Langsung ke konten utama

MAKALAH TENTANG PEMBAHASAN MULTIKULTURALISME (ANTROPOLOGI MULTIKULTURALISME)

Latar Belakang

Akar dari dari multikulturalisme adalah kebudayaan karena multikulturalisme itu sebuah ideologi dan sebuah alat atau wahana meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaannya maka konsep kebudayaan harus dilihat dalam perspektif fungsinya bagi kehidupan manusia.

Negara kita kaya raya akan sumber-sumber daya alam dan kaya akan sumber daya manusia yang berkualitas. Tetapi pada masa sekarang ini kita, bangsa Indonesia tergolong sebagai bangsa yang paling miskin di dunia dan tergolong kedalam bangsa-bangsa yang negaranya yang paling korup. Salah satu sebab utamanya karena kita tidak mempunyai pedoman etika dalam mengolah sumber-sumber daya yang kita punyai.

Secara garis besarnya etika dapat dilihat sebagai pedoman yang berisikan aturan-aturan baku yang mengatur tindakkan-tindakkan perlu dalam sebuah profesi yang di dalam pedoman tersebut terserap proral dan nilai-nilai yang mendukung dan menjamin dilakukannya kegiatan profesi  si pelaku sebagaimana seharusnya, sesuai hak dan kewajiban.
Mutikulturalisme adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, pluralitas, dan kehidupan mulitikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, multikulturalisme mencakup juga  suatu pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang serta penghormatan dan keingitahuan tentang budaya etnis orang lain. Dengan demikian multikulturalisme membahas mengenai penerimaan dan penghargaan terhadap suatu kebudayaan, baik kebudayaan sendiri maupun kebudayaan orang lain.
Adapun dalam pembahasan makalah ini (bikin sendiri kata-katanya ok:)






Rumusan Masalah (buat sendiri rumusan masalahya)


Tujuan (buat sendiri)



PEMBAHASAN

A.    MULTIKULTURALISME


Cara berinteraksi dengan etnis yang berbentuk multikulturalisme terdiri dari tiga kata yakni: multi artinya banyak, kultur artinya budaya, dan isme artinya pandangan atau faham. Dengan kata lain, multikulturalisme dapat dipahami sebagai pandangan budaya yang banyak atau pandangan terhadap suatu budaya yang banyak dan bersatu.

a)    Model Masyarakat Multikultural

Masyarakat multikulturalisme di tandai dengan dua model masyarakat yakni metting pot (panci peleburan) dan salad bowl (mangku salad). Metting pot seperti gado-gado makanan yang dikasi bumbu-bumbu sedangkan yang lainnya diibaratkan seperti kue roti yang bahan-bahannya tidak tampak di sebut salad bowl.

Di antara suku-suku masih memperlihatkan identitas-identitasnya tersendiri yang bedaan-beda di antara suku-suku tersebut. Misalanya masyarakat yang ada di Kendari kita sebut salah satu suku di dalam yakni Buton. Perbedaan lebih dominan terletak pada perbedaan bahasa, artinya suku Buton memiliki bahasa tersendiri di antara suku lainya juga demikian. Di samping itu, selain bahasa yang membedakan juga terlihat pada pola pergaulan yang menandakan persatuan di antara masing-masing suku. Untuk persatuan suku, hal ini lebih terlihat pada masyarakat suku Muna yang ada di Kendari ini. Persatuan ini terlihat ketika anggota mereka diganggu atau bermasalah dengan suku lain. Oleh masalah tadi. Biasanya orang yang bermasalah dengan suku tersebut akan mendapatkan kosekuensi yang besar karena setiap masalah yang di timbulkan sering di selesaikan dengan tindakan yang membehayakan orang lain. Jadi ia (yang bermasalah) di pastikan harus siap atau waspada dalam menjalani kehidupannya. Dari sini tuliskan atau ceritakan pengalaman anda.

