Cinta Tragis di Balik Air Terjun Tomburano di Desa Langara Iwawo Kabupaten Konawe Kepulauan (Kajian Antropologi Folklor)
18 Juli 2019
Informan: Rufslamin M.
Peneliti: La Ode Aco
Setelah kami beranjak dari pelabuhan Veri Konawe Kepualan saya dan teman-teman serta para posko lainnya dikumpulkan kami satu tempat. Dalam penyambutan itu ada beberapa tokoh adat Langara menyambut kami dengan gembira. Tapi sebelum itu kami agak kesulitan mengatur para teman-teman dalam menyesuaikan dikelompok masing-masing sampai-sampai hanya karena itu, hampir kami kebasahan karena ada saat kami turun dari pelabuhan cuaca agak tidak bersahabat sehingga kami harus menyesuaikan dengan kondisi alam. Pada saat ketua jurusan Antropologi memberikan arahan kepada kami sebagai peserta PLK (Praktek Kulia Lapangan) dengan penuh rasa kasih sayang agar pada saat turun lapangan tidak membuat kesan yang membuat masyarakat disekitan kami tersingguh dengan kehadiran kami.
Dalam penyambutan itu suara pak ketua jurusan tidak terlalu jelas sehingga kebanyakan para peserta yang berada dibelakang cerita dengan temannya yang saya pahami hanya gerakan tubuhnya saja yang menggambarkan maksudnya. Karena sudah terlalu lama dalam penyambutan itu akhirnya salah satu dosen kami kuatir karena kondisi alam sudah semakin tidak memungkinkan sehingga sempat salah satu teman saya melihat beliau menepuk jidatnya lantaran lamanya ketua jurusan menyampaikan arahan. Dan pada saat turun hujan kami pun langsung masung dirung tunggu pelabuhan Veri Konkep (Konawe Kepulauan). Setelah beberapa menit hujan pun berhenti dan kami pun di arahkan ke mobil yang sudah disediakan oleh pak desa langara iwawo dan kami pun menikmati perjalan dan sampai dirumah kepala desa.
Saat kami memasuki rumah pak desa perasaan saya agak sungkan karena kami sebagai tamu harus berperilaku sopan. Namun karena jumlah kami cukup banyak jadi saya tidak terlalu meresakannya malahan saya menikmati dengan apa yang telah dihidangkan. Sempat saya dengar bahwa bu desa selalu bersikap rendah sama kami akhirnya hampir saya melalukan kesalahan dengan menyesuaikan apa yang diakatan karena selama kami memasuki sumah pak desa bu desa berkata bahwa “lihat saja rumah kepala desa sempit” dan hampir saya minggungnya dengan berkata “sudah terbiasa dengan keadaan” saya menyadari itu bahwa telah kulontarkan pernyataan itu akhirnya setiap kali melihat bu desa saya merasa lain-lain.
Pengumpulan data yang digali pada desa Langara Iwawo Kabupaten Konawe Kepulauan kami mewawancarai salah satu warga yang ada di desa tersebut bernama Rufslamin M. Ia menyatakan bahwa dalam sebuah permandian Tomburano dikisahkan oleh seorang Laki-laki yang bernama Duru Balewula dan Perempuaan yang bernama Wulamkinokooti. Namun karena kedua orang tua dari si wanita tadi tidak merestui hubungan mereka. Lalu laki-laki tadi pergi disuatu tempat untuk mengakiri hidupnya dan tempat itu bernama permandia Tomburano.Setelah pak Rufslamin M meyatakannya semua itu ia mulai bermain-main dengan kami dengan mengan berkata bahwa kami tidak percaya lagi dengan mitos-mitos pada masyarakat dulu. Saat ini mereka telah memiliki pemikiran rasional sehingga hikayat-hikayat sudah semakin mereka tinggalkan. Bahkan cerita-cerita yang hikayat yang berkembang sudah memiliki berbagai versi sehingga untuk keaslian dari cerita itu sudah tidak diketahui lagi.
