Langsung ke konten utama

Pemanfaatan Kebun Raya Kendari terhadap perekonomian masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan Nanga-Nanga

 KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT, karena atas perkenannya laporan tentang “ Mangfaat Pengembangan Kebun Raya Kendari Terhadap Perekonomian Masyarakat Nanga-nanga” terselesaikan tepat pada waktunya.
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai perekonomian masyarakat Nanga-nanga terhadap pengemabangan Kebun Raya Kendari yang ada di Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Kami sadar dalam pembuatan laporan ini masih jauh dari kata sempurna karena masih banyak kekurangan baik dari cara penulisan laporan maupun susunan katanya. Maka dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan dari pembaca agar kedepannya dalam penulisan laporan kami akan lebih baik lagi.



Kendari,       Desember  2019


Penulis








DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR    i
DAFTAR ISI    ii    
BAB I PENDAHULUAN    
1.1    Latar Belakang    1
1.2    Rumusan Masalah    2
1.3    Tujuan Penelitian    2
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Teori Ekologi    3
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian    5
3.2 Waktu Penelitian    5
3.3 Sumber Data Penelitian    5
3.4 Pengumpulan Data    6
3.5 Dokumentasi    6
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Definisi Kebun Raya Kendari    8
4.2 Dampak Perekonomian Masyarakat Nanga-Nanga terhadap Pengembangan Kebun Raya Kendari    10
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan    18
5.2 Saran        18
DAFTAR PUSTAKA    19
Daftar lampiran:
Lampiran I: Foto Bersama dengan informan Pertama
Lampiran II: Foto Bersama dengan informan Kedua
Lampiran III: Gambar Menara Pandang dan Taman Pakuli























BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan suatu wilayah di Indonesia selalu diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan perekonomian. Dalam sebuah pertumbuhan ekonomi selalu melihat suatu arahan menuju lebih baik lagi. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses kenaikan kapasitas dalam suatu produksi sehingga suatu pertumbuhan ekonomi dikatakan berhasil itu dilihat dari hasil perekonomiannya.
 
Seperti pada masyarakat Papalia yang tinggal di kawasan hutan nanga-nanga saat ini. Sistem perekonomian masyarakat tersebut teleh berahli dari sektor hutan ke kesektor usaha. Hal ini di sebabkan karena masuknya program pemerintah dalam kawasan tersebut sebagai hutan konservasi, wisata dan jasa lingkungan.

Semenjak berdirinya kebun raya kendari, penambangan serta penebangan secara ilegal menjadi berkurang. Selain itu, kondisi lahan Ultra Basic berupa bantuan dari pemerintah menjadi rusak akibat kegiatan penambangan dan penebangan ilegal perlahan bisa dipulihkan.

Kebun raya yang mulai dirintis sejak tahun 2009, sesuai dengan tujuan pembangunannya. Kawasan kebun ini menjadi lahan untuk mengonservasi berbagai jenis tumbuhan dan ekosistemnya khususnya tanaman ultrabasah sesuai dengan tema koleksi kebun raya kendari. Selain itu, kebun ini juga menyediakan sarana dan prasarana pendukung pendidikan dan penelitian sebagai laboratorium alam kota Kendari dan sekitarnya. Juga menjadi kawasan destinasi wisata yang sehat, nyaman dan edukatif.
Dengan adanya Kebun Raya Kendari, masyarakat yang hidup di lingkungan tersebut lebih mudah dalam mencari nafkah. Yang sebelumnya sering memanfaatkan hasil hutan sebagai kebutuhan rumah tangga. Tetapi saat ini, masyarakat telah membangun kios-kios kecil untuk kebutuhan hidup dengan harapan pengujung sebagai besik utama peningkatan perekonomian.
Dari penjelasan di atas maka peneliti mengangkat tema dengan judul “Dampak Pengelolaan Kebun Raya Kendari Terhadap Perekonomian Masyarakat Papalia Yang Hidup di Kawasan Hutan Nanga-Nanga.

1.2 Rumusan Masalah

a) Bagaimana Pemanfaatan Kebun Raya Kendari terhadap perekonomian masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan Nanga-Nanga?
b) Bagaimana perekonomian masyarakat khusnya yang hidup dalam kawasan hutan Nanga-Nanga terhadap pengelolaan Kebun Raya Kendari?

