Langsung ke konten utama

Pengalaman Kami Berkunjung ke Desa Jati Bali Kendari Sulawesi Tenggara (Multikulturalisme)

Assalamualaikum warrahmatulahi wabarakatu...!

Minggu, 25 November 2018, saya dan teman-teman melakukan kunjungan di Desa Jati Bali dengan tujuan untuk melakukan penelitian di desa tersebut. Saat kami sampai di tempat tujuan ternyata yang melakukan penelitian saat itu bukan hanya mahasiswa antropologi tapi mahasiswa jurusan lain juga saat itu, melakukan penelitian di desa itu. Awalnya saya mengirah bahwa ketika sampai di lokasi penelitian, kami akan langsung penelitian tapi sesuai kebiasaan masyarakat Jati Bali di mana setiap mahasiswa yang melakukan penelitin di temapat itu, terlebih dahulu mereka dikumpul di balai desa. Kebiasaan ini juga dilakukan oleh para mahasiwa yang melakukan penelitian saat itu.

Kami dikumpul di ruang pertemuan atau di balai desa bersama dengan jurusan lain. Disitu pula saya melihat wajah-wajah baru  yang sebelumnya belum dilihat. Karena saat itu, bukan hanya jurusan antropologi yang melakuka penelitian tapi jurusan pertanian juga melakukan penelitian sehingga gedung yang dipersiapkan untuk menampung para mahasiswa saat itu terlihat penuh bahkan kursi yang dipersiapkan oleh pihak desa tidak mencukupi jumlah mahasiswa sehingga terlihat sebagian dari mereka ada yang duduk dan sebagian lainnya ada yang berdiri.

Pada saat itu, kami didampingi oleh dosen pengampuh mata kulia yakni multikulturalisme yang membimbing kami saat melakukan penelitian. Namun, hal demikian tidak hanya terlihat pada jurusan antropologi. Pendampingan ini, juga ada pada jurusan lain yang melakukan penelitian saat itu yakni jurusan pertanian. Malahan jika dibandingkan masa antara mahasiswa Antropologi dan Pertanian lebih dominan mahasiswa pertanian karena saat itu kami hanya satu kelas sementara mereka empat kelas sehingga pendampingan juga disesuaikan dengan kelasnya. Karena saat itu, Kepala Desa Jati Bali ada urusan di luar sehingga yang menggantikan beliau adalah Ibu Desa dan sekaligus yang memimping pertemuaan saat itu.

Himbauwan yang disampaikan Bu desa pada mahasiswa yang melakukan penelitian bahwa mereka merasa senang karena ada lagi mahasiswa UHO yang meneliti di desa tersebut dan mereka jika ada saat itu yang menulis tugas akhir (sikripsi) mereka siap untuk membantu dan tinggal di desa itu selama waktu penelitian ditentukan. Di samping itu, Bu desa juga menghimbau jangan ada aktivitas yang dapat menggangu ketentraman masyarkat karena sebelumnya mahasiwa yang meneliti di tempat tersebut tidak memberikan kesan yang buruk selama prose penelitian sedang berlangsung. Hal demikian juga diharapkan kepada kami untuk memberikan kesan positif terhadap masyarakat Jati Bali.

Setelah sambutan Bu desa selesai maka dilanjutkan dengan perkenalan setiap perwakilan di mana mahasiswa jurusan antropologi diwakili langsung oleh dosen pengampuh mata kulia begitu pula jurusan lain. Awal perkenalan dipersilahkan kepada  perwakilan jurusan pertanian untuk disampaikan apa maksud dan tujuan melakukan penelitian di masyarakat Jati Bali. Karena masyarakat tersebut dikenal sebagai petani yang sukses sehingga hal demikianlah para pihak dari jurusan pertanian pelakukan kunjugan penelitian di desa tersebut. Mereka ingin mengetahu bagaiaman metode yang diterapkan pada masyarakat Jati Bali sehingga dikenal sebagai petani yang sukses. Sementara, dari pihak antropologi ingin mengetahui bagaimana hubungan masyarakat Jati Bali sehingga jarang ada berita yang negative pada masyarakat tersebu. Kami juga ingin mengetahui nila-nilai apa yang mereka terapkan sehingga hubungan antara masyarakat satu dan yang lainnya tetap terjaga keharmonisannya. Setelah selesai perkenalan maka dengan ini, Bu Desa mengatakan bahwa penelitian dibuka dengan resmi dan dipersilahkan para mahasiswa untuk melakukan aktivitasnya.

