SEJARAH MUNCULNYA DAN PERKEMBANGAN
ANTROPOLOGI LINGUISTIK
Sejak kelahiran Antropologi sebagai sebuah ilmu, ahli dari Eropa yang meneliti masyarakat diluar Eropa (Asia, Afrika, Oceania, Amerika Latin) tertarik dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku. Bahkan pada fase awal perkembangan ilmu Antropologi, salah satu kajiannya tentang perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka warna bahasa yang diucapkan manusia di seluruh dunia.
Pada tahap awal ini, para ahli Eropa yang tertarik dengan bahasa suku dilakukan dengan cara ekspedisi, yaitu dengan melakukan observasi lebih banyak dan wawancara dengan menggunakan penerjemah.
Pada tahap baru (Bronislaw Malinowski), mengkaji bahasa suku Trobrian dengan cara observasi partisipasi`dan belajar bahasa lokal untuk wawancara dan untuk memahami budaya. Sehingga pada tahap ini, bahasa lokal itu adalah objek sekaligus alat penelitian.
Fokus kajian di atas melahirkan bidang kajian tersendiri yang disebut Etnolinguistik atau Antropologi Linguistik.
Etnolinguistik adalah salah satu cabang dari ilmu Antropologi yang bertujuan mengidentifikasi kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bahasa suku bangsa.
Penelitian tentang bahasa suku bangsa meliputi susunan sistem fonetik, fonologi, sintaksis, dan semantik yang melahirkan karangan tata bahasa masyarakat yang dikajinya...\Bahasa dlm buku dasar2 linguistik umum.docx
Deskripsi mendalam tentang kosakata suatu bahasa menghasilkan daftar leksikografi atau vocabulary.
Vocabulary sangat diperlukan dalam rangka studi perbandingan bahasa, salah satunya dengan menggunakan metode leksiko statistik yang dikembangkan oleh M. Swadesh. Menurutnya seluruh basic vocabulary terdiri dari kira-kira 200 kata, berisikan tentang kata-kata yang berhubungan dengan anggota badan, gejala alam, warna, bilangan, dan kata kerja pokok (Koentjaraningrat, 1981:340).
Pengertian kebudayaan
Sejak akhir abad kedua puluh, peranan kebudayaan semakin penting dlm khdpn manusia, terutama sebagai modal untuk pengembangan sumeber daya manusia.
Setiap bangsa, berusaha membangun sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu dan teknologi dengan tetap berlandaskan pada budaya bangsanya agar ilmu dan teknologi yg diperolehnya dapat bermanfaat untuk kemaslahatan manusia.
Manusia dalam kehidupannya, mempunyai bayak kebutuhan hidup. Adanya kebutuhan hidup ini mendorong manusia melakukan berbagai tindakan.
Ashley Montagu, kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Garis pemisah antara binatang dengan manusia adalah kebudayaan.
Maslow mengidentifikasikan lima kelompok kebutuhan manuisa: kebutuhan fisiologi, rasa aman, afiliasi, harga diri, dan pengembangan potensi. Jika binatang, kebutuhannya pada dua hal yang pertama yakni fisiologi dan rasa aman serta memenuhi kebutuhanya secara instingtif. Manusia tidak mempunyai kemampuan bertindak secara otomatis berdasarkan insting. Olehnya itu, manusia berpaling kepad kebudayaan yang mengajarkan cara hidup.
Mavies dan John Biesanz, kebudayaan adalah alat penyelamat kemanusiaan di muka bumi ini.
Taylor (1871) seorang yang meletakkan definisi kebudayaan pertama kali, bahwa kebudayaan sbg keseluruhan bidang yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, dan kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Wilson (1966), kebudayaan adalah pengetian yang ditransmisi dan disebarkan secara sosial, baik bersifat eksistensial, normatif maupun simbolik yang tercermin dalam tindakan (action) dan benda-benda hasil karya manusia.
Kroeber dan Kluckholn (1952) menginventarisasi sekitar 160 definisi tetang kebudayaan yg dihasilkan oleh publikasi selama 350 tahun, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsip dengan definisi pertama yang dicetuskan Taylor.
