Langsung ke konten utama

MANFAAT TERUMBU KARANG BAGI MANUSIA (Antropologi Maritim)



Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthallae. Terumbu karang termaksud dalam jenis filum Cnidariakelas Antozoa yang memilki tentakel. Kelas antozoa tersebut terdiri dari dua subkelas yaitu Hexacorallanatau Octocorallia yang keduanya dibedakan secaraasal-usul, morfologi dan fisiologi.

Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebutpolip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh tentakel.


Dalam pengembangan komoditi laut yang dikaitkan dengan budaya masyarakat. Biasanya masyarakat tersebut mengembangkan komoditi laut ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat bersangkutan. Pengeploitasi hewanlautini biasanya masyarakat memanfaatkan untuk membuat sebuah bahan perekat yang digunakan dalam pembuatan perahu layar.

Saatini, karang pada masyarakat tersebut sudah semakin berkurang karena masyaraakat keseringan dalam memanfaatkannya untuk pembuatan bahan tadi. Di sampingitu, pembuatannya tidak membutuhkan karang dalam jumlah yang sedikit akan tetapi mereka sering memanfaatkannya dalam jumlah yang banyak. Ada pun dalam proses pembuatannya yakni dimulai dari pembakaran ketika karang sudah terkumpul, setelah itu lakukan pembakaran agar karang tersebut mudah dihaluskan saat ditumbuk. Karana sudah dihaluskan maka campurkan dengan minyak goreng agar dapat mengental. Dari sinilah mulai digunakan untuk dijadikan sebagai bahan dalam melapisi papan-papan perahu.

Bahan ini biasanya masyarakat Buton menyebutnya dengan sebutan “lepa” (bahasacia-cia). Alasan masyarakat memanfaatkan karang untuk dijadikan sebagai bahan perekat karena saat itu mereka belum mengetahui pembuatan “tala” di manabahan-bahannya terdiri dari lem, kapur dan cat besi.

Karena saat ini masyarakat banyak menggunakan bahan tadi dalam melapisi papan perahunya. Disamping itu pembuatannya praktis dan tidak harus melibatkan banyak orang dalam pembuatan tala ini.Maka kebiasaan masyarakat pada saat ini telah berubah di mana jarang terlihat lagi orang-orang yang mengambilkarang di laut dengan menggunakan perahu dalam jumlah banyak.


Sebelumnya itu, alasan lain masyarakat memanaatkan komoditas laut ini karena dilatar belakangi oleh faktor ekonomi hal ini, sebagaimana terlihat pada masyarakat Lande di mana hanya sumber dayalaut yang memberikan peluang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Meskipun, hanya sebagian kecil orang-orang luar memproduksi hasil pembuatan kapur pada masyarakat tempat tersebut. Dan sebagian besar orang-orang dalam kampung yang memanfaatkan bahan tersebut karenadilatar belakangi oleh sistem pencahariannya.

Pada mulanya masyarakat Lande tepatnya di Buton Selatan bermata pencaharian sebagai nelayan. Disana terdapat perahu-perahu layar besar dan membutuhkan sawi dalam jumlah yang maksimal.Tak dapat disangkal bahwa pihak pemilik kapal harus mampu membeli kapur dalam jumlah banyak disesuaikan dengan keadaan keadaan kapal yang dibuat.
Di samping harganya murah, kapur ini juga tahan dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga masyarakat banyak yang  tertarik untuk memanfaatkan kapur sebagai bahan untuk melindungi kapalnyadari ancaman luar seperti tumbuhan lumut, tiram dan lain-lain.

Meskipun masyarakat tersebut memiliki kemampuan dalam memanfaatkan komoditas laut tapi mereka belum mampu mengembangkannya dalam tingkat yang lebih luas. Perputaran pemanfaatannya hanya terdapat pada lingkup masyarakat sendiri.
Umumnya kehidupan masyarakat tersebut masih berada pada tingkat perekonomian yang rendah sehingga perahu-perahu yang mereka buat hanya dijadikan sebagai alat untuk bisa mengakses ketempat lain. Tidak sedik masyarakat yang melakukan perantauan, hal ini dilatar belakangiolehrendahnyaperekonomianmasyarakat. Di sampingitu, masyarakat yang hanya mengandalkan pertanian harus tetap bersabar mengolah dalam lahan untuk bisa bertahan hidup.

Pada dasarnya, kapur ini dimanfaatkan  tidak hanya untuk keperluan perahu tetapi juga keperluan dalam pengecetan pagar. Meskipun hasilnya kurang memuaskan tapi masyarakat sering mempergunakan dalam kebutuhan-kebutuhan praktis. Masyarakat sering menamai benda ini sebagai “hapu”.

Setelah ditelusuri kebenarannya oleh para generasi, tertanya kapur ini selain dimanfaatkan untuk keperluan perahu, rumah juga untuk pelurusan rambur. Hal ini, dibuktikan setelah beberapa orang melakukan percobaan dan bisa kabur tersebut ampuh dalam meluruskan rambut yang keriting. Metode itu hingga sekarang orang-orang tertentu masih mempraktekannya bahkan ada yang sudah mengaplotnya di internet agar ditahu oleh banyak orang.