b)     Politik Multikulturalisme

 Politik multikulturalisme berbicara kebijakan yang di ambil oleh seorang penguasa dalam suatu negara ataupun daerah tertentu. Biasanya pihak-pihak pemerintah harus bisa menentukan kebijakan yang mereka buat karena hal itu dapat yang menentukan kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Maksudnya saat kebijakan itu tidak sesuai dengan sebagian besar atau kecil kehidupan masyarakat maka dapat menimbulkan deskriminasi dalam masyarakat tersebut. Biasanya mereka yang merasakan hal demikian hidup dalam masyarakan yang mayoritas sehingga kebanyakan kebijakan-kebijakan yang dikeluargan lebih dinikmati oleh masyarakat mayoritas itu. Semestinya kebijakan pihak pemerintahan harus di sesuaikan dengan keadaan-keadaan dalam masyarakat tersebut agar tidak terjadi deskriminasi atau tidak ada pihak lain yang merasa diuntungkan misalnya pada masyarakat kota Kendari yang yang terdapat empat suku yakni suku Tolaki, Muna, Bugis dan Buton. Mudari sini ceritakan pengalaman anda:

c)    Toleransi

Toleransi adalah sikap positif dalam hubungan antarwarga negara yang multikultur. Antarwarga negara harus mengedepankan sikap tersebut toleransi ini, agar tidak terjadi konflik yang akibatnya akan menimbulkan suatu perpecahan antara ke dua belah pihak. Toleransi dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni toleransi aktif dan pasif.
Toleransi aktif yakni melakukan sesuatu yang di terimah oleh kelompok lain. Sedangkan toleransi pasif yakni menerima sesuatu yang di terima oleh kelompok lain. Ini bahwa ketika seseoang melakukan sesuatu terhadap pihak yang tidak toleran maka dapat dikatakan toleran aktif dan lanwannya dari pernyataan tadi berati toleransi pasif. Dari sini ceritakan pengalaman anda:

d)    Streotype

Streotype dapat berupa prasangka positif dan juga negatif dan kadang-kadang di jadikan alasan untuk melakukan tindakkan deskriminatif. Sebagian beranggapan bahwa segala bentuk streotype adalah negatif. Dengan demikian streotype dapat disimpulkan sebagai usaha sadar yang dibangun oleh seseorang dalam memberikan penilaian terhadap orang lain cenderung pada ke hal-hal yang negatif.
Misalnya orang Cina yang sebagian besar dianggap sebagai manusia yang kikirnya tingkat tinggi, sebagaiaman pernah didengar bahwa ketika seseorang belanja sesuatu di tokoh mereka maka uang yang di bawah tidak boleh kurang meskipun itu hanya senilai Rp 100. Banyak orang mengatakan seperti itu. Disamping itu, sering sikap ini mengambing hitamkan para pemeluk agama islam yang biasa di sebut sebagai terorisme. Bahwa kejadian-kejadian tragis yang sering-sering terjadi di negara-negara seperti bom bunuh diri itu, dilakukan oleh orang yang beragama islam sehingga banyak pihak-pihak yang mengasingkan agama ini pada hal misi utamanya dari agama tersebut sebagai pembawa perdamaian dan kasi sayang (rahmatanlil’alamin) bagi seluruh umat manusia.

e)    The Other (orang lain)

The other memiliki batasan dengan we (kita atau kami), namun dalam membahas multikulturalisme akan melibatkan suku dan agama. Biasanya the other ini saat kedua atau lebih orang berada di lingkungannya karena tidak menutup kemungkinan mereka terjadi konflik. Sementara akan memperlihatkan we (kita/ kami) saat seseorang berada ditempat lain saat mereka bertemu akan menyebut dirinya kita atau kami. Oleh karena itu, perpindahan tempat ini dapat mempengaruhi batasan tersebut.
Selain itu, seseorang akan menjadi bagiannya ketika terjadi pernikahan antara kedua belah pihak yang asalnya berbeda misalnya pihak laki-laki dari suku Bugis dan wanita dari suku Muna maka yang tadinya kedua belah pihak memiliki batasan tapi karena sudah terjadi pernikahan maka mereka akan menyebut dirinya sebagai kita/ kami. Namun contoh  yang lebih besar misalnya ada seseorang yang pergi ke luarnegeri karena urusan pekerjaan tetapi saat orang itu bertemu dengan orang lain tapi asal negaranya sama maka ia akan mengatakan bahwa orang kita ini. Mulai dari sini ceritakan pengalaman anda ok:




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...