Langsung ke konten utama

Pembagian Simbol oleh Victor Turner Beserta Contoh Dalam Kehidupan Masyarakat (Antropologi Simbolik)

Simbol dan Tanda

Menurut Victor, simbol itu mewakili yang dibayangkan dalam kenyataan. Misalnya molulo pada masyarakat Tolaki. Dalam adat kebiasaan ini, para masyarakat nampak mambuat lingkaran sambil bergandengan tangan. Hal demikian tentunya menunjukan rasa persatuan pada masyarakat tersebut yang terjalin dengan baik antar sesama anggota masyarakat.

Simbol dalam ritual terdiri atas dua yaitu:

-    Simbol action (tindakan)
-    Simbol artikel( bahan)

1)    Simbol action

Adalah sebuah sembol yang menandakan kelakuan dalam ritual baik, ritual kematian maupun pesta. Conto hnya pada masyarakat Tolaki sebut saja molulo dalam memperingati hari kematian dan kelahiran akan berbeda (perlakuannya). Pada saat molulo dalam memperingati hari kematian, masyarakat yang paham dalam melakukan aktivitas tersebut terlihat sedih, raut wajah pucat kehitaman, dan terasa tidak bergairah dalam melakukan ritual tersebut. Sementara molulo dalam menperingati hari kelahiran anak tertunya akan terlihat bahagia oleh mereka yang melakukan ritual tersebut.

2)    Simbol artikel

Adalah sebuah simbol yang menandakan kelengkapan bahan-bahan saat ritual. Contohnya ritus kematian pada masyarakat Buton. Dalam ritual tersebut terdapat berbagai macam makanan yang di sediakan, lalu makanan tersebut di masukan dalam talang. Adapun jenis makan itu antara lain pisang goreng, waji, onde-onde, ketupat nasi, sayur-sayuran, gonco-gonco dan lain-lain. Dari makanan tersebut masing-masing memiliki simbol tersendiri dan kalau disimpulkan secara keseluruhan bahwa makanan tersebut menyimbolka anggota tubuh manusia yang tujuannya agar si mati dalam menjalini kehidupan di alam gaib ia di tempatkan pada golongan manusia bukan golongan lain misalnya hewan.

Menurut Victor Turner simbol terdiri dari beberapa bagian yaitu:

Multivokal

Adalah simbol memiliki beberapa arti, maksudnya bahwa simbol cenderung di tafsirkan oleh setiap subyek yang mengamati simbol itu contoh pada masyarakat Muna. Dalam setiap ritual kematian sering disimpangkan rokok dalam ritual tersebut, ternyata menurut kepercayaan mereka bahwa roh halus juga menyukai rokok sama halnya dengan manusia. Sementara simbol lain yang terdapat pada rokok yakni sebagai sebagai simbol pertemanan atau untuk begaul.

Polarisasi

Dalam hal ini polarisasi terdiri dari dua unsur yakni fisik dan ideologi.

Unsur fisik

Unsur tersebut berkaitan dengan tubuh manusia misalnya pada suku Ulkana yang ada di Afrika, dimana masyarakat tersebut mengistilakan dengan sebutan Ngkang’a (susu) yang terdapat pada diri perempuan. Saat di lihat oleh kaum pria akan menimbulkan perasaan lain. Dari sinilah muncul penafsiran bahwa Ngkang’a itu menyimbolkan sesuatu yang melahirkan emosi dalam diri laki-laki.

Unsur ideologi

Dalam unsur ini kejadianya sama pada kaum wanita bahwa susu yang terdapat pada diri perempuan akan dihubungkan dengan relasi anak-anak dengan ibunya, ke ibuan dan lain-lain.

Unifikasi (penyatuhan kembali)

Adalah suatu menyatuhan kembali pada kelompok masyarakat setelah melalui beberapa hari pengurungan dalam satu tempat misalnya dalam masyarakat Buton adanya posuo. Hal demikian diperuntukan bagi kaum wanita yang sudah masuk pada tahap kedewasaan. Biasanya mereka melakukan pengurungan dalam satu tempat dalam artian wanta-wanita yang akan diposuo selama beberapa hari. Dan dalam pengurungan ini meraka di ajarkan bagaimana berkelakuan sebagai wanita dewasa. Setelah itu mereka di lepaskan lagi untuk menyatu dalam kelompok sosialnya.

Tiga Dimensi Arti Simbol

Tiga dimensi arti simbol terdiri beberapa bagian yaitu:

Dimensi eksitetih

Adalah dimensi yang berhubungan dengan penafsiran masyarakat terhadap ritual itu misalnya ritual haroa pada suku Buton dimana makanan-makan yang terdapa dalam talang itu menyimbolkan sebagai pengenang arwa leluhur yang telah menunggal dunia. Bagian-bagian dimensi eksitetih yaitu antara lain:

Subtansial

Dimensi yang berhubungan dengan sifat-sifat alamiah simbol misalnya dalam ritual kematian terdapat bahan ritual yang harus dipersiapkan dan harus lengkap sesuai yang diinginkan. Contoh pada masyarakat Buton. Makan yang terdapat dalam talang itu menyimbolkan manusia dalam artian kalau makanan tersebut tidak lengkap maka prosesi ritual itu tidak akan berjalan sesuai yang diinginkan.

1)    Nominal

Yaitu dasar yang memberikan pada simbol sekurang-kurangnya darimana simbol itu bersal. Menurut pandanga penulis simbol itu berasal dari pikiran manusia itu sendiri yang mampu mempengauhi masyarakat secar kolektif.

2)    Arti faktual

Yaitu ditampilkan dengan objek simbol yang nyata adanya. Contoh pada masyarakat sulawesi adanya baca-baca, di Jawa adanya sukuran dan lain-lain.

Dimensi fungsional

Pada dasarnya suatu simbol tidak hanya ditafsirkan secara verbal tetapi dalam rangka apa simbol itu di gunakan. Misalnya pada masyarakat Tolaki. Molulo pada saat memperingati hari kematian dan pesta tentu akan bebeda dan juga bahan ritual akan berbeda saatb di gunakan untuk memperingati hari kematian dan untuk pesta pernikahan dan juga bahan makanan yang ada di pasar.

Dimensi posisional

Yaitu sebuah dimensi yang mempunyai arti relasi (hubungan) antara satu simbol dengan simbol yang lainnya. Artinya dalam relasi tersebut ada yang ditekankan dan ada yang tidak ditekankan misalnya posuo pada masyarakat Buton. Di mana saat masa pengurungan orang tua yang di tugaskan untuk memberikan nasehat kepada wanita yang di posuo. Tentunya ada yang ditekankan dimana mereka tak boleh untuk melakukan hal itu misanya tidak boleh melawan kepada kedua orang tua, membatasi diri bergaul denga lawan jenis dan lain-lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...