Penelitian Antropologi Tentang Sumber Daya Laut pada Masyarakat Bajo di Desa Bajo Indah (Kajian Antropologi Maritim)
BAB I
PENDAHULAUAN
1.1 Latar Belakang
Orang Bajo banyak tinggal di kawasan sepanjang pesisir pantai sejak puluhan tahun silam. Sebenarnya orang Bajo banyak tersebar hampir di garis pantai segala penjuru Sulawesi, Kalimantan Timur, Kangean, Bali, Sumbawa, Jawa Timur, bahkan ada juga di Sabah Malaysia. Karena kebiasaan hidup mereka di laut, sehingga sejak beratus-ratus tahun masa silam mereka telah tersebar dimana-mana.
Dalam sistem mata pencaharian, masyarakat bajo memanfaatkan laut sebagai sumber perekonomian keluarga, seperti masyarakat Bajo Indah yang bertetangga dengan desa Sama Jaya di sebelah timur.
Masyarakat tersebut sama halnya dengan masyarakat Bojo lain di mana yang menjadi sasaran dalam perekonomian keluarga adalah sumber daya laut yang menjadi prioritasnya. Di sampan itu, kebanyakan dari generasi-generasi yang berkembang pada masyarakat tersebut sebagian besar hanya dijadikan sebagai pelaku-pelaku yang pewaris budaya mata pencaharian para leluhurnya.
Artinya kebanyakan dari mereka jarang memberikan peluang kepada para anak cucunya agar mendapatkan pendidikan formal di mana dengan pendidikan seperti itu, khususnya pada masyarakat Bojo Indah mampu mengeploitasi sumber daya laut lebih baik lagi dibandingkan sekarang.
Di masyarakat ini dapat dikatakan sebagai masyarakat yang multikultur sebab banyak di antara mereka yang berstatus Bagai atau orang luar. Di mana karena telah melaui proses pernikahan sehingga terjadilah hal demikian. Adapun suku lain yang tinggal bersama dalam masyarakat tersebut di antaranya suku Jawa, Bugis, Makassar, dan suku Bajo. Meskipun demikian kehidupan dalam masyakat ini masih tetap tercipta akan ketentramannya di mana dialoglah yang menjadi jalan keluarnya dalam penyelesaian konflik di antara suku tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan dilengkapi dengan pengamatan terlibat dan wawancara mendalam sehingga hasil penelitian ditampilkan dalam bentuk deskriptif-analitis.
1.2.Rumusan Masalah
Bagaimana Masyarakar Bajo Indah Memanfaatkan Sumberdaya Laut atau Pesisir?
Alternatif Apa saja yang dilakukan (Kultural) Untuk menegendalikan Pemanfaatan tersebut Demi Keberlanjutan Sumberdaya Alam?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana masyarakat Bajo Indah memanaatkan sumberdaya laut atau pesisir.
Untuk mengetahui alternative apa saja yang dilakukan (Kultural) untuk mengendalikan pemanfaatan tersebut demi keberlanjutan sumberdaya alam.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pemanfaatkan Sumberdaya Laut atau Pesisir bagi Masyarakat Bajo Indah
Suku Sama terkenal sebagai suku laut, dikenal sebagai gipsi laut, pola hidup nomaden sebagian suku Sama masih berlangsung hingga sekarang, mengingat sebagian besar mata pencaharian suku Sama adalah pelaut atau nelayan berpindah mengikuti cuaca. Mereka ke darat hanya mencari kebutuhan dapur, menjual hasil tangkapan ikan dan memperbaiki perahu, selebihnya di habiskan di lautan. Pada abad ini pola hidup nomaden semakin berubah ke pola hidup menetap, maka suku Sama tersebar di berbagai belahan bumi pesisir pantai di beberapa negara.
Kalau kita mengenal suku Asmat dan suku Dayak sebagai suku pedalaman yang melangsungkan hidupnya atau tinggal di tengah hutan, maka suku Sama adalah suku yang melangsungkan hidupnya di atas laut. Jika Suku Asmat di Papua, Suku Dayak di Kalimantan, suku Makasar di Makasar, suku Bima di Nusa Tenggar Barat, maka Suku Sama mendiami hampir seluruh semenanjung pulau dan pesisir pantai Nusantara bahkan pesisir pantai dunia.
Bagi masyarakat Bajo Indah, laut merupakan segala-galanya. Di situlah mereka menggantungkan kehidupannya karena laut dapat memberikan sebuah penghidupan yang layak bagi masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Karena sudah menjadi alternatif satu-satunya, sehingga sumberdaya ini sebagian besar dari mereka akan pemanfaatannya secara terus-menerus tanpa batas oleh masyarakat setempat mulai dari kaum tua, mudah hingga anak-anak. Disamping itu, alasan mengapa laut bagi mereka dijadikan sebagai prioritas yang utama karena pada kehidupan masyarakat bersangkutan tidak ada lagi kegiatan atau kerja lain selain mengharapkan laut.