Sebelum kami mendengar cerita dari hikayat Tomburano pak Desa mempersilahkan kami untuk menempati halaman rumahnya karena pada luar rumahnya cukup luas untuk menampun kami. Saya mengambil kursi begitupun juga yang lainnya dan membuat lingkaran pada halaman tersebut. Akhirnya pak desa melanjutkan cerita kisa Tomburano. Sebagaimana pernyataannya yang saya kutip bahwa sebelum Duru Balewula melompat dari tempat ketinggian ia menjatuhkan suling sehingga tumbulah pohon bambu di seskitar tempat itu. Sebenarnya sebulum pak desa mengatakan demikian ia telah melakukan kekeliruhan bahwa yang mentuhkan suling adalah si perempuan (kekasihnya) sehingga saya di situ sempat kebingungan. Namun pak desa menjelaskannya kembali dan kami pun mengerti apa yang dikatakannya. Saat kami melihat sekeliling ternya pak desa memiliki tiga anak dan ketiganya itu perempuan dan belum ada anaknya cowok. Yah,, secara pribadi saya senang dengan hal itu tapi karena keramahan pak desa menyambut kami sehingga untuk melakukan hal-hal yang tidak dikenangkan berat kami lakukan meskipun pak desa sendiri yang mengatakan bahwa kalau disini tidak perlu sungkan-sungkan jika butuh apa-apa tingga di ambil saja di dapur. Kebaikan pak desa menurut saya sudah tidak bisa diragukan lagi yang membebaskan kami keluar masuk dirumahnya sendiri. Bahkan ada salah satu teman kami yang mempersilahkan beliau untuk duduk namun ia menjawab bahwa “ini rumah saya jadi selakan duduk saja”. Mendengar hal itu kami pun sipontan tertawa dan saya melihat ekspresi salah satu dari teman saya yang mengatakan demikian menjadi kurang enak dengan keadaan. Setelah itu, kami pun dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan. Setelah selesai maka saya istirahat sejenak dan mengambil peralatan mandi sabun dan lain-lain kemudian saya bergegas menuju ke WC.
Rupanya air di desa tersebut rasanya dingin akhirnya saya harus basih dulu kaki lalu mandi. Belau melanjutkan ceritanya bahwa karena si perempuan tadi telah melihat kekasihnya tergeletak dibawah dengar berlumuran darah diseluruh tubuhnya. Kasihnya tidak tegah melihatnya karena mereka telah berjanji untuk hidup bersama maka ia pun melompat lagi dari ketinggian setelah kekasihnya melompat. Sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya pada saat jatuh kebawah ia membuang renta maka timbulah pohon enau disekitar tempat dimana mereka jatuh. Sehingga orang-orang dulu itu sekitar 40 tahun lalu setiap orang tidak direstui hubungan cinta mereka maka harus di akhiri dengan bunuh diri. Artinya dikehidupan sekarang seorang orang tua harus memahami perasaan anak-anaknya agar tidak mengikuti kehendak mereka sendiri. Setelah itu, ia ada dua orang teman kepala desa Lanagara Iwawo datang kerumahnya dan karena melihat kami sedang melakukan wawancara akhirnya mereka pun ikut gabung dengan kami dan beberapa menit kami pun bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut dan masuk ke dalam rumah. Sampai ke dalam rumah kami bergegas ada yang ke WC dan ada yang pergi ke kamar. Karena waktu telah menunjukan jam makan akhirnya salah satu teman saya mengatakan bahwa apakah kita akan mendapatkan juga makan malam? dan ada salah satu teman yang mengatakan bahwa mungkin kita sudah tidak makan lagi karena sebelumnya telah dihidangkan makanan namun pada akhirnya malam itu kami makan.