1.3 Tujuan
    
a) Untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkan pengolahan Kebun Raya Kendari terhadap masyarakat yang hidup dalam kawasan hutan Nanga-Nanga.
b) Untuk mengetahui perekonomian masyarakat khusnya yang hidup dalam kawasan hutan Nanga-Nanga terhadap pengelolaan Kebun Raya Kendari.















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Teori Ekologi

Dalam analisis struktur sosial dan kebudayaan terhadap manusia dengan lingkungannya maka konsep adaptasi menjadi poin penting dalam pengembangan penelitian antropologi ekologi. Hal demikian penting karena hubungan manusia dengan lingkungan bisa dilihat dari dua sisi yang saling bertolak belakang antara satu dengan yang lain. Yaitu bisa dilihat dari sisi manusia dengan kebudayaan dan sisi lainnya didasari oleh  perspektif yang mendasari cara berfikir dalam mengkji hubungan manusia dengan lingkungannya. Adapun Paradigma demikian dinamakan determinisme dan posibilisme.Dan dari kedua pradigma tersebut peneliti lebih tertarik pada perspektif posibilisme dalam menganalisis peneltian yang akan dibangun.



























BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini berada di Desa Nanga-nanga, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Kami mengambil lokasi penelitian ini di karenakan, ini sesuai dengan judul dan lokasi yang di berikan kepada dosen kami, dan menurut kami ini tempat yang tepat untuk mencari informan dan mendapatkan data terkait judul penelitian yang kami sudah rancang.

3.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini di laksanakan pada hari kamis, 28 November 2019. Dalam waktu tersebut kami memanfaatkan dengan baik sehingga data yang diperoleh sesuai rumasan yang kami ajukan.

3.3 Sumber Data Penelitian

Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari narasumber penelitian, data tersebut diambil langsung oleh peneliti kepada sumber secara langsung melalui responden. Yang hal pentin sat melakukan wawancara yakni Kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau yang diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman audio data diperoleh melalui wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Sumber data primer pada penelitian ini adalah melalui pengamatan secara langsung di lingkungan kawasan hutan Nabnga-nanga atau lebih tepatnya di Kebun Raya Kendari. Sedangkan untuk data tambahan, peneliti mencari dan mendokumentasikan berbagai data dari sumber lain misalnya melalui buku ataupun internet.

3.4 Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi adalah metode pengumpulan data, peneliti mencatat hasil informasi sebagaimana yang disaksikan selama penelitian. Observasi melibatkan dua komponen utama yaitu si pelaku observasi dan obyek yang akan diobservasi.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi non pasrtisipan dimana peneliti mengamati  secara langsung keadaan obyek, tetapi peneliti tidak aktif dan ikut terlibat dalam aktifitas yang mereka lakukan. Beberapa hal yang menjadi obyek observasi dalam penelitian ini diantaranya mencakup tentang keadaan hutan Nanga-nanga atau Kebun Raya Kendari serta cara mengelola kawasan tersebut.

2.      Wawancara Mendalam

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan kepada narasumber, dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Wawancara secara umum terbagi menjadi dua, yaitu: wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur memiliki arti bahwa wawancara yang dilakukan dimana pewawancara telah menetapkan sendiri masalah-masalah yang akan diajukan sebagai kepada narasumber. Sedangkan wawancara yang tidak terstruktur merupakan wawancara yang memiliki ciri yang kemabalikan dari wawancara terstrktur.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara  terstruktur. Maka saat melakukan wawancara, peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada informan sesuai judul yang telah diajukan. Namun, pada pelaksanaannya nanti akan disesuaikan dengan keadaan informan.

3.5 Dokumentasi
 
Saat melakukan penelitian, peneliti akan mengambil gambar berupa dokumentasi dari objek yang akan diteliti sebagai bukti grafik agar tujuan peneltian tercapai. selain itu, akan dijdika seagai data tamahan yang mendukug penelitan yang dibangun.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Definisi Kebun Raya Kendari
Kebun Raya Kendari adalah kawasan hutan lindung yang dijadikan sebagai destinasi wisata. Selain itu, dalam kawasan hutan tersebut terdapat tumbuhan secara ex situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion kombinasi dari pola-pola tersebut untuk tujuan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan.
 