Sebagaimana pernyataan informan Bu Sarlina:
“…Masyarakat Bajo memanfaatkan laut secara terus-menerus tanpa batas, sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat mulai dari orang tua, anak mudah sampai anak-anak sudah tidak ada kerjaan lain selain melaut”
Laut merupakan tempat yang memberikan penghidupan yang besar bagi masyaraat yang tinggal dipesisir atau bagian pantai. Hal ini dilatar belakangi di dalam tempat tersebut banyak hewan-hewn laut berupa ikan dan sejenisnya yang hidup dan diperuntukan bagi umat manusia sehingga mereka yang tingga disekitannya dapat dikatakan masyarakat yang jauh akan keadaan krisis atau kemelaratan.
2.2 Alat-Alat (culture) yang Digunakan Oleh Masyarakat
Disamping itu, setiap masyarakat yang hidup disekitar temapat itu memilki budaya sendiri-sendiri mengenai pemanfaatan laut agar kelestariannya tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Sebagaimana pernyataan informan Bu Sarlina menyatakan bahwa:
“…masyarakat disini masih menggunakan alat-alat (tradisional) seperti memancing mengunakan mata kail, memancing gurita (gara) alat-alat berbahaya seperti bom dan sejenisnya jarang digunakan”.
Aktifitas pemboman ikan berdampak negatif terhadap keseimbangan ekosistem laut. Selain itu, bom ikan juga sangat merugikan masyarakat, terutama masyarakat pesisir yang menggantungakan hidupnya pada keadaan laut. Selain berdampak pada masyarakat sekir juga pada keindahan bawah laut seperti hancurnya terumbu karang yang halus dan indah sebagai tempat bermainnya para ikan-ikan yang memberikan penghidupan bagi umat manusia secara berkesinambungan.
Disamping itu, karena terumbukarang yang hancur, ikan-ikan tidak akan kembali lagi ke daerah itu. Nelayan-nelayan ini tidak berpikir bahwa dengan mengunakan jalan pintas mencari ikan seperti ini, generasi selanjutnya akan menuai kemiskinan.
Sebagaimana pernyataan informan Pak Jumail menyatakan bahwa:
“…untuk memberikan tangkapan yang banyak tergantung alat yang digunakan. Kalau dibilang menunjang ya! Menunjang, tapi kalau kita pake atat tali pancing, pukat, jaring itu tidak menunjang dibandingkan menggunakan bom karena saya pernah menggunakannya”.
Penggunaan bom ikan dilarang dimana pun kerena cara mecari ikan yang merusak ini tidak berkelanjutan dan dampak pada kelangsungan hidup masyarakat setempat. Dimana mereka akan merasa bahwa sebelumnya dibagian pesisir yang mereka andalkan dapat memberikan hasil tangkapan memuaskan karena sering masyarakat menggunakan bom untuk mendapatakan hasil yang memuaskan sehingga kebanyakan dari ikan-ikan yang melangsungan kehidupannya di tempat itu menjauh dari pemukiman masyarakat akibatnya, mereka harus menjangkau temapat jauh agar mata pencarianya tetap memberiakan penghidupan yang layak untuk menghidupi anggota keluarga dalam rumah.Menjauhnya ikan-ikan ini, bukan hanya diakibatkan oleh bahan peladak tapi diakibatkan pula kebiasaan masyarakat setempat memanfaatkan laut secara terus menerus.
Sebagaimana pernyataan informan Pak Jumail menyatakan bahwa:
“…disini kami menggantungkan hidup dari kebutuhan keluarga, anak sekolah hasil lautlah yang kami harap akhirnya ikan-ikan semakin jauh dari jangkuan kami, yang jelas disekitar sini sulit sekali untuk bisa melaut”.
Karena terus-terusan dimanfaatkan maka akan menimbulkan kelangkaan. Sementara kelangkaan itu sendiri meruapakan suatu hal yang tidak bisa dihindari karena memang semua manusia memilki kebutuhan pokok akan sumberdaya alam. Walaupun tidak bisa dihindari, namun bukan berati kelangkaan ini tidak dapat diatasi. Artinya masyarakat setempat jangan terlalu menggantungan hidup pada satu sumberdaya alam karena ketika sumberdaya tersebut semakin dikuras maka mereka akan kesulitan mendapatkan hasil yang memuaskan. Harusnya mereka mempersiapkan diri bagaimana mengatasi terjadinya kelangkaan itu, tentunya membutukan wawasan yang luas. Namun pada masyarakat Bajo Indah belum ada masyarakat yang memilki kreatif dalam pengolahan sumberdaya alam agar tetap berkelanjutan. Hal ini di latar belakangi karena kebanyakan dari masyarakat bersangkutan hanya setengah perjalanan dalam menempuh pendidikan formal selebihnya mereka memperkenalkan para generasinya itu bagaimana memanfaatkan laut.
Sebagaimana pernyataan informan Pak Jumail menyatakan bahwa:
“…Untuk pengolahn ikan dijadika bahan seperti kerupuk tidak dilkukan tapi kalau di olah sepeti dibelah lalu dijemur itu sering kami lakukan. Selain itu, kebanyakan dari anak-anak disini hanya bisa menempu pendidikan dari SD sampai SMP saja karena disebabkan kebiasaan terus di laut”.