Saat meneliti tentang kisah Ringkulele, dosen pembimbing kami membantu dalam pencarian data tersebut. Dalam hal ini, informan yang kami tujuh juga bapak kepala desa Langara Iwawo Kabupaten Konawe Kepulawuan.
Sebagaiamana pernyataan informan bapak Rufslamin M bahwa banyak pemudah yang ingin melamar Ringkulele namu karena persyaratan yang dimitai terlalu tinggi sehingga para pemudah enggak untuk bisa memenuhi persyarakat tersebut. Dapa suatu hari datanglah seorang raja jin yang ingin melawar si gadis cantik Ringkulele. Karena ketakutannya akan jin tersebut oleh kedua orang tuanya akhirnya mereka menerima lamaran dari raja jin tapi setelah Ringkulele sudah dewasa minta persyaratan yang mustahil kepada raja jin tersebut dengan maskawin seekor kerbau dan dua ekor anaknya yang terbuat dari emas. Karena menurut keluarga Ringkulele bahwa persyarakat yang diberikan kepada sang jin tidak akan terpenuhi dalam waktu dekan namun jin tadi memenuhi dengan cepat persyaratan tersebut. Pada saat peryarakatan tadi terpenuhi si peremuan ini tidak mau untuk menikah dengan raja jin. Maka mengamuklah raja jin ini sehingga mengutuk si perempuan ini lalu ia meninggal. Konon emas yang dia (raja jin) bawah berbentuk kerbau ini dia simpan di salah satu mata air Wawonii ini dalam bentuk danang. Beberapa orang ada yang pernah pergi dan mengambil kerbau itu. Setiap mereka angkat kepermukan air, yang tadinya berbentuk pada tapi setelah diangkat keluar dari air namun cair kembali menjadi air. Aah konong ceritanya kerbau itu bisa diambil kalau ditukar dengan putri raja-raja dari Wawonii ini lalu dikorbankan ditemapat kerbau tersebut.
Menurut pernyataan informan bahwa kakek dari kakeknya bersaudara dan sebenarnya belum terlalu jauh yahhhh adanya Ringkulele ini pada saat pemerintahan Wawonii yang yang kelima kalau tidak salah, kata informan. Dan pada saat itu, kerajaan Wawonii itu telah beralih dibawah kerajaan Buton. Artinya telah menjadi negara bagian dari kerajaan Buton sehingga salah satu juruh bicara raja Buton adalah Lailah Wawonii misalnya ada hubungan dengan masyarakat asing. Tapi konon ceritanya berapa generasi raja Buton itu, tidak pernah melewati selat Wawonii ini karena mereka tak dirampok jika melewa selah tersebut karena perlu kita ketahui bahwa orang sering bilang bahwa disini pusatnya ilmu hitam. Meutut pernyataan informan bahwa sebenarnya di yang memiliki ilmu hitam bukan orang asli Wawonii tapi dulu ini disi terkumpulnya orang-orang jahat misalnya ada yang pembunuh, ada yang berilmu tingggi jahat, ada yang pendekar terkumpul disini semua jadi orang-orang tersebut pelarian semuan dari daerah satu ke daerah lain sehingga terkumpullah ilmu-ilmu itu membaur jadi misalnya ilmu yang ini nikah dengan keluarganya itu maka keturunan tadi akan mendapatkan dua ilmu sampai beranak pinak banyak yang berilmu. Tapi sejak masuknya islah itu hancurlah ilmu-ilmu hitam tadi (habis) dan sekarang itu yah masih adalah tapi seperti kita orang Wawonii asli tidak terlalu berpikir kearah sana tapi berpikir bagaimana sekolah anak-anak, punya pendidikan dan kedudukan sehingga secarang itu ilmu tesebut sudah semakin ditinggalkan. Namun ada juga yang berilmu hitam namun kadang kala orang Wawonii pergi disini agak segan juga pada sesama putra daerah.