Semenjak berdirinya Kebun Raya Kendari, penambangan serta penebangan secara ilegal menjadi berkurang. Dengan kehadiran Kebun Raya Kendari, kondisi lahan yang berupa batuan Ultra Basic dan rusak akibat kegiatan penambangan dan penebangan ilegal perlahan bisa dipulihkan.

Dibangun di atas lahan kawasan hutan dengan luas kurang lebih 96 hektare, 18 diantaranya sebagai kawasan hutan lindung dan 78 hektar sebagai kawasan hutan produksi tetap. Kebun ini memiliki kekayaan koleksi tumbuhan diantaranya 1.747 koleksi pembibitan, 1.647 koleksi non anggrek dan 120 koleksi anggrek. Di sini juga terdapat taman tematik seperti taman pakuli, taman etnobotani dan taman ultrabasah.

4.2 Pengembanga Perekonomian Masyarakat Nanga-Nanga terhadap Pengembangan Kebun Raya Kendari

Pada masyarakat yang hidup dilingkungan hutan Nanga-nanga, awalnya “Menurut cerita. Dulu masyarakat di daerah ini siang dan malam sering melakukan penebangan liar (tambang sirtu), penambangan batu lapis dan pembalakan kayu ilegal yang sangat merusak lingkungan.” ucap Kepala UPT Kebun Raya Kendari Abdul Gafar, Selasa (22/10/2019).

Gafur menambahkan, aktivitas perusakan lingkungan tersebut berangsur-angsur tidak terjadi lagi setelah adanya penggagasan Kebun Raya Kendari sejak 2009 sehingga aktivitas yang mengancam lingkungan tersebut mulai terkontrol. Selain itu, dalam proses pembangunanya, Kebun Raya Kendari terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu pembangunan tahun 2016, tahun 2017, dan tahun 2020. Hal demikian sebagaiamana pernyataan Reni Safitri (27 thn) salah satu masyarakat yang tinggal disekitar kawasan Kebun Raya Kendari mengatakan bahwa:

“...Sebelum adanya Kebun Raya Kendari, masyarakat masih leluasa memanfaatkan hutan di kawasan tersebut seperti pemanfaatkan kayu, batu, air, pasir dan lain sebagainya sebagai sumber perekonomian keluarga. Akan tetapi setelah masuk program pemerintah terkait wisata dikawasan tersebut maka masyarakat tidak lagi leluasa dalam memanfaatan sumber daya alam yang ada dalam hutan tersebut.”

Masyarakat Nanga-nanga sebelumnya sangat bergantung pada kawasan hutan. Dalam hal ini perekonomian rumah tangga sangat ditentukan oleh pemanfaatan hutan mulain dari kayu, batu,air, pasir dan lain sebagainya. Sumber daya tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sangat mudah dan bahkan tidak ada hukum yang mengatur pemanfaatan tersebut. Namun setelah masuknya program pemerinta, masyarakat yang hidup disekit hutan Nanga-nanga mulai kesulitan dalam mencarin nafkah. Mereka yang sebelumnya sering memanfaatkan hutan harus mecari alternatif lain agar bisa menghidupi keluarganya. Sebagaimana pernyataan Bu Reni bahwa:

“...Masyarakat saat ini berali pekerjaan yang dulunya lebih didominasi kaum pria dalam mencari nafkah, sekarang para ibu yang mencari nafkah.  Para ibu disini sudah membangun kios-kios kecil disekitar Kebun Raya Kendari.”