Definisi kebudayaan mnurut Taylor dan Wilson mengacu pada kebudayaan dalam arti khusus (high culture). Padahal, kebudayaan dalam pengertian umum atau sehari-hari tidak dpt dipisahkan dari kehidupan manusia.
Goodenough dengan tegas mengatakan bahwa kebudayaan suatu masyarakat terdiri atas segala sesuatu yang harus diketahui dan diyakini masyarakat agar bertindak dengan suatu cara yang dapat diterima oleh anggota-angota masyarakat dan agar dapat berperan sesuai dengan peran yang diterima anggota masyarakat.
Dengan demikian, Kebudayaan adalah cara mengetahui yg harus dimiliki seseorang untuk menjalani tugas-tugas kehidupan sehari-hari dan kebudayaan mencakup pengetahuan tentang musik, sastra, seni, dsb.
Dua paradigma besar tentang kebudayaan, yang mendasari perbedaan tentang definisi kebudayaan yakni paradigma kognitif dan behavioris.
Paradigma kognitif atau ide rasional melihat kebudayaan sama dengan pikiran manusia sehingga sifatnya abstrak karena ada pada kepala manusia baik berupa nilai-nilai, ide-ide, pengetahuan maupun norma-norma. Dalam pandangan kognitif, adanya tindakan berpola atau wujud fisik sebagai akibat adanya kebudayaan manusia.
Dan sementara paradigma behavioris lebih mengartikan kebudayaan sebagai wujud tindakan /perilaku yang dapat diamati secara konkret. Penganut paradigma ini menganggap kebudayaan yang hanya memusatkan perhatian pada pikiran terlalu menyederhanakan dan menyempitkan arti kebudayaan.
Dua paradigma tersebut dapat digabungkan, sebagaimana kebudayaan menurut koentjaraningrat yaitu ide, tindakan, dan hasil karya manusia. Lebih detailnya, menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia melalui belajar.
Murdock, kebudayaan harus dipelajari. Artinya kebudayaan ditransmisi secara sosial dari bapak kepada anak, dari orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda, dari pelatih ke prajurit yang dilatih, dari pendeta ke calon biarawan/biarawati dari satu generasi ke generasi lain.
Untuk apa kebudayaan harus dipertahankan masyarakat?secara pragmatis, kebudayaan adalah kebiasaan suatu masyarakat yang bermanfaat untuk mempertahankan dan mengembangkan cara hidupnya.
Dari sini, terkadang kebudayaan hanya membahagiakan masyarakat tanpa ada hubungan dengan peningkatan kesejahteraan atau kadang-kadang menonjol kesejahteraannya tanpa secara langsung memperlihatkan kedamaian pada diri mereka.
Dari banyak pengertian kebudayaan tersebut, perlu didudukkan secara tepat. Berikut 6 hal penting yang harus dipedomani dalam mendefinisikan kebudayaan:
a. Segala kebiasaan yang dimiliki kelompok masyarakat
b. Pengetahuan yang ditransmisi dan dikomunikasikan secara sosial
c. Tercermin dan terwujud dalam ide, tindakan, dan hasil karya manusia
d. Pedoman untuk memahami lingkungan manusia dan untuk berinteraksi dalam kehidupan masyarakat
e. Harus dipelajari
f. Menyejahterakan dan atau membahagiakan masyarakat pendukungnya.
Dengan demikian, kebudayaan adalah keseluruhan kebiasaan kelompok masyarakat yang tercermin dalam pengetahuan, tindakan, dan hasil karya sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya untuk mencapai kedamaian dan/atau kesejahteraan hidupnya.
Wujud kebudayaan: ide atau gagasan, tindakan atau aktivitas, dan artifak/hasil karya.
Kebud tidak dapat dianggap sesuatu yang standar dan sesuatu yang statis, meskipun pelaku budaya atau adat istiadat selalu berusaha untuk melakukan statis. Ketidak statisan memperlihatkan adanya variasi bahkan perbedaan kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain dari satu waktu ke waktu yang lain meskipun dalam kelompok etnik yang sama.
Kebudayaan selalu berjalan secara toleran sesuai dengan tempat, situasi dan kondisinya.
Kebudayaan menyesuaikan diri dengan waktu dan lingkungan. Sejalan dengan itu, kebudayaan selalu berubah dan memang berada dalam proses perubahan sehingga kebudayaan tidak mungkin statis.
