Langsung ke konten utama

Hubungan Antara Bahasa dan Media kajian tentang Linguistik (Antropologi Linguistik)

 Bahasa dan Media

Mediaa adalah salah satu cara yang paling banyak kita gunakan untuk mengakses informasi tentang dunia sekitar kita, dan sekaligus merupakan sumber dari sebagian besar kegiatan hiburan kita.

Hubungan antara bahasadan media sangaterat. Penggunaan bahsa dalam media beranekaragam sesuai dengan kepntingan. Hubungan bahasa dan media seringkali digunakan untuk mencari kekuasaan guna memenuhi unsure kepentingan dan memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk mencapai kepentingan itu.

Terkait dengan kepentingan dan pengruh tertentu tak luput juga akan kekuasaan. Media massa bergerak dalam masyarakat yang ditandai oleh adanya pentebaran kekuasaan yang berkaitan kepada individu, kelompok dan kelas social secara tidak semata. Media massa dalam beberapa hal berkaitan dengan struktur politik dan ekonomi yang ada. Disinilah dapat ditelusuri potensi media berhubungan dengan kekuasaan, di atas media dianggap memilik kosekuensi ekonomi dapat diperebutkannya control dan akses. Misalnya media cetak yang memiliki manfaat terkait dengan kepentingan rakyat banyak, yang disampaikan secara tertulis. Artinya informasi didalamnya terkait tdengan kepentingan masyarakat umum bukan hanya terbatas pada kelompok tertentu saja.

Oleh karena itu, media massa merupakan bagian dari struktur soasial. Dalam hal ini, media massa merupakan komponen yang memelihara stabilitas dan  harmoni. Dengan  demikian fungsi media massa sebagian dari mekanisme social bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara berbagai komponen dalam masyarakat.
Saat ini dapat dikatakan bahwa telewisi yang menjadi media komunikasi massa paling populer. Pada hakikatnya media televisi lahir karena perkembangan teknologi. Bahasa yang digunakan setiapa cara tersebut dapat memberikan pengaruh yang besar bagi khalayak. Bahasa dalam media massa bagaikan dua sisi mata pisau yang keduanya dapat mengangkat derajat seseorang dapat pula menjatuhkan kedudukan seseorang. Oleh karena itu, bahasa dala media massa jangan langsung dipercaya tapi dicari dula kebenarannya.

Media massa menjadi pihak yang berperan penting sebagai salah satu bangunan intelektual ideologis-dalam menjabarkan, mempertahankan dan menyebabkan versi definisi realitas rezim dan kelas dominan tertentu. Oleh karena itu, media massa, kleompok dominan, dan masyarakat menyiratkan hubungan media massa (maksudnya hubungan yang hegemoni). “Hegemoni” berupaya untuk menumbuhkan kepatuhan dengan menggunakan kepemimpnan politisi dan ideologis. Hegemoni bukanlah hubungan dominan dengan menggunakan kekuasaan, melainkan hubugan persetujuan. Dengan demikan media massa dapat didefinsikan (1) seebagai medium tempat dimana wacana dari kepemimpian politik dari ideologi disebar luaskan (2) sebagai arena tempat keragaman praktek wacana dilakukan, dengan tujuan akhir adaah membangun konsensus dengan pihak yang melemah berada dalam posisi patuh. Hasil konsensus ini digunakan kelas yang lemah untuk menafsrkan pengalamannya yang sebelumnya telah diintrodusir oleh pihak yang berkuasa.

Mengenai hal demikian, kekuasaan dapat pula diraih dengan memberikan pengaruh. Pengaruh disampaikan melalui media-media sehingga media memilki tingkat ersuasif yang sangat tinggi. Hal ini tidak lain karena dibalik persuasivitas media yang tinggi tersebut dihegemoni oleh faktor kepentingan. Dengan demikian pembahasan bahasa dan media oleh Joanna Thomborrow terfokus pada hubugan bahasa, media dan kekusaan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...