”
TATA PELAKSANAAN RITUAL SUNGKIA SEBELUM DI MULAI
“Desa Gerak Makmur Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan”
Pra pelaksanaan ritual sungkia sebelum di mulai yakni, keluarga si Ibu diharuskan mencari 4 orang yang bersedia menyantap hidangan sungkia. Empat orang tersebut diharuskan berlainan jenis (dua orang laki-laki dan dua orang perempuan) dan tidak dibatasi oleh usianya (bisa dari kalangan muda maupun tua). Adapun bahan dan peralatan yang dipersiapkan sebagai kelengkapan ritual mulai dari 3 (tiga) liter beras, 3 (tiga) butir telur ayam kampung, 1 (satu) ekor ikan, 5 (lima) buah kelapa tua, abu dapur dan beberapa helai daun hijau. Sementara peralatan ritual yaitu piring setengah lusin, pisau, dan parang.
Dalam proses pelaksanaannya, empat buah kelapa diletakkan disetiap sudut ruangan yang akan digunakan sebagai tempat pelaksaan ritual. Sedangkan satu buah kelapa di persiapkan untuk memandikan si Ibu dan anaknya yang akan dilakukan oleh dukun bersalin (bhisa). Sementara beberapa helai daun hijau dipersipkan untuk menempatkan abu dapur yang akan di letakkan di pinggi pintu sampai dalam ruanga ritual sebelum proses ritual berlangsung. Jika bahan dan peralatan telah dipersiapkan dan sudah ditempatkan sesuai pada tempatnya maka proses ritual akan segera di laksanakan. Namun terlebih dahulu para tamu undangan dipersilahkan agar menempati ruangan yang telah dipersiapkan sebagai pelaksanaan ritual serta tanda dimulainya ritual tersebut. Dalam ruangan mereka diharuskan duduk berpasang-pasangan yaitu laki-laki dan perempuan saling berhadapan dan tidak dibolehkan perempuan sama-sama perempuan, begitu pula sebaliknya sebelum menyantap hidangan yang telah disiapkan.
Dalam aktivitas peyantapan hidangan sungkia, tidak dibolehkan ada makanan yang disisahkan dan jika ada salah satu angggota yang tidak menghabiskan makanannya maka teman lawan jenisnya tadi berhak membantunya. Setelah selesai peyantapan hidangan, maka dukun bersalin (bhisa) sebagai penyelenggara ritual meletakka parang disetiap bokong anggota ritual. Hal ini dilakukan agar para undangan bisa meninggalkan tempat ritual lepas pembacaan mantera oleh dukun bersalin (bhisa).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...
Komentar
Posting Komentar