Langsung ke konten utama

Si-Loong (Hitam) “Asal Usul Bendera Ula-ula pada Suku Bajo” (Cerita legenda dari suku Bajo)



Pada cerita yang di tampilkan melalui infocus, memberikan kami penonton melihat langsung apa yang di tampilkan. Cerita yang berjudul Si-Loong (Hitam) menceritakan tentang asal-mula bendera Ula-Ula  yang di kenal masyarakat suku Bajo secara umum. Si-Loong merupakan manusia yang berkulit hitam yang di temukan oleh masyarakat setempat duduk di atas batu. Tidak ada yang tahu ia berasal dari mana sebab dalam kisahnya ia terlihat oleh masyarakat duduk di atas batu. Namun kita bisa mengetahui dari ciri-ciri fisiknya karena ciri yang paling menonjol pada diri Si-Loong adalah memiliki warna kulut hitam, rambut lurus agak kemerahan, bola mata besar kemerahan dan  awal terlihat ia tidak memakai baju hanya mengenakan celana. Hal demikian kalau kita mempelajarinya secara mendalam bahwa pada kulit manusia akan terlihat gelap karena terlalu sering dikena sinar matahari dan air laut. Sinar matahari dapat menghitamkan kulit ketika sinarnya mulai terik biasanya pada jam 12.00- 17.00 WITA. Artinya ketika hal demikian terjadi kulit luar (epidermis) pada manusia akan mati oleh terik matahari. Sementara air laut dapat menghitamkan kulit karena airnya mengandung garam sehingga zat inilah yang dapat mempengaruhi kelembapan kulit manusia. Dan yang paling besar efeknya ketika seseorang mandi laut atau melaut dari jam 10.00-17.00 WITA. Hal demikian secara keseluruhan akan mempengaruhi kulit manusia pada lapisan luar (epidermis) atau kulit manusia akan terlihat gelap secara keseluruhan. Contohnya pada masyarakat pesisir.
 
Kemudian rambur lurus agak kemerahan biasanya di akibatkan oleh air laut karena pada masyarakat pesisir biasanya memiliki ciri seperti ini (rambut agak kekunungan). Ciri selanjutnya memiliki bola mata besar kemerahan. Biasanya sesorang yang miliki bola mata tersebut sering melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan alat yang biasa di sebut busur dan yang menyebabkan mata terlihat mereh karena sering di kena percikan air laut sebab pada air tersebut mengadung garam.
Dari ciri-ciri di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa Si-Loong adalah salah satu masyarakat yang mendiami perairan atau masuk adalam suku Bajo meskipun asal-usulnya tidak diketahui oleh masyarakat setempat.

Hal yang dapat memperkuat pernyataan penulis adalah saat dia di bawah oleh warga ke kampung dan berbaur dengan masyarakat. Meskipun ia tidak banyak bicara, namun baik terhadapa sesama, hal lain terlihat ketika ia melaut dan membawa ikan yang maksimal dan membagikan kepada masyarakat. Ini tentu memperlihatkan sesorang yang berpengalama dalam bidang tersebut artinya sebelumnya pernah melakukan pekerjaan tersebut.

Namun, disisi lain Si-Loong juga memiliki kesabaran yang teguh ketika ia dituduh oleh warga masyarakat menghamili anak kepala suku dan sampai-sampai ia mau dihukum secara adat setempat dengan ditenggelamkan kedala laut. Tentang apa yang terjadi karena pada pemutara video ini telah mengalami pengeditan sehingga kami penoton kebingungan dalam memaknai cerita selanjutnya. Setelah itu terliha Si-Loong kembali menyendiri di atas batu jauh  dari keramaian karena ia telah dituduh hal yang bukan-bukan. Tak lama kemudian ia di lihat lagi salah satu warga dan melaporkan keberadaan Si-Loong akhirnya kembali di bawah oleh masyarakat ke kampung untuk mengakui perbuatannya.

Namu, sumber jawaban yang memutuskan berada pada anak dari kepala suku (Yang hamil) maka terlebih dahulu ia  pertama memberikan keterangan pada masyarakat setemapat dan ia berkata bahwa tak ada laki-laki yang menyentuh dan menhamilinya. Bisa di katakan bahwa kehamilan anak kepala suku ini terjadi secara irasional karena terlihat tak ada yang meneyentuhnya tapi ia mengalami kehamilan. Cerita ini sama halnya dengan kehamilan pada bunda Mariam ibu dari nabi Isa AS yang dipertuhankan oleh umat Kristen.