Pengelolahan kawasan hutan yang dilakukan oleh masyarakat Nanga-nanga sebelumnya menjadi basis utama dalam penunjang perekonomian. Namun semenjak adanya tempat wisata, kawasan hutan Nanga-nagan telah menjadi konservasi sebagai hutan lindung sehingga mengakibatkan mata mencaharian masyarakat berali dari sektor hutan ke kewirausahawan.
Kebun Raya Kendari dijadikan sebagai wisata salah satu alasannya karena letaknya yang strategis. Disamping itu, tempat tersebut bukan hanya sebagai wisata tetapi juga sebagai pengembangan penelitian, konservasi, dan jasa lingkunga sehingga menarik menat para pengunjung diberbagai kalangan yang mendatangi di tempat tersebut. Dengan banyaknya para pengunjung membuat masyarakat yang hidup di kawasan tersebut leluasa untuk berwirausaha. Namun mereka tidak di izinkan untuk berjualan di dalam kawasan hutan Nanga-nanga. Sebagaimana pernyataan Bu Reni bahwa:
“...Masyarakat di sini hanya bisa membangun kios-kios disekitar hutan Kebur Raya dan berjualan tapi tidak bisa berjualan di dalam Kebun Raya Kendari. Soalanya jangan sampai banayak sampa yang berhamburan dilingkungan itu.”  

Masyarakat Nanga-nanga tidak kuasa memanfaatkan wisata Kebun Raya Kendari karena pegelolannya dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Penjualan hanya bisa dilakukan di luara kawasan Kebun Raya. Hal demikian dilakukan agar lingkungan tersebut tidak menimbulkan kendala-kendala negatif seperti sampah yang akan menurunnya kualitas pesona alam sebagai destinasi wisatawan dunia. Meskipun demikian masyarakat masih bisa memanfaatkan lokasi yang diaggap tidak masuk dalam kawasan Kebun Raya. Lokasih tersebut dijadikan sebagai tempat pendapatan mereka dengan membangun kios-kios kecil dipinggiran  Kebun Raya sebagaimana pernyataan Bu Reni mengatakan bahwa:
“...Saat pengunjung berdatangan maka mereka biasanya belanja di kios-kios di sekitar Kebun Raya. Bisanya  mereka menghabiskan barang banyak dan kami merasa senang saat pengunjung banyak yang berdatangan di Kebun Raya meskipun ada juga masyarak lain kurang setuju dengan dibangunnya wisata di kawasan hutan Nanga-nanga ini.”     

Adanya Kebu Raya Kendari membuat masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan tersebut merasa senang karena bisa mereka menamba-namba keuangan kelaurga dengan banyaknya pengujung yang data ditempat tersebut. Namun disisi lain, ada juga masyarakat yang kurang setujuh dengan adanaya tempat wisata tersebut. Mereka yang kurang setujuh dengan adanya Kebun Raya Kendari tergolong masyarakat yang dulu pernah memanfaatkan hutan secara liar sehingga dengan adanya tempat wisata tersebut maka mereka soalah-olah digeserkan dari pekerjaan mereka dan harus beralih ke profesi lain. Sebagaimana pernyataan informan Bu Sarawati (42 tahun) mengungkapkan bahwa:

“...Sebelumnya masyarakat yang ada di nanga-nanga memanfaatkan hutan sebagai mata pencaharian, akan tetapi sekarang masyarakat tidak boleh lagi memanfaatkan atau masuk di kebun raya untuk mengambil kayu atau mengambil batu karena kebun raya kendari telah diambil alih oleh pemerintah dan telah dilindungi.”

Adanya Kebun Raya Kendari membuat sebagian perekonomian masyarakat menjadi baik. Disisi lain ada juga yang mengatakan perekonomian menjadi kurang baik. Pertama membaiknya prekonomian masyarakat, karena masyarakat bisa membangun kios-kios kecil di sekitar kebun raya kendari, dan dengan membangun kios tersebut dapat menambah penghasilan mereka. Sedangkan kurang baiknya, masyarakat dilarang memanfaatkan hutan dalam mengambil kayu atau mengambil batu karena tempat tersebut telah diambil alih oleh pemerintah dan telah dilindungi. Sehingga banyak masyarakat yang sebelumnya sering memanfaatan hutan sekarang harus mencari pekerjaan di luar atau di tempat lain. Misalnya mencari proyek-proyek pembangunan atau lain sebagainya. Selain itu, ada pula masyarakat demi untuk menunjang perekonomian keluarga mereka rela menjual tanah yang ada disekitar Kebun Raya Kendari. Sebagaimana pernyataan informan Bu Sarawati (42 tahun) mengungkapkan bahwa:

“...Pembangunan Kebun Raya Kendari masyarakat di Nanga-nanga sempat mengalami konflik dengan aparat pemerintah dengan argumen bahwa jika sudah didirikan wisata di kawasan nanga-nanga maka masyarakat yang berprofesi memanfaatan hutan akan terganggu.”