Meskipun demikian, barang ini belum bisa dijadikan sebagai salah satu bahan yang dikategorikan pelurus rambut alami. Hanya orang-orang tertentu yang menggunakan bahan ini. Di samping itu, efek yang dihasilkan oleh bahan tadi selain dapat memberikan hasil yang memuaskan juga dapat memberikan hasil yang merugikan. Hal ini, disebabkan kerasnya kapur ini saat mengenai rambut yang kurang lurus sehingga rambut yang tergolong kerinting dapat dibilang lurus. Waktu kembali setelah pemakaian dapat diperkirakan 15-20 hari, namun kalau ingin rabut keriting tadi tetap lurus makan gunakanlah sampai 3 kali pemakaiaan dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Adapun efek negatifnya yakni dapat merusak rambut yang lurus. Artinya bagi mereka rambutnya lurus maka tidak diperbolehkan memanfaatkan bahan tersebut karena dengan kerasnya efek yang dihasilkan bahan kapur ini menjadikan rambut terlihat habis terbakar.

Bagi kalian yang ingin mencobanya penulis akan menguraikan tata cara pembuatan bahan alami pelurus rambut di mana bahan dasarnya dari terumbu karang yang sudah dioleh menjadi kapur:

- tuangkan beberapa sendok kapur yang sudah disaring kedalam mangkuk kecil
- masukkan pula sabut colek ke dalam mangkuk tersebut yang sudah terisikan kapur tadi
- kebudian dibilas agar kapur dan sabun tadi dapat tercampur dengan baik
- sebagai bahan penyatuan antara dua unsur tadi maka gunakanlah air
- kemudian dibilas sampai keduanya menyatuh dengan sempurna

lalu tunggulah beberapa menit 2-4 menit kemudian bisa dipergunakan untuk meluruskan rambut yang keriting.
Itulah manfaat yang dihasilkan oleh karangn diolah menjadi kapur dikembangkan sesuai kebudayaan masyarakat setempat tepatnya pada masyarakat Lande Buton Selatan.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Pingitan (posuo) pada Masyarakat Buton (Antropologi Sakral)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Derasnya arus kontak budaya sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai budaya suatu masyarakat sebagai suatu kearifan tradisional yang sarat dengan muatan nilai moralitas. Menurut Koentjaraningrat, kontak budaya telah ada sejak dahulu dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses kontak budaya yang mempunyai sifat khusus (pengaruh yang besar) baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat mulai menyebar keseluruh belahan dunia termasuk ke Indonesia. Akibat dari proses ini, khususnya pada abad 20 dimana perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang dihasilkan oleh geliat peradaban modern, menyebabkan hampir tidak ada suku-suku bangsa dimuka bumi ini yang terhindar dari pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa. Berangkat dari perspektif antropologi dan sosiologi tentang culture contac, kajian tentang tanggapan dan pergeseran pola pandang masyarakat Buton tentang upacara siklus posuo akan diteropong. Po...

Kajian Liminalitas dari Van Gennep Tentang Ritual (Antropologi Simbolik)

Liminalitas Kata liminalitas berasal dari bahasa latin yaitu “limen” yang artinya ambang pintu. Secara sederhana liminalitas dapat dipahami sebagai pengalaman ambang. Istilah liminalitas di cetuskan oleh Arnol Van Gennep utamanya di gunakan pada ritual-ritual peralihan. Sementara oleh Victor Turner liminalitas digunakan sebagai cara dalam melihat kejadian-kejadian ritual dewasa ini dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain liminalitas dapat dipahami sebagai tahap atau periode waktu dimana subyek mengalami kesadaran yang ambigun yakni tidak disana dan tidak disini misalnya dalam sebuah masyarakat tertentu mengadakan sebuah ritual perpindahan status dari status sosial yang lama ke status sosial yang baru. Contoh dalam suku Buton. Istilah posuo diperuntukan bagi perempuan yang sudah masuk pada tahap dewasa. Tiga tahap dalam perolehan Van Gennep: -    Ritus pemisahan, biasanya ritus ini terjadi pada upacara pemakaman. -    Ritus transisi, yakni berhubungan d...

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner (Teori Antropologi)

Teori Penafsiran Simbol Oleh Victor Turner Tiga Dimensi Arti Simbol Manusia adalah animal symbolic, yang berarti bahwa pemikiran dan tingkah laku merupakan ciri yang betul-betul khas manusiawi dan bahwa seluruh kemajuan kebudayaan manusia didasarkan diri pada kondisi-kondisi tersebut (Endraswara, 2006:171). Manusia adalah makhluk budaya dan budaya manusia penuh dengan simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia penuh diwarnai dengan simbolik yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan diri pada simbol. Turner (dalam Endraswara, 2006:172) menyatakan bahwa simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual, dengan demikian bagian-bagian terkecil ritual perlu mendapat perhatian peneliti misalnyan sesaji-sesaji, mantra, dan uberampe lain. Turner membagi ciri khas simbol, yaitu: (a)...