Sebelum kami meneliti, dosen pengampuh mata kulia terlebih dahulu mengumpulkan para mahasiswanya dibelakan gedung perumahan sekolah. Di situ beliau menghimbau bahwa selakan lakukan penelitian dan satu hal yang harus diingat bahwasanya di desa ini mayoritas agama Hindu jadi, bersikaplah sebagai antropologi agar bisa menyatu dengan masyarakat bersangkutan. Beliua juga mengatakan, sebaiknya jangan berjalan sesuai benyaknya jumlah anggota kelompok tapi setiap kelompok minimal tiga atau empat orang dalam mencari data sementara anggota lainnya juga demikian.

Setelah itu, kami pun melakukan penelitian sesuai  apa yang telah disampaikan oleh  dosen pengampuh mata kulia. Saat berjalan kami kebingungan karena terlihat keadaan desa tersebut nampat tak berpenghuni hanya satu dua  orang yan terlihat diluar itupun kalangan orang yang lanjut usia. Disetiap rumah kami singgahi tapi tetap tidak ada tanda-tanda ada penghuninya sehingga saya memberanikan diri untuk memastikan apakah rumah tersebut ada orangnya atau sedang keluar.

Saat melangkah di rumah tersebut, didepan ada anjing peliharaan penghuni rumah yang sedang menggonggo kami merasa ragu untuk masuk samapai akhirnya bisa dilewati tantangan itu dan ternyata penghuni rumah itu hanya seorang anak dan beberapa teman lainnya yang lagi nonton televisi. Saat kami tanya di mana orang tuanya ia menjawab sedang keluar berkebun dan sebentar siang baru pulang. Sementara waktu penelitian kami hanya sebatas jam 12.00 Wita setelah itu semua mahasiswa antropologi harus pulang. Akhirnya kimi memutuskan untuk cari informan lain dan bukan dilingkungan tempat tersebut tapi diebelah lainnya. Dan akhirnya setelah beberapa langkah perjalanan kami menemukkan salah satu ibu yang sedang cuci muka di WC. Tanpa berfikir panjang kami hampiri orang tersebut dan ia pun kaget melihat kedatangan kami padanya. Sesampai itu, kami menjelaskan kepada ibu tadi apa maksud dan tujuan sehingga kami berada di masyarakatnya.

Setelah dijelaskan semuanya baru orang tersebut faham dengan maksud dan tujuan kedatangan kami dan ia tidak keberatan untuk diwawancarai. Segala pertanyaan telah diajukan kepadanya, namu tidak semuanya dijawab dengan apa yang kami harapkan. Tapi tetap kami syukuri setidaknya sudah ada gamabaran tentang bagaimana hunbungan masyarakat Jati Bali antar sesama dan masyarakat lainnya. Disamping itu, nilai-nilai apa saja yang dianut pada masyarakat tersebut sehingga hubungan itu tetap terjaga sampai saat ini.

Selain itu, salah satu teman kami memintah izin untuk memasuki tempat peribadatan informan dan berfoto di tempat tersebut. Sebenarnya saya merasa aneh untuk memasukinya tapi karena teman-teman penasaran dengan tempat tersebut akhirnya saya pun terikut masuk dan melihat bagaimana wajud tempat peribadatan agama Hindu.