Sesuai pernyataan informan bahwa ada kelebihan dari Wawonii ini jika ada putra daerah dari ketun raja meninggal dunia maka yang minggal ini akan meletus kuburannya seperti bunyi meriam, yang kedua munculah pulau di Wawonii kita bisalihat orangnya namun untuk pergi ketempat tersebut tidak akan pernah sampai tapi sepuuh tahun terakhir ini sudah jarang terjadi muncul mungkin tidak ada keturunan asli yang mininggal tapi kadang ada bunyi-bunyi itu setiap pemerintahan Wawonii soalnya ada kelebih karena hampir secara keseluruhan pemukaka islah berasal dari Wawonii.
Informan: Rufslamin M.
Peneliti: La Ode Aco
Setelah kami beranjak dari pelabuhan Veri Konawe Kepualan saya dan teman-teman serta para posko lainnya dikumpulkan kami satu tempat. Dalam penyambutan itu ada beberapa tokoh adat Langara menyambut kami dengan gembira. Tapi sebelum itu kami agak kesulitan mengatur para teman-teman dalam menyesuaikan dikelompok masing-masing sampai-sampai hanya karena itu, hampir kami kebasahan karena ada saat kami turun dari pelabuhan cuaca agak tidak bersahabat sehingga kami harus menyesuaikan dengan kondisi alam. Pada saat ketua jurusan Antropologi memberikan arahan kepada kami sebagai peserta PLK (Praktek Kulia Lapangan) dengan penuh rasa kasih sayang agar pada saat turun lapangan tidak membuat kesan yang membuat masyarakat disekitan kami tersingguh dengan kehadiran kami.
Dalam penyambutan itu suara pak ketua jurusan tidak terlalu jelas sehingga kebanyakan para peserta yang berada dibelakang cerita dengan temannya yang saya pahami hanya gerakan tubuhnya saja yang menggambarkan maksudnya. Karena sudah terlalu lama dalam penyambutan itu akhirnya salah satu dosen kami kuatir karena kondisi alam sudah semakin tidak memungkinkan sehingga sempat salah satu teman saya melihat beliau menepuk jidatnya lantaran lamanya ketua jurusan menyampaikan arahan. Dan pada saat turun hujan kami pun langsung masung dirung tunggu pelabuhan Veri Konkep (Konawe Kepulauan). Setelah beberapa menit hujan pun berhenti dan kami pun di arahkan ke mobil yang sudah disediakan oleh pak desa langara iwawo dan kami pun menikmati perjalan dan sampai dirumah kepala desa.
Saat kami memasuki rumah pak desa perasaan saya agak sungkan karena kami sebagai tamu harus berperilaku sopan. Namun karena jumlah kami cukup banyak jadi saya tidak terlalu meresakannya malahan saya menikmati dengan apa yang telah dihidangkan. Sempat saya dengar bahwa bu desa selalu bersikap rendah sama kami akhirnya hampir saya melalukan kesalahan dengan menyesuaikan apa yang diakatan karena selama kami memasuki sumah pak desa bu desa berkata bahwa “lihat saja rumah kepala desa sempit” dan hampir saya minggungnya dengan berkata “sudah terbiasa dengan keadaan” saya menyadari itu bahwa telah kulontarkan pernyataan itu akhirnya setiap kali melihat bu desa saya merasa lain-lain.
Pengumpulan data yang digali pada desa Langara Iwawo Kabupaten Konawe Kepulauan kami mewawancarai salah satu warga yang ada di desa tersebut bernama Rufslamin M. Ia menyatakan bahwa dalam sebuah permandian Tomburano dikisahkan oleh seorang Laki-laki yang bernama Duru Balewula dan Perempuaan yang bernama Wulamkinokooti. Namun karena kedua orang tua dari si wanita tadi tidak merestui hubungan mereka. Lalu laki-laki tadi pergi disuatu tempat untuk mengakiri hidupnya dan tempat itu bernama permandia Tomburano.Setelah pak Rufslamin M meyatakannya semua itu ia mulai bermain-main dengan kami dengan mengan berkata bahwa kami tidak percaya lagi dengan mitos-mitos pada masyarakat dulu. Saat ini mereka telah memiliki pemikiran rasional sehingga hikayat-hikayat sudah semakin mereka tinggalkan. Bahkan cerita-cerita yang hikayat yang berkembang sudah memiliki berbagai versi sehingga untuk keaslian dari cerita itu sudah tidak diketahui lagi.