Kebervariasian dan kedinamisan kebudayaan merupakan inti konsep relativisme kebudayaan. Lihat definisi cultural relativism Winick. Relativisme kebudayaan juga tergambar dalam 7 hakikat kebudayaan, yaitu:
a. Terjabarkan melalui komponen-komponen biologis, lingkungan, psikologis, historis, dan eksistensi manusia;
b. Diperoleh dan diwariskan secara sosial dengan proses belajar
c. Berstruktur
d. Terbagi dalam aspek-aspek atau unsur-unsur
e. Dinamis
f. Sangat beragam
g. Relatif.
Baik covert culture (kebudayaan dalam) atau overt cultur (kebud luar) memiliki ketujuh hakikat kebudayaan. Dengan demikian, unsur-unsur kebudayaan universal adalah
Bahasa
Sistem pengetahuan
Organisasisosal
Sistem peralatan hidup
Sistem mata pencaharian
Sistem religi
Kesenian
Ketujuh unsur ini memiliki urutan yg bermakna.
Bahasa diurutan pertama karena manusia sebagai makhluk biologis harus berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok sosial. Bahasa merupakan kebudayaan yang pertama dimiliki oleh setiap manusia dan bahasa dapat berkembang karena akal atau sistem pengetahuan manusia membangun dan mengatur segala kehidapan manusia dalam organisasi sosial. Dengan berkembangnya organisasi sosal maka manusa menemukan atau menciptakan peralatan hidup untuk mengembangkan kehidupan mereka. Penemuan peralatan dan teknologi akhirnya dapat mengembangkan mata pencaharian. Setelah menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dalam mencari mata pencaharian dia kemudian mempunyai keyakinan atau kepercayaan bahwa ada kekuatan lain di luar dirinya.
Sebuah contoh: ketika dia mencangkul atau mengerjakan tanahnya, datang angin kencang. Dua tiga langkah dari tempatnya, ternyata tidak ada angin sekencang itu karena ada batu besar yang menghambat arus angin. Dari sini kemudian dia yakin bahwa batu besar itu mempunyai kekuatan gaib. Untuk mengiringi kepercayaan atau sistem religi itu supaya lebih semangat, lebih meriah, dan lebih semarak maka diciptakan kesenian. Itulah sebabnya, jika kesenian dihubungkan dengan religi, maka kesenian itu akan berkembang seperti agama kristen dan hindu.
Baik hakikat atau unsur kebudayaan sangat penting untuk dipahami, ketika ingin bicara tentang kebudayaan. Berdasarkan ketujuh unsur kebudayaan. Kita dapat mempertanyakan mana kebudayaan asli kita, mana yang berasal dari kebudayaan asing. Baik pakaian, makanan, permainan, olahraga, peralatan sehari-hari, religi maupun kesenian yang kita senangi serta kita biasakan dalam hidup kita pada umumnya bukan berasal dari kebudayaan kita sendiri, melainkan berasal dari kebudayaan asing. Hal ini tidak disadari bahwa bahkan sudah menjadi kebiasaan bagi kita. Pada mulanya, kebudayaan hanya merupakan loan culture (kebudayaan yang dipinjam) untuk memenuhi dan memperkaya kebutuhan, lama-lama terjadi enculturation (enkulturasi), yaitu proses beradaptasi suatu kebud dan memenuhi fungsi status dan perannya terhadap kebudayaan. Proses-proses itu tidak semata-mata memperkaya kebudayaan kita tetapi juga menghilangkan kebudayaan kita tanpa kita sadari. Contoh saya dosen jawa, jika kamis atau senin memakai baju khas jawa akan ditertawakan orang, mungkin dianggap aneh, namun kembali pada kebudayaan adalah soal kebiasaan, bukan soal benar atau salah.
Persoalan bahasa, yang dari kebudayaan kita ada dua, yaitu bahasa etnik (daerah) atau bahasa indonesia. Ilustraskan....penggunaan bahasa bagi masyarakat desa dengan masyarakat kota. Umumnya masyarakat desa tidak mampu bahasa daerah, tetapi bisa bahasa asing maka dia ini kehilangan budaya sendirinya.
