Langsung ke konten utama

Pembahasan tentang Teori Feminisme Radikal (Antropologi Gender)

Teori Feminisme Radikal

Teori ini berkembang pesat di Amerika Serikat pada kurun waktu 1960-an dan 1970-an. Meskipun teori ini hampir sama dengan teori feminisme Marxis-sosialis (memfokuskan diri pada hak-hak perempuan di ruang publik), teori ini lebih memfokuskan serangannya pada keberadaan institusi keluarga dan sistem patriarki. Keluarga dianggapnya sebagai institusi yang melegitimasi dominasi.
 
Feminisme radikal berpandangan bahwa : “penindasan atas perempuan terutama terjadi karena patriarki (dominasi laki-laki), yang berorientasi baik pada level keluarga dan pada harapan atas heteroseksualitas (keadaan dimana setiap manusia saat menikah harus berbeda jenis kelamin) wajib dan pada level budaya, di mana citra seksis (seksis secara sederhana dapat diartikan sebagai ungkapan yang memosisikan salah satu gender seks pada tataran subordinasi (inferior) atau idak setara) perempuan diobjektifkan sehingga menindas mereka”.
 
Feminis radikal berpandangan bahwa feminis perlu meruntuhkan atau secara radikal memperbaiki keluarga dan menciptakan budaya “non-misoginis” (keadaan dimana tidak ada anggapan bahwa kaum kaum laki-laki lebih hebat dari perempuan) di mana perempuan tidak dijadikan objek. Inilah salah satu perlawanan perempuan mengatakan bahwa keadaan misoginis sering terjadi disemua lapangan mulai dari lapangan keluarga, pekerjaan, kekuasaan, dan lapangan politik. Artinya bahwa ada kaum laki-laki yang tidak menyukai kaum perempuan jika berada dalam posisi-posi tertentu misalnya kaum peremuan secara politik tidak boleh lebih dari kaum laki-laki sehingga di Indonesia dalam lembaga perpolitikan hanya 30% dan tidak bisa lebih dari itu. Kaum feminisme radikal berpandangan bahwa kenapa kaum perempuan dibatasi hak-haknya biarkan saja kamu laki-laki dan perempuan bersaing secara sehat dan jangan ada kata-kata mesoginis (keadaan dimana kaum laki-laki lebih hebat dari kaum wanita) sehingga perempuan merasa mereka dibenci oleh kaum laki-laki. Dibeberapa budaya  kalau ada keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki maka dianggap sebuah kelurga yang tidak berhasil sehingga banyak orang jika punya anak satu perempuan hingga anak kelima maka akan terus hamil demi mendapatkan anak laki-laki keadaan itu dinamakan misoginis bahwa dalam keluar tidak terlalu diinginkan anak perempuan dan yang diinginkan adalah anak laki-laki keadaan ini juga yang membuat kaum perempuan tersubordinasi (tidak setara).

Feminisme radikal mirip dengan feminisme lesbian atau separatisme lesbian dalam kritiknya atas keluarga heteroseksis sebagai sumber utama penindasan atas perempuan.

Feminisme radikal memasukkan tapi tidak terbatas pada kritik tajam atas heteroseksisme, yang tidak hanya berpandangan bahwa semua orang dewasa pada dasarnya heteroseksual tapi juga menambahkan bahwa perempuan mendapatkan identitas mereka karena berpasangan (khususnya, menikah) dengan laki-laki dan mempunyai anak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...