintahan yang tidak merata. Seperti aparat-aparat desa lebih didominasih oleh pihak-pihak tertentu.  
Pihak-pihak yang memdominasi aparat desa lebih bersifat dinasti kekeluargaan. Artinya bahwa yang menduduki jabata-jabatan desa terkait erat dalam hubungan kekerabatan. Sedangkan mereka yang tidak terkait hubungan kekerabatan dianggap kurang penting dalam menduduki jabatan tersebut. Akibatnya, informasih-informasi yang penting hanya diketahui oleh gelitir orang saja tidak ketahui secara menyeluruh sehingga pada masyarakat tersebut masih jauh dari kata sejaterah.
Masyarakat yang tidak termasuk dalam kelompok aparat desa mereka hidup lebih mandiri tanpa campur tangan dari pemerintaha desanya. Banyak wirausaha-wirausaha kecil maupun menengah berusaha agar bisa menghidupi istri dan anak-anak. Salah satu usaha yang mereka geluti di anataranya bekerja sebagai nelayan dan bercocok tanam.
Pada dasarnya dominasih masyarakat nelayan pada masarakat tersebut lebih banyak dari pada masyarakat yang bekerja di perkantoran misalnya aparat desa, pegawai negeri, maupun instansi lainnya. Meskipun seperti itu, pendominasian masyarakat tersebut hanya terlihat dari segi fisik dan lemah akan pegetahuan.

Dalam masyarakat tersebut, yang tergolong sebagai nelayan sangat mudah ditebak misalnya kulit sawo matang pekat, mata kemerah-merahan, muka terlihat gelap, rambut aca-acakan, urat-urat lebih kentara, dan hanya mementingkan mencari nafkah. Faktor utama yang mempengaruhi ciri fisik masyarakat nelayan tersebut karena hasrat mencari nafkah yang berlebihan “bisa dibilang tidak ada hari selain melaut”. Artinya bahwa pekerjaan tersebut sudah menjadi rutinitas sehari-hari.
Selain itu, perahu yang digunakan oleh masyarakat nelayan yang ada di desa Gerak Makmur tergolong kurang memadai. Artinya bahwa perahu tersebut hanya bisa memuat dua sampai tiga orang saja. Karena jarak tempuh penangkapan ikan lebih jauh dibandingkan dengan kualitas perahu yang digunakan sehingga mereka harus menerima resiko saat di tengah laut misalnya menahan terik matahari, hujan, badai, gelombang, kekurangan bekal, tenggelam dan kematian. Meskipun demikian, masyarakat tersebut masih tetap menjalannkan profesinya sebagai nelayan.

Selain masyarakat nelayan kesenjangan sosial ini juga didapat oleh masyarakat petani. Dalam masyarakat tersebut, lahan yang mereka olah termasuk tanah kelahiran sendiri sehingga pemanfaatan terhadap lahan tersebut kurang mendapatkan hasil yang memuaskan. Hal ini dikarenanakan kurangnya dukungan dari pemerintahan desa dalam memberikan bantuan bagi pekerja di sektor pertanian. Selain itu, masyarakat yang tergolong sebagai petani sebagian besar kurang berpendidikan sehingga pengolahan lahan yang mereka olah hanya untuk kebutuhan sehari-hari bisa dibilang perekonomiannya masih subsistem.
Pemerintahan desa Gerak Makmur saat ini lebih mementingkan bagaimanan membangun desa tersebut dengan baik ketimbang memberikan pelayanan bagi masyarakatnya sendiri. Pembangunan tersebut misalnya pasar, yang biasa masyarakat setempat mengadakan jual beli antarsesama masyarakat. Selain itu, jalan semakin dimuluskan agar pengguna nyaman dalam berkendaraan. Namun menurut sudut pandang penulis. Hal itu hanya akan diuntungkan oleh beberapa pihak sementara bagaimana dengan mereka hanya mengandalkan laut atau pertanian. Harusnya pemerintahan desa lebih mementingkan masyarakat yang bekerja di sektor-sektor tersebut. Karena dominasi masyarakat petani dan nelayan lebih banyak dibandingkan para pegawai. Selain itu, bukankah pemerintah itu selalu  mengutamakan kesejahteraan masyarakatnya.