Karena terbukti bahwa Si-Loong tak menghamili anak tersebut maka ia di minta untuk menikahi anak dari kepala suku sebagai tebusan permohonan maaf mereka karena menuduh tanpa bukti dan menghapus aib kampung. Namun, kalau penuduhan ini terjadi pada manusia jaman sekarang tentu orang tersebut akan minta denda karena telah mempermalukan nama baiknya. Tapi kerena Si-Loong adalah sosok manusia yang baik meskipun tidak sering bicara, ia pun menerima permintaan kepala suku dan warga sektar.
Karena videonya yang menurut saya terlalu banyak editan sehingga tidak terlihat lagi bagaimana keseharian Si-Loong dan istrinya hidup dalam berumah tangga dan apakah mereka tinggal di rumah orang tua istrinya atau di rumah mereka sendiri, hal demikian tidak ditampilkan kerena pengeditannya terlalu berlebihan. Cerita selanjutnya kemudian istri Si Si-Loong telah melahirkan buah hatinya membuat ia senang atas keberaadan anaknya yang nantinya akan menjadi pewaris keturunannya. Setelah itu terliha anak Si-Loong ini memiliki tompelan hitam pada kepala bagian ubung-ubung yang berwarna hitam. Tak tahu apakah setiap anak yang di lahirkan pada masyarakat Bajo masih memiliki tonjolan pada ubung-ubungnya atau hanya turunan dari Si-Loong. Entah bagaimana hal demikian butuh penelitian yang mendalam.

Kemudian anak  Si-Loong telah mampu meranggkak dan menuju keluar, pada saat itu juga telah datang hujan lebat yang membuat Si-Loong menghilang dari kehidupan istri dan anaknya. Kepergian Si-Loong ini seolah-olah memberikan sebuah gambaran bahwa ia tidak berasal dari dunia ini tapi dari dunia lain, sebab ia menghilang saat petir menyambarnya sehingga membuat tubuhnya mencair dan akhirnya menghilang dan kemudian mengapa ia harus meninggalkan kain atau masyarakat saat ini menyebutnya denga sebutan bendera Ula-Ula. Menurut gagasan penulis bahwa Si-Loong ini tidak menghilang tapi berubah wujud menjadi benda sehingga dalam kepergiannya itu, ia mendatangi mimpi istrinya dan ia berpesan agar menjaga anaknya dan menjadikan dia sebagai seseorang yang kuat dan pemberani dan menitipkan selembar kain yang pada masyarakat Bajo menyebutnya bendera Ula-Ula karena dengan dikibarkannya bendera ini maka Si-Loong akan selalu bersama mereka meskipun ia tak bisa dilihat. Dan pengibarang bendera ini dilakukan khusus turunan dari Si-Loong yang menghilang entah kemana dan meninggalkan bendera tersebut sebagai simbol bahwa ia tetap bersama keluarga dan masyarakat saat bendera tersebut dikibarkan.

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa kisah Si-Loong ini merupakan awal dari adanya bendera Ula-Ula pada masyarakat suku Bajo yang menyimbolkan seorang manusia yang menghilang tanpa di tahu keberadaannya. Dan bisa pula kita katakan bahwa pada masyarakat suku Bajo saat ini serikali mengibarkan bendera  tersebut misalnya pada ritus pernikahan dan lainnya. Tentunya pada masyarakat Bajo yang menegetahui cerita Si-Loong ini pasti akan merasa bahwa ia selalu berada pada masyarakat Bajo ketika dalam upara ritual bendera yang ditinggalkannya itu selalu dikibarkan. Serta masyarakat yang dapat mengibarkan bendera Ula-Ula ini hanyalah mereka yang memiliki hubungan darah atau turunan dari Si-Loog dan wajar pada masyarakat Bajo tentu menganggap benda tersebut sebagai sesuatu yang sakral karena tak masuk akal sesorang dapat menghilang dan meninggalkan selembarkain atau bendera.

Cerita di atas penulis ketahui dari pemutaran video yang berjudul Si-Loong, jadi jika ada pihak yang mengetahui cerita tentang bendera ula-ula dengan versi lain silahkan berikan komentarnya dibawah terima kasih.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...