Sebelum kami mendengar cerita dari hikayat Tomburano pak Desa mempersilahkan kami untuk menempati halaman rumahnya karena pada luar rumahnya cukup luas untuk menampun kami. Saya mengambil kursi begitupun juga yang lainnya dan membuat lingkaran pada halaman tersebut. Akhirnya pak desa melanjutkan cerita kisa Tomburano. Sebagaimana pernyataannya yang saya kutip bahwa sebelum Duru Balewula melompat dari tempat ketinggian ia menjatuhkan suling sehingga tumbulah pohon bambu di seskitar tempat itu. Sebenarnya sebulum pak desa mengatakan demikian ia telah melakukan kekeliruhan bahwa yang mentuhkan suling adalah si perempuan (kekasihnya) sehingga saya di situ sempat kebingungan. Namun pak desa menjelaskannya kembali dan kami pun mengerti apa yang dikatakannya. Saat kami melihat sekeliling ternya pak desa memiliki tiga anak dan ketiganya itu perempuan dan belum ada anaknya cowok. Yah,, secara pribadi saya senang dengan hal itu tapi karena keramahan pak desa menyambut kami sehingga untuk melakukan hal-hal yang tidak dikenangkan berat kami lakukan meskipun pak desa sendiri yang mengatakan bahwa kalau disini tidak perlu sungkan-sungkan jika butuh apa-apa tingga di ambil saja di dapur. Kebaikan pak desa menurut saya sudah tidak bisa diragukan lagi yang membebaskan kami keluar masuk dirumahnya sendiri. Bahkan ada salah satu teman kami yang mempersilahkan beliau untuk duduk namun ia menjawab bahwa “ini rumah saya jadi selakan duduk saja”. Mendengar hal itu kami pun sipontan tertawa dan saya melihat ekspresi salah satu dari teman saya yang mengatakan demikian menjadi kurang enak dengan keadaan. Setelah itu, kami pun dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan. Setelah selesai maka saya istirahat sejenak dan mengambil peralatan mandi sabun dan lain-lain kemudian saya bergegas menuju ke WC.
Rupanya air di desa tersebut rasanya dingin akhirnya saya harus basih dulu kaki lalu mandi. Belau melanjutkan ceritanya bahwa karena si perempuan tadi telah melihat kekasihnya tergeletak dibawah dengar berlumuran darah diseluruh tubuhnya. Kasihnya tidak tegah melihatnya karena mereka telah berjanji untuk hidup bersama maka ia pun melompat lagi dari ketinggian setelah kekasihnya melompat. Sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya pada saat jatuh kebawah ia membuang renta maka timbulah pohon enau disekitar tempat dimana mereka jatuh. Sehingga orang-orang dulu itu sekitar 40 tahun lalu setiap orang tidak direstui hubungan cinta mereka maka harus di akhiri dengan bunuh diri. Artinya dikehidupan sekarang seorang orang tua harus memahami perasaan anak-anaknya agar tidak mengikuti kehendak mereka sendiri. Setelah itu, ia ada dua orang teman kepala desa Lanagara Iwawo datang kerumahnya dan karena melihat kami sedang melakukan wawancara akhirnya mereka pun ikut gabung dengan kami dan beberapa menit kami pun bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut dan masuk ke dalam rumah. Sampai ke dalam rumah kami bergegas ada yang ke WC dan ada yang pergi ke kamar. Karena waktu telah menunjukan jam makan akhirnya salah satu teman saya mengatakan bahwa apakah kita akan mendapatkan juga makan malam? dan ada salah satu teman yang mengatakan bahwa mungkin kita sudah tidak makan lagi karena sebelumnya telah dihidangkan makanan namun pada akhirnya malam itu kami makan.