Setelah itu kami pun pamit kepada ibu tadi dan mengucapkan banyak terima kasih karen sudah ikut membantu dalam kegiatan penelitian ini. Lalu beranjak dari tempat tersebut menuju kebagian jalan raya namu kami tak melihat penghuni rumah keluar dan pintu rumah masyarakat kebanyakan tertutup dan ada juga masyarakat lainnya namun mereka dalam keadaan sedang bekerja dan kami merasa tidak enak mengganggu aktivitas masyarakat tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk putar balik dan melewati rumah informan yang pertama dan dipersimpangan jalan kami melihat anggota kelompok lainya sedang menghampiri dan mereka bernyanya sudah berapa informan yang didapat kami menjawab baru satu sementara mereka sudah tiga informan. Kami disuruh oleh mereka untuk mencari satu lagi agar cukup sampai lima informan. Mendengar hal itu,saya merasa kelopok kami tidak terlalu kompak dalam mencari informan sehingga semapat terjadi salah-menyalahkan antar sesama sampai akhirnya kami melihat salah satu orang tua yang sedang bekerja namun, kami tidak tahu apakah ia seorang pemilik rumah atau tukang. Kami memberankan diri untuk meminta kesediaan bapak tersebut agar menjadi salah satu informan penelitian dari penelirian yang telah kami bangun. Sejenak ia bertanya apakah sudah ada izin dari desa dan kami menjawab “ya sudah” baru orang tua tadi berkenang untuk diwawancarai.

Awalnya kami merasa gugup dengan orang tersebut karena disamping wajahnya sangar dan pendiam juga nada suaranya tinggi sehingga sering beliau mengeluarkan suara yang besar. Namu, hal demikian tidak terlalu lama berlangsung. Setelah diberikan pertanyaan yang disertai dengan cerita seolah-olah bapak tadi dan kami merasa sudah tidak ada rasa asing. Ia pun mulai melepaskan tawanya meskipun kami tida terlalu mengerti apa yang telah diutarakannya, hanya saja tetap kami menyesuaikan dengan keadaan agar tidak terjadi kesalah pahaman.

Adapun pertanyaan yang di bberiakan kepada informan tersebut tidak jauh berbeda dengan informan yang pertama sehingga informasi yang didapat sebagian besar sama yang dituturkan oleh informan sebelumnya hanya pengembangan pertanyaan yang membedakan informasi tesebut.

Seleh selesai melakukan Tanya jawab dengan informana, tak lupa kami menyampaikan juga banyak terimakasih sebagaimana informan sebelumnya yang telah membatu dalam memberikan informasi terkait dengan keadaan masyarakat Jati Bali. Dan pihak yang dijadikan sebagai informan mereka adalah penduduk asli yang tinggal dilingkungan masyarakat tersebut.

Anehnya ketika keluar dari lingkungan rumah informan kedua tadi salah satu teman kami dihadang oleh anjing liar sehingga menghambat perjalanan saat kami ingin kembali ditempat semula. Hampir beberapa menit kami berada di luar lingkungan rumah informan tersebut hingga akhirnya ia sendiri yang turun tangan dan diikuti oleh anjing peliharaannya dan menakuti anjing yang sudang menghadang kami. Akhirnya dengan bantuan bapak tadi sehingga anjing itu berhenti menggonggong kami juga sempat diberitahu kalau ada lagi kejadian seperti ini maka lempar saja pake batu anjing tersebut agar dia lari. Namun karena kami masih teringat oleh pesan Bu desa bahwa berikanlah kesan yang baik agar masyarakat tidak berpandangan negatif terhadap mahasiswa yang melakukan penelitian. Setelah itu kami perpamitan kembali kepada bapak tadi karena sudah membantu dalam pengusir anjing tadi. Dan kami kembali ketemapat teman-teman kumpunl serta membagikan hidangan yang sudah disediakan. Setelah kami semua selesai makan istirahat sejenak kemudian dosen pengampuh matakulian memberikan intruksi untuk kembali ke kampus dengan membawa sampah dari bungkusan hidangan makanan, lalu kami beranjak pulang dari desa Jati Bali menuju ke Kampus Baru tepatnya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo. Itulah kunjungan saya selama berada di Jati Bali Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu...!        

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...