Langsung ke konten utama

Kajian Antropologi Linguistik di tinjau Bahasa dan Politik (Antropologi Linguistik)

Jika kita melihat hakikat bahasa sendiri secara umum didefinisikan sebagai alat komunkasi. Tetapi penjelasan tersebut kurang tepat, karena pertanyaan mengenai definisini juga harus menjawab dengan definisi dan bukan fungsi. Sebenarnya hakekat bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sebuah komponen yang berpola secara tetap dan dapa dikaidakan. Menurut pandangan sosiolinguistik bahasa itu mempunyai ciri sebagai alat mengidentifikasikan diri.
 

Sealain fungsi penggunaannya sebagai situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku menurut Gravin dan Matiot (1956:785-787) juga mempunyai funsi sosial politik yaitu fungsi pemersatu, pemisah, harga diri, kerangka acuan.

Terlepas dari pendefinisian apa hakekat bahasa sebenarnya, maka pembahasan selanjutya kita akan menyinggung masalah topik utama yaitu “bahasa dan politik”. Bahasa dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Politikus harus menemukan cara-cara agar bisa mempengaruhi masyarakat dan mereka seringkali menggunakan aspek retorika (seni berbicara) dari bahasa ini untuk mencapai tujuan.

Politik sangat erat kaitannya dengan masalah kekuasaan, pegambilan keputusan, kebijakan publik dan alokasi atau distribusi. Pemikran mengenai politik di dunia barat banyak dipengaruhi oleh filsuf Yunani Kuno seperti Plato dan Aristoteles yang beranggapan bahwa politik sebagai suatu usaha untu mencapai masyarakat yang baik. Usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik ini menyangkut bermacam-macam kegiatan yang diantaranya sendiri dari proses penentuan tujuan dari sistem serta cara-cara melaksanakan tujuan itu. Politik adalah masalah kekuasaan, yaitu kekuasaan utuk membuat keputusan, mengendalikan sumber daya, menegendalikan perilaku orang lain dan sering kali mengendalikan nilai-nilai yang dianut oleh orang lain. Misalya salah satu bentuk politik yang dilakukan oleh pihak yang bekepentingan seperti caleg. Biasanya akan terpampang bahasa pada baleho dimana bahasa tersebut mewakili apa yang menjadi tujuan mereka dalam mempengaruhi masyarakat banyak agar apa yang diinginkan bisa tercapai.

Penggunaan bahasa tidak hanya sekedar mempengaruhi seseorang tetapi bisa digunakan sebagai pengendali pikiran orang. Sungguh kekuata bahasa yang luar biasa seperti pepatah mengataan “dengan bahasa akan ku kuasai dunia”. Uraian di atas menunjukkan bahwa bahasa bisa digunakan untuk mempengeruhi atau mengubah ideologi sehingga mampu mempengeruhi cara berpikir seseorang.
 
Lalu bagamana caranya agar kita tahu kapan politisi berbohong? Jawab: setaip kali mereka berbohong, mereka selalu menggerakan bibirnya (artinya politisi tidak pernah berhenti berbohong dan selalu berbohong). Hal demikian memberikan pemahaman kepada kita bahwa setiap politisi menyampaikan pendapat atau gagasan maka pasti memilki unsur kepentngan kekuasaan di dalamnya. Para politisi sering menggunakan bahasa dengan tujuan untuk mendapatkan simpati dari rakyat untuk kepentingan meraih kekuasaan. Sehingga para politisi tidak akan menggunakan bahasa secara umum yang sering digunakan oleh orang masyarakat terutama terdapat di media massa.

Kemudian politisi juga tidak akan menggunakan kata-kata yang terlalu panjang. Hal ini disebabkan penggunaan kata-kata yang terlalu panjang membuat kebosanan dan akan terjadi ketidak pahaman terhadap maksud dari polotisi tersebut. Sebaliknya politisi akan mengguanakan bahasa yang singkat namun mencapai sasaran yang diinginkan. Penggunaan bahasa dikalangan politisi juga selalu mengguanakan bahasa yang aktif yang di dalam bahasa tersebut akan ditunjukan konstribusi yang telah ia lakukan terhadap rakyatnya sehingga rakyatpun tertaraik dari bahasa yang ia lontarkan.

Selain itu, salah satu cara yang banyak dignakan dalam retorka politik adalah “pernyataan tiga bagian”. Ini adalah sebagai strategis linguistic di mana hal-hal yang diutarakan dikelompokkan menjadi tiga bagian. Pengelompokka ini bertujuan agar terasa lebih esterik. Seperti halnya salah satu partai di Indonesia yang mengatakan “hanya dengan hati nurani kita akan meresahkan kesengsaraan, penderitaan, dan kemiskinan”.

Pemilihan kata dalam penggunaan retorika politik sangat penting agar bisa menimbulkan persepsi positif terhadap diri seseorang politikus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...