Langsung ke konten utama

Teori Konflik (Antropologi Konflik)

Teori Dialektika Hegel


Menurut Hegel setiap gerakan proses atau kemajuan merupakan konflik dengan tertentu.
Proses konflik tersebut adalah pertentangan antara tesis, anti tesis dan sintesis
Tesis merupakan suatu ide atau gerakan historis yang berisi ketidaksempurnaan yang akan menimbulkan oposisi atau antitesis. Sebagai hasil konflik keduanya memunculkan pendapat ketiga yang disebut sintesis.
Sintesis akan menimbulkan suatu tesis baru, yang akan menimbulkan antitesis baru dan kemudian menimbulkan sintesis baru, demikian seterusnya.

MENURUT HEGEL PROSES DIALEKTIKA TERSEBUT AKAN TERUS BERLANGSUNG  HINGGA TERCIPTANYA IDE ABSOLUT  YAITU SINTESIS AKHIR YANG SANGAT SEMPURNA DAN TIDAK MENIMBULKAN ANTITESIS BARU.

Walaupum teori dialektika Hegel merupakan filsafat idealisme bukan teori khusus mengenai konflik, tetapi tetap bisa digunakan untuk menganalisis dan memahami konflik, terutama konflik dalam bidang kemasyarakatan. Masyarakat berkembang melalui proses konflik dialektika tesis, antitesis dan sintesis.
    Mohandar Karachad, Mahatma Gandhi mengemukakan konsep konflik adalah perlawanan tanpa kekerasan –non violent conflict—yang terkenal dengan nama Satya Graha.

    Teori satya graha mempengaruhi para pejuang hak-hak sipil diseluruh dunia seperti Martin Luther King Jr. di Amerika Serikat memperjuangkan hak-hak sipil warga kulit hitam dengan prinsip anti kekerasan.  
Satya Graha berasal dari bahasa Sansekerta: ‘satya’ artinya kebenaran dan ‘graha’ artinya teguh.

Konsep Satya Graha berarti teguh terhadap kebenaran dan menolak semua yang tidak benar.
Starategi Gandhi dalam perjuangan tanpa kekerasan:

1.    Strategi langkah bijak:  yaitu dengan langkah-langkah negosiasi dan arbitrase, meliputi: (a) pengumpulan dan analisis fakta di tempat konflik dengan partisipasi lawan konflik; (b) mengidentifikasi minat yang sama dengan lawan konflik; (c) formulasi tindakan dan diskusi yang diterima lawankonflik; dan upaya kompromi, tetapi tidak mengalah dalam satu hal yang esensial.  Gandhi menghindari eskalasi konflik lebih jauh. Pada fase ini ia membangun hubungan erat, kerjasama dan hubungan personal  dengan lawan konfliknya. Hal ini akan membatasi antagonisme yang umumnya timbul dalam proses eskalasi konflik.
 
2.    Taktik konflik: Jika dengan langkah-langkah sebelumnya , konflik tidak dapat diselesaikan, para Satya Grahis harus menyiapkan dan melaksanakan tindakan langsung berupa: agitasi, ultimatum, pemboikotan ekonomi, non koperasi, pembangkangan sipil, perampasan fungsi-fungsi pemerintahan, dan penciptaan pemerintahan paralel. Jika salah satu dari tindakan tersebut dapat menyelesaikan konflik, tindakan berikutnya tidak diperlukan. Akan tetapi setiap langkah baru selalu mencakup periode penarikan diri, refleksi, serta analisis mengenai posisi diri sendiri dan lawan konflik. Yang tidak terjadi adalah eskalasi konflik normal di mana respons kekerasan terjadi dalam bentuk spiral kekuasan yang makin meningkat.

3.    Strategi satya graha memakasimalkan peran tindakan rasional rekonsiliasi pihak-pihak yang terlibat konflik.
 
4.    Memungkinkan intensifikasi konfirmasi jika diperlukan untuk mencapai tujuan gerakan.

5.    Pendekatan langkah bijak model Gandhi menunjukkan bahwa teknik konflik bersifat tahapan-tahapan bukan siklus spiral. Eskalasi juga terjadi, tetapi melaui langkah-langkah eskalatori.

6.    Dalam pemikiran Gandhi pihak-pihak yang terlibat konflik harus menuju pada level kepercayaan baru yang lebih tinggi dan tidak kembali ke belakang pada titik saat konflik dimulai.
   
7.    Prinsip anti kekerasan dan tidak menyakiti orang untuk setiap jenis konflik. Akan tetapi teknik yang digunakan tidak bisa digeneralisasi untuksemua jenis konflik. Konflik yang dihadapi oleh Mahatma Gandhi adalah konflik politik untuk memperjuangkan kemerdekaan India dari penjajahan Inggris. Jika Satya Graha diterapkan pada konflik interpersonal suatu perusahaan, maka harus ditemukan suatu terobosan teknik yang sesuai dengan yang ada.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...