Kebudayaan merupakan pola perilaku seseorang yang sama dengan pola perilaku sesamanya dalam kelompok masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan adalah blue print bagi keberadaan seseorang dan kelompok sosialnya.
Pengertian bahasa
Dalam kaitanya dengan kebudayaan, bahasa juga merupan milik anggota masyarakat. Bahasa ditransmisi secara sosial. Bahasa tercermin dalam ide, tindakan, dan hasil karya mansuai.
Bahasa sebaga sarana manusia untuk berperan, bertindak, berinteraksi dan berfungsi dalam kehidupan masyarakat.
Bahasa harus dipelajari, bahasa juga dapat membahagiakan masyarakat lewat pesan yang disampaikan.
Berikut beberapa definisi bahasa
Barberdasarkan dalam bukunya the story of language , mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem tanda yang berhubungan dengan lambang bunyi-bunyi suara dan digunakan oleh suatu kelompok masyarakat untuk komunikasi dan bekerja sama.
Wardhaugh, bahasa adalah suatu sistem lambang bunyi suara yang arbitrer, digunakan untuk berkomunikasi antara manusia.
Badudu, bahasa adalah alat penghubung, alat komunikasi anggota masyarakat yaitu individu-individu sebagai manusia yang berfikir, merasa, dan berkeinginan. Pikiran, perasaan, dan keinginan baru terwujud bila dinyatakan dan alat untuk menyatakan adalah bahasa.
Trager, bahasa adalah sistem simbol-simbol bunyi ujaran yang arbitrer, digunakan oleh anggota masyarakat sebagai alat untuk berinteraksi sesuai dengan keseluruhan pola budaya mereka.
Sapir, bahasa adalah metode atau alat penyampai ide, perasaan, dan keinginan yang manusiawi dan non instingtif dengan mempergunakan sistem simbol-simbol yang dihasilkan dengan sengaja dan sukarela.
Saussure, bahasa adalah suatu sistem tanda yang mengekspresikan ide-ide, oleh karena itu dapat dibandingkan dengan sistem tulisan, alfabet orang-orang yang bisu-tuli, upacara-upacara simbolis, formula-formula yang bersifat sopan, isyarat-isyarat, namun bahasa adalah sistem tanda yang paling penting dari semua sistem tanda itu.
Bolinger, bahasa adalah sistem komunikasi yang berhubungan dengan suara dan pendengaran, yang berinteraksi dengan pengalaman-pengalaman pemakainnya, yang menggunakan tanda-tanda konvensional berupa unit-unit pola bunyi yang arbitrer dan dipergunakan sesuai dengan aturan-aturan tertentu.
Kridalaksana, bahasa adalah sistem lambang yang arbitrer, dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri
Keraf, bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa lambang bunyi suara, yang dihasilkan oleh alat ucap (pita suara) mansia.
Dari beberapa pendapat ahli, dapat disebutkan 3 sifat bahasa: sebagai sistem tanda atau sistem lambang, sebagai alat komunikasi, dan digunakan oleh kelompok manusia atau masyarakat.
Sifat lain bahasa, yang juga sama sebagaimana definisi pakar, bahwa bahasa adalah bunyi suara, bersifat arbitrer, manusiawi, berhubungan dengan suara dan pendengaran, konvensional, dan bersistem.
Fungsi bahasa
Secara garis besar, fungsi bahasa dibagi atas fungsi mikro dan makro. Mikro berarti bahasa dalam fungsinya lebih khusus untuk kebutuhan setiap manusia. Fungsi mikro meliputi: fungsi bahasa menyangkut kebutuhan individu atau kepentingan pribadi, antara lain:
1) Fungsi nalar
Bahasa digunakan sebagai alat berpikir. Saat kita berpikir, berhitung, menyangkal, kita sering berbicara dengan diri kta sendiri. Berfikir pada umumnya dilakukan manusia dengan kata-kata. Saat berbicara dan menulis terlihat bentuk-bentuk pikiran. Bahasa tidak hanya mengungkapkan pikiran, tetapi juga alat berpikiran.
