Langsung ke konten utama

Manfaat Mempelajari Konflik (Antropologi Konflik)

Manfaat Mempelajari Pengolahan Konflik

Awalnya saya masih bengung ketika ada maslah yang dihadapi, tapi semenjak mata kuliah pengolahan konflik di program masalah tersebut sudah bisa saya kelola sendiri. Baru saya sadari bahwasannya masalah itu akan tetap ada selama kita masih berada di dunia ini. Hal ini saya tidak perlu contohkan jauh-jauh seperti yang terjadi di dalam lingkungan tempat tinggal saya sekarang. Tidak ada lain selain masalah yang sering kita bahas, apalagi teman-teman sekamarku tahu kalau saya sedang dekat dengan seseorang (wanita). Masala tersebut mereka buat agar dapat menjatuhkan mental saya dan mejauhi seorag itu. Sebenarnya saya tahu kalau mereka itu ingin juga mendekati wanita tadi tapi karena saya yang lebih duluan kenal dekat sehingga mereka berfikir harus menyingkirkan saya terlebih dahulu dari kehidupan wanita tadi.

Ternyata benar ketika kita sudah memilih maka harus siap-siap menghadapi berbagai kosekuensi yang ditimbulkan dari pilihan itu. Apalagi masalahnya tentang wanita atau berkaitan dengan perasaan, hal demikian penyulitkan saya ketika menghadapinya. Di samping itu, teman-teman sering-sering membuat berita entah itu benar atau salah terkait wanita tadi. Saya hanya bisa berfikir positif juga bersabar dalam menghadapinya karena tidak ada masalah yang bersifat permanen dan akahirnya saya sudah mengetahui bagaimana menyelesaikan masalah ini.

Mula-mula saya berfikir, mungkin selama ini yang menjadi kesalahan terbesar yang telah saya lakukan yakni terlalu besar kecintaan yang saya berikan terhadap wanita tadi. Hal ini, saya sadari ketika tersadar bahwasanya perhatian yang saya berikan terhadap sesorang itu sudah melebih batas karena bisa dibilang selama pertemuan itu, saya terus yang memberikan kode melalui SMS bahwa saya perduli terhadap dia dan ia belum pernah memberikan saya kode balik kalau dia juga memiliki rasa yang sama terhadap saya. Dan sekarang saya sudah memulai mencoba untuk tidak memikirkannya lagi bahkan nomornya saat ini sudah di delete. Setelah saya lakukan ternyata membuat perasaan saya lebih baik dari sebelumnya.

Artinya dengan mempelajari pengolahan konflik ini, saya lebih berfikir dewasa ketika ada masalah yang dihadapi. Terkadang saya merasa bangga ketika ada masalah yang bisa yang pecahkan dan sering-sering kebanggaan itu saya ucapkan dengan mengatakan "untuk kami mepelajari pengolahan konflik" mendengar bahasa itu keluar dari mulut saya, telinga teman-teman sekamarku seperti terkena bara api yang menyala-nyala yang sedang dihantamkan oleh telinga mereka atau panas saat mendengar bahasa tadi. Apalagi sudah diidentifikasi kesalahan yang mereka buat dan disimpulkan pernyataan mereka. Hal demikian semakin mereka merasa kalau ada kesempatan untuk menjatuhkan saya maka hal itu akan dimanfaatkaa sebaik mungkin oleh mereka meskipun hal tersebut adalah sesuatu yang konyol misalnya ketika kami sedang main-main. Sadar atau tidak sadar mereka telah mempersiapkan semuanya artinya ketika saya melakukan kesalahan maka hal itu akan mereka manfaatkan untuk menjatuhkan mental saya. Dan biasanya kesalahan tadi akan menjadi sebuah tradisi mereka ketika kami sedang berkumpul. Numun karena saya telah mampu merasionalkan sesuatu maka tidak ada kekawatiran lagi dalam menghadapi ocehan mereka apalagi masalahnya hanya kesalahan dalam permainan dan menurut hemat saya bahwasannya hal demikian itu wajar bagi pelaku permainan.

Bagi saya adanya mata kulia pengolahan konflik ini membuat manusia mampu menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi karena bukan hanya teori semata yang diajarkan tapi prakteknya itu sudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Makalah Tentang Antropologi Politik (Antropologi Politik)

ANTROPOLOGI POLITIK OLEH: LA ODE ACO 28 MEI 2019 PART I: TERBENTUKNYA ANTROPOLOGI POLITIK  Dalam aspek pertama ini merupakan upaya untuk mentransedensi pengalaman-pengalaman dan doktrin-doktrin politik terentu. Ke arah pembentukkan sebuah pengetahuan ilmiah tentang politik, yang memandang makhluk manusia sebagai homo politikus dan mencari peralatan umum dari semua organisasi politik dalam berbagai keragaman geografis maupun sejarahnya. Dalam aspek kedua, antropologi politik adalah sub-devisi dari antropologi sosial atau etnologi. Ini memusatkan perhatiannya pada deskripsi dan analisa tentang sistem politik yang terdapat pada masyarakat yang di anggap primitif atau arkahik. Sebagai sebuah disiplin yang menyandang status sebagai pengetahuan ilmiah Montesqueu mengembangkan istilah oriental despotism, tempat yang diberikan untuk masyarakat-masyarakat sebagai sebuah kelas bagi dirinya sendiri, dan yang menampilkan dirinya pula sebagai satu dari yang dikenal oleh Eropa. Antropo...