2.2 Program Kerja yang Harus Dijalanankan pada Masyarakat
 

Adapun program kerja yang harus dilasanakan pada masyarakat di Desa Gerak Makmu di antaranya:

a)    Pembuatan Tapal Batan Dusun

Pembuatan tapal batas merupakan kegiatan yang harus dilaksakan oleh pihak pemerintah desa maupun masyarakat agar mereka tahu secara jelas bagian dusun yang mereka kuasai. Selain itu, jika ada yang berkunjung di desa tersebut mereka tidak akan kerepota saat mencari alamat yang akan ditujuh. Pendanaan dalam pembuatan tapal batas ini sepenuhnya akan menggunakan dana desa karena kegiatan yang dilakukan salah satu tujuan dalam pembangunan desa.

b)    Sosialisasi Tentang Kebersihan

Secara harfiah masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota selalu memikirkan bagaiamana memanfaatkan alam agar bisa mempertahankan hidup. Bagi masyarakat Gerak Makmur pikiran akan kebersian lingkungan hanya dianggap sesuatu yang kurang penting terkecuali dilingkungan rumah masing-masing. Lingkungan terbuka dianggap tempat yang paling aman dalam membuang berbagai sampah. Dari pemikiran tersebut maka sosialisasi kebesihan sangat lah penting dilakukan agar masyarakat tahu pentingnya kebersian. Pihak donatur akan mendatangkan ahli ekologi lingkungan agar masyarakat paham bahwa lingkungan terbuka sangat penting untuk dijaga bukan untuk dicemari.

c)    Sosialisi Pembuatan Pupuk dari Limba Sapi

Masyarakat tersebut sangat jarang menggunakan pupuk buatan, mereka lebih menggunakan pupuk yang dari bahan kimia dalam kesuburan tanamannya. Pada hal desa tersebut banyak hewan-hewan karnivora yang hidup di desa tersebut namun pemanfaattan libah hewan tersebut masih kurang untuk dilakukan karena kurangnya pengetahuan sehingga sosialisasi tentang pembuatan pupuk buatan sangan diperlukan untuk kemampuran masyarakat terutama mereka yang menggantungkan hidup dalam lingkungan pertanian.

2.3 Pemecahan Masalah-masalah dan Solusi agar Menuju pada Kesejahteraan Masyarakat

Berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Gerak Makmur saat ini bukan lagi hal-hal yang biasa tapi sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah maupun pemikir antropologi agar masalah tersebut bisa dipecahkan dan melahirkan solusinya.
Adapun pemecahan masalah dan solusi masalah tersebut antara lain:

1)    Terutama harus dilahirkan dari pihak pemerintah desa itu sendiri karena seorang pemimpin harus mampu mempertanggu jawabkan para rakyatnya.

2)    Pembagian perangkat desa harus seimbang dan jangan berat sebelah karena setiap kelompok hanya akan mementingkan kelompoknya sendiri.

3)    Dana desa yang dikeluarkan harus sesuai apa yang dibutuhkan oleh masyarakat bersangkutan.

4)    Jangan hanya karena pekerjaan lupa akan masyarakat sendiri selain itu,

5)    Pihak pemerintah marus mampu bergaul atau bermasyarakar agar para warga mendapatkan kesan yang baik bukan malah sebaliknya.

6)    Tidak menggunakan bahasa-bahasa yang berlebihan misalnya istila ilmiah

7)    Bagi pemerintah tidak ada prioritas lain selain kesejahteraan masyarakatnya dan lain-lain.

     
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah dikemukakan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pemerintahan desa masyarakat Gerak Makmur masih belum cukup berhasil dalam mensejaterahkan masyarakat yang dipimpinnya. Hal ini perlunya pengawasan khusus dari pemerintahan daerah agar setiap dana yang disalurkan dalam masyarakat bersangkutan bisa dijalankan sesuai mestinya tanpa ada penyalagunaan.

3.2 Saran

Dari kesimpulan di atas maka penulis menyarankan bahwa sebaiknya pemerintahan desa lebih memerhatikan kebutuhan masyarakatnya karena kata sejaterah itu dimana masyarakat terbebas dari belengguh hidup sengsarah. Selain itu, dibangunnya hubungan kekeluargaan antara pemerintah desa dengan warganya sendiri aga mereka tidak memilki rasa sungkan terhadap pemerintannya sendiri juga pembagian aparat-aparat desa seharusnya lebih netral agar setiap perwakilan setiap kelompok dapat dengan mudah menginformasikan informasi-informasi pada kelompoknya jika ada penyampaian penting dari pemerintahan desa misalnya kerja bakti dan lain-lain.
    





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...