Kebudayaan sebagai hasil interaksi antarmanusia dan manusia dengan lingkungannya, menunjukkan suatu pengertian yang luas dan kompleks sehingga dapat dikatakan sebagai milik bersama anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan yang pewarisannya kepada generasi berikutnya melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol, yang terwujud dalam bentuk terucap ataupun tidak.
Dalam hal ini, pengetahuan lokal yang dilahirkan oleh masyarakat setempat lebih dikedepankan dibendingkan dengan pengehauan yang didapat lewat bangku pendidikan formal. Pada hal untuk lebih mensejahterahkan masyarakat tentunya generasi penerus harus diperkealkan bagaiaman pentingnya pendidikan tersebut. Karena melalui pendidika formal ini wawasan para generasi penerus akan lebih meluas tidak hanya memilki pengetahuan dilingkungannya sendiri tapi juga bagaimana pengetahuan itu diterapkan untuk kesejahteraan masyarakat bersangkutan.
Faktor yang menghambat terjadinya rendahnya pendidikan yang didapat oleh sebagian orang yakni lingkungan diluar atau faktor eksternal. Dimana karena masyarakat Bajo dekat akan perairan maka sebagian masyarakat hanya memiki pengetahuan bagaiamana mendapatkan hasil tangkapan yang banyak agar dapat meghidupi keluarga sehingga banyak para generasi muda yang masih usia dini diperkenalkan bagaimana cara menagkap ikan. Disamping itu, kebanyakan masyarakat hanya memiliki pengetahuan menangkap ikan dan hasil tangkapan dibawa langsung ketempat orang yang menjadi agen sebagai pengumpul ikan tersebut.
Sebagaimana pernyataan informan Bu Sarlina menyatakan bahwa:
“…masyarakat disini hanya tahu mencari ikan dan hasil tangkapan dibawah langsung ketempat penapunngan ikan. Terkeciali orang lain karena disini bukan hanya suku Bajo ada juga suku Bugis, Makassar, Jawa hidup akur dalam masyarakat”.
Pengetahuan yang bermanfaat tidak hanya didapat lewat pendidikan informal akan tetapi lebih kepada pendidikan formal dimana bukan hanya pada praktenya tapi semuanya dijelaskan berdasarkan kerangka ilmiah dan bisa melahirkan ide yang lebih baik bahkan sampai pada tingkat perkemabangan masyarakat.
Kebanyakan masyarakat Bajo Indah memiliki tingkat pengetahuan dibawa rata-rata. Mereka belum bisa memanfaatkan hasil tangkapannya sendiri. Yang mereka ketahui bagaimana mencari ikan dan dibawa ketempat penampungan sehingga hasil yang mereka dapatkan hanya cukup untuk keperluan sehari-hari saja. Di samping itu, karena sudah terbiasa dengan lingkungan yang penuh sampah masyarakat setempat enggan untuk membersihkannya sehingga menjadi faktor peghambat tampilan dari desa tersebut.
Selain itu, kurangnya perhatian pemerintah terhadap desa tersebut agar mendapatkan penghidupan yang layak salah satunya jalan yang menyambunkan rumah antar penduduk selain jalan raya. Dimana jalan tersebut seperti jembatan yang ditanam dibawah air yang berbahan kayu sehingga saat ini jembatan tersebut sudah mulai goyang ketika dinaiki oleh beberapa orang. Di samping itu, kebanyakan rumah penduduk dindingnya berbahan asbes yang terdiri dari satu sampai dua petak. Dua ini terdiri atas satu ruang tamu dan lainnya untuk kamar tidur.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pernyataan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa kurangnya pendidikan yang diperuntukan bagi generasi-generasi mudah dalam masyarakat Bajo Indah sehingga masyarakat tersebut masih memiki pengetahuan yang minim terhadap pemanfaatan sumberdaya laut yang begitu berlimpah. Disamping itu, kurangya perhatian pemerintah dalam menanggulangi keadaan yang dialami oleh masyarakt Bajo Indah agar keluar dari belenggu kemelaratan yang masih berada dibawah garis kemiskinan.
3.2 Saran
Dari kesimpulan di atas, maka penulis menyarankan bahwa sebaiknya masayarakat Bajo Indah memberikan pengajaran kepada anak-anaknya tentang pentingnya pendidikan, disamping itu, tidak terlalu memberikan kebebasan pada para generasi terutama usia-usia dini dalam menangkap ikan sehingga mereka tidak berngaruh dengan keadaan lingkungan sekitar. Selain itu, perlunya pemerintahan desa dalam melayani masyarakatnya agar keluahan-keluhan masyarakat yang dipimpinnya dapat diketahui sehingga dari sinilah pemerintahan daerah mengambil ahli bagaimana menanggulangi kemelaratan masyarakat pesisir khususnya pada masyarakat Bajo Indah.
Komentar
Posting Komentar