Pembangun Kebun Raya Kendari tidak semudah yang dipikirkan oleh pemerintah. Masyarakat yang kurang setujuh dengan  adanya wisata tersebut maka mereka akan beralih profesi. Sebab kawasan hutan akan dilindungi oleh pemerintah. Selain itu, jika ada masyarakat yang memanfaatkan hutan tanpa izin akan dikenakan pasal atau hukum secara umum. Disisi lain, dibangunnya Kebun Raya akan memandirikan masyarakat terutama golongan ibu-ibu. Sebagaimana pernyataan Bu Sarawati (42 tahun) mengungkapkan bahwa:

“...jika ada kegiatan-kegiatan misalnya senam busana atau yang lainnya, masyarakat menjual minuman, makanan untuk para pengunjung yang datang di tempat itu .

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu informan diatas menunjukan bahwa kebun raya Kendari yang terletak di kawasan hutan nanga-nanga tersebut sering di adakan kegiatan-kegiatan yang memancing perhatian masyarakat untuk hadir menyaksikan kegiatan tersebut. Adapun kegiatan yang sering diadakan yaitu senam busana. Dengan adanya kegiatan tersebut masyarakan yang tinggal di sekitaran kawasan Nanga-nanga bisa memanfaatkan hal tersebut dengan baik sebagai sumber mata pencaharian. Misalnya  menjual makanan ringan, minuman dan sebagainnya. Jadi pengunjung yang hadir di tempat kegiatan bisa membeli makanan dan minuman sebagai cemilan pada saat menyaksikan kegiatan. Banyak pengunjung yang datang menyaksikan kegiatan maka semakin banyak pula pengunjung yang membeli.
Selain itu, mereka juga menjelaskan bahwa tidak ada izin dari pemerintah dalam memanfaatkan hutan dengan cara apapun seperti menebang pepohonan meskipun jauh dari kawasan Kebun Raya. sebagaimana hasil wawancara dengan Ibu Sarawati (42 tahun) mengungkapkan bahwa:

“...banyak masyarakat yang mengolah kayu  tapi jauh dari kawasan hutan nanga-nanga. Pemerintah sekitar tidak memberikan izin sedikitpun mengolah kayu yang ada dikawasan meskipun jauh dari kebun raya kendari.”
Berdasarkan hasil wawancara dari salah satu informan diatas dapat menunjukan bahwa terdapat banyak masyarakat yang salah memanfaatkan kebun raya. Misalnya penebangan pohon lalu dijual untuk mendapatkan penghasilan. Kejadian tersebut sudah sering sekali dilakukan meskipun  pemerintah sekitar tidak memberikan izin sedikitpun untuk mengesplorari hasil hutan. Walaupun masyarakat yang mengolah kayu tersebut jauh dari Kebun Raya Kendari. Alasan pemerintan melakukan hal tersebut karena mengantisipasi agar tidak berdapak pada hutan lindung.
Dengan adanya penebangan pohon dengan tidak secara bijak, sebaiknya pemerintah bertindak tegas agar tidak ada kejadian penebangan pohon dikawasan hutan tersebut. sebagaimana hasil wawancara dengan Ibu Sarawati (42 tahun) mengungkapkan bahwa:

“...Dulu pernah di dapat masyarakat yang mengolah kayu tanpa izin dari pemerintah. Masyarakat yang tertangkap itu berasal dari luar masyarakat yang tinggal dikawasan hutan nanga-nanga ini.”

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat menunjukan bahwa pemerintah sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik karena  masyarakat yang sering mengolah atau menebang kayu dikawasan hutan nanga-nanga sudah di amankan. Dan ternyata masyarakat yang sering mengolah kayu dikawasan hutan nanga-nanga tersebut bukanlah masyarakat pribumi. Melainkan orang-orang dari luar yang bertempat tinggal jauh dari kawasan hutan nanga-nanga. Dari kejadian tersebut sebaiknya pemerintah memberikan hukuman kepada orang yang sudah melanggar hukum tersebut agar diproses supaya mejadi pelajaran bagi masyarakat lain agar tidak melakukan perbuatan yang sama.
Dibalik hukuman, sebaiknya pemerintah juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya hutan  bagi manusian. Dengan begitu masyarakat bisa menjaga kawasan hutan dengan baikn dan agar tidak ada lagi yang salah memanfaatkan hutan. Karena jika hutan rusak maka yang akan merasakan dampah buruknya bukan hanya pemerintah melainkan masyarakat-masyarakat yang tinggal sekitaran kawasan hutan kendari akan merasakan imbasnya.