2) Fungsi emosi
Bahas digunakan sebagai alat penyampai perasaan. Bahasa berfungsi bila seseorang dalam keadaan senang, bangga, marah, dan kesal
3) Fungsi komunikatif
Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi berlaku proses dua arah, penutur dan pendengar
4) Fungsi perekam
Bahasa digudiinakan sebagai alat pencatatan hal-hal penting diingat berupa catatan harian, pribadi, resmi, laporan dalam organisasi. Arsip, naskah dan kepustakaaan merupakan wujud dari fungsi perekaman.
5) Fungsi mengidentifikasi
Bahasa digunakan untuk mengidentifikasi benda-benda dan peristiwa yang ada di lingkungan untuk keperluan masyarakat berkomunikasi.
6) Fungsi fatis
Bahasa digunakan dalam pemeliharaan hubungan sosial dengan melakukan sapaan kepada orang lain. Tujuannya bukan untuk dapat informasi tetapi basa basi yang sangat bermanfaat untuk menjaga hubungan.
7) Fungsi memberi rasa senang
Bahasa digunakan untuk memberikan kesenangan kepada pendengar atau pembacaanya. Biasanya melalui kesusastraan. Bahasa memperlihatkan keindahannya, baik dengan penggunaan gaya bahasa, permainan bunyi, pemeliharaan kata maupun penyusunan struktur kalimat.
Adapun fungsi makro, fungsi bahasa secara luas yang memenuhi kebutuhan sosial dengan melampaui kepentingan pribadi. Berikut fungsi makro dari bahasa:
Fungsi ideasional
Fungsi interpersonal
Fungsi estetika bahasa
Fungsi tekstual
Fungsi sosiologis
Lima fungsi ini lebih menekankan fungsi teoritis bahasa dalam sistem komunikasi. Lebih spsesifik terkait dengan kemampuan komunikatif penutur bahasa.
Menurut Karl Buhler, ada tiga fungsi bahasa: pertama, fungsi ekspresif: berorientasi pada diri pembicara untuk menampakkan hal ikhwal yang bersangkutan dengan pribadinya; kedua, fungsi apelatif: berorientasi pada lawan bicara untuk menimbulkan reaksi pada pendengar dengan tujuan mempengaruhi, mengajak, menyuruh, memerintah atau melarang; ketiga, fungsi representasi: beroroientasi pada suatu realita untuk menggambarkan situasinya.
Hubungan bahasa dengan sesuatu yang diwakilinya.
Sejalan dengan Buhler, ada juga fungsi lain: fungsi ekspresif, fungsi sosial, dan fungsi deskriptif.
Bronislaw Malinowski, pelopor fungsionalisme membagi fungsi bahasa atas pragmatis dan ritual. Pragmatis berarti bahasa sebagai alat komunikasi; ritual berarti bahasa dihubunkan dengan kegiatan upacara atau keagamaan dalam suatu kebudayaan.
Kompetensi Bahasa
Bahasa adalah bagian dari kebudayaan yang erat hubungannya dengan berpikir. Masyarakat dengan budayanya, memiliki cara berpikir tentatang yang diekspresikan dalam bahasanya. Bahasa adalah alat intelektual yang fleksibel. Salah satu kemampuannya adalah merefleksikan dunia dan dirinya sendiri. Bahasa dapatt mendeskripsikan budaya masyarakat pemakai bahasa. Melalui bahasa, kita dapatt memahami budaya pemakai bahasa yang didalamnya tercakup cara berpikir masyarakatnya.
Kita menganggap bahwa berbicara adalah hal-hal yang wajar sama seperti kita bernafas. Namun kita tidak akan optimis berbicara sehingg kita lakukan semuanya secara instingtif. Kita pernah mengalami kesulitan memilih satu kata yang tepat dan benar untuk mengungkap sesuatu. Untuk itu kita harus memiliki komptensi berbahasa yang mencakup kompetensi gramatikal, kompetisi komunikatif, dan kompetensi kreatif.
Kompetensi gramatikal: menyediakan kemampuan kita mengenal dan menggunakan pola-pola leksikal dan sintaksis. Kompetensi komunikatif: memberika kita kemampuan berkomunikasi yang efektif; kemampuan kreatif: memberikan kemampuan untuk mengeksploitasi kemampuan-kemampuan lain secara unik dan kreatif.
Komentar
Posting Komentar