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pembahasan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa sejak adanya Kebun Raya Kendari di kawasan hutan Nanga-nanga masyarakat yang hidup di kawasan tersebut cukup merasakan manfaat yang ditimbulkan dalam pemanfaatan hutan Nanga-nanga. terutama dalam hal perekonomian. Perekonomian masyarakat yang sebelumnya masih mengandalkan hutan sebagai sumber penghasilan maka saat ini mereka telah beralih profesi dari hutan pemanfaatan hutan ke kewirausahawan. Disisilan, mereka yang digolongkan wirausahawa sebagian besar torgolong dari kalangan ibu-ibu rumah tangga sedangkan para leleki mencari pekerjaan diluar rumah.

5.2 Saran

Dari kesimpulan di atas  penulis menyarankan bahwa sebaiknya masyarakat yang hidup di kawasan hutan Nanga-nanga lebih produktif. Disamping itu, dengan adanya Kebun Raya tersebut akan menarik berbagai wisatawan dari daerah lain, bahkan mancanegara sehingga dapat memberikan peluang bagi masyarakat untuk lebih mengembangkan usaha baik dibidang UKM maupun pemanfaatan lahan.

Itulah hasil penelitian yang kami peroleh dari wawacara dan pengamatan langsung masyarakat yang hidup dikawasan hutan Nanga-nanga. Meskipun penelitian terhadap Kebun Raya Kendari sudah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Namun yang mengangkat tema tentang perekonomian masyarakat ditempat tersebut belum sepenuhnya peneliti lain melakukan hal tersebut. Jadi itulah sebabnya kami mengangkat sub tema demikian agar kehidupan masyarakat bersangkutan dapat diketahui keadaannya terutama tentang perekonomiannya. Disisi lain, hasil penelitian ini bisa teman-teman jadikan sebagai bahan referensi untuk mengetahui keadaan masyarakat Nanga-nanga terutama dampak pengembangan Kebun Raya Kendari terhadap perekonomian masyarakat yang hidup dikawasan tersebut. Selain itu, kami juga mengaharapkan kritik serta saran yang membangun dari pembaca agar penelitian ini berkembang karena kami merasa bahwa dalam penyajian data dan analisi masih jauh dari kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA

Laporan: Ade Putri Editor: Sarini Ido Kebun Raya Kendari, Saksi Cerita Kerusakan Lingkungan Sebelum Dijuluki Dendrobium Utile https://sultrakini.com/berita/kebun-raya-kendari-saksi-cerita-kerusakan-lingkungan-sebelum-dijuluki-dendrobium-utile 23 Okt 2019 ... COM: KENDARI. Di akses pada hari Sabtu, 30 November 2019. Jam 9.59
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 22 Juni 2019 Kebun Raya Kendari Semakin Diminati Untuk Wisata Edukasi https://sulawesi.bisnis.com/read/20190622/539/936672/kebun-raya-kendari-semakin-diminati-u . Di akses pada hari sabtu, 30 Novemver 2019. Jam 9.58

Rai Utama I Gusti Bagus. 2011. Dimensi Ekonomi Pariwisata Kajian Dampak Ekonomi Dan Keunggulan Pariwisata Kabupaten/Kota Di Provinsi Bali. Dalam https://www.researchgate.net/publication/274644432_DIMENSI_EKONOMI_PARIWISATA_KA. di akses pada hari Sabtu, 30 November 2019. Jam 9.57 WITA.

Wawancara dengan Ibu Reni Safitri (27 thn). Kamis, 28 November 2019
Wawancara dengan Ibu Sarawati (42 thn). Kamis, 28 November 2019

 

GAMBAR KEBUN RAYA KENDARI DI KAWASAN HUTAN NANGA-NANGA




 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...