Saat meneliti tentang kisah Ringkulele, dosen pembimbing kami membantu dalam pencarian data tersebut. Dalam hal ini, informan yang kami tujuh juga bapak kepala desa Langara Iwawo Kabupaten Konawe Kepulawuan.
Sebagaiamana pernyataan informan bapak Rufslamin M bahwa banyak pemudah yang ingin melamar Ringkulele namu karena persyaratan yang dimitai terlalu tinggi sehingga para pemudah enggak untuk bisa memenuhi persyarakat tersebut. Dapa suatu hari datanglah seorang raja jin yang ingin melawar si gadis cantik Ringkulele. Karena ketakutannya akan jin tersebut oleh kedua orang tuanya akhirnya mereka menerima lamaran dari raja jin tapi setelah Ringkulele sudah dewasa minta persyaratan yang mustahil kepada raja jin tersebut dengan maskawin seekor kerbau dan dua ekor anaknya yang terbuat dari emas. Karena menurut keluarga Ringkulele bahwa persyarakat yang diberikan kepada sang jin tidak akan terpenuhi dalam waktu dekan namun jin tadi memenuhi dengan cepat persyaratan tersebut. Pada saat peryarakatan tadi terpenuhi si peremuan ini tidak mau untuk menikah dengan raja jin. Maka mengamuklah raja jin ini sehingga mengutuk si perempuan ini lalu ia meninggal. Konon emas yang dia (raja jin) bawah berbentuk kerbau ini dia simpan di salah satu mata air Wawonii ini dalam bentuk danang. Beberapa orang ada yang pernah pergi dan mengambil kerbau itu. Setiap mereka angkat kepermukan air, yang tadinya berbentuk pada tapi setelah diangkat keluar dari air namun cair kembali menjadi air. Aah konong ceritanya kerbau itu bisa diambil kalau ditukar dengan putri raja-raja dari Wawonii ini lalu dikorbankan ditemapat kerbau tersebut.
Menurut pernyataan informan bahwa kakek dari kakeknya bersaudara dan sebenarnya belum terlalu jauh yahhhh adanya Ringkulele ini pada saat pemerintahan Wawonii yang yang kelima kalau tidak salah, kata informan. Dan pada saat itu, kerajaan Wawonii itu telah beralih dibawah kerajaan Buton. Artinya telah menjadi negara bagian dari kerajaan Buton sehingga salah satu juruh bicara raja Buton adalah Lailah Wawonii misalnya ada hubungan dengan masyarakat asing. Tapi konon ceritanya berapa generasi raja Buton itu, tidak pernah melewati selat Wawonii ini karena mereka tak dirampok jika melewa selah tersebut karena perlu kita ketahui bahwa orang sering bilang bahwa disini pusatnya ilmu hitam. Meutut pernyataan informan bahwa sebenarnya di yang memiliki ilmu hitam bukan orang asli Wawonii tapi dulu ini disi terkumpulnya orang-orang jahat misalnya ada yang pembunuh, ada yang berilmu tingggi jahat, ada yang pendekar terkumpul disini semua jadi orang-orang tersebut pelarian semuan dari daerah satu ke daerah lain sehingga terkumpullah ilmu-ilmu itu membaur jadi misalnya ilmu yang ini nikah dengan keluarganya itu maka keturunan tadi akan mendapatkan dua ilmu sampai beranak pinak banyak yang berilmu. Tapi sejak masuknya islah itu hancurlah ilmu-ilmu hitam tadi (habis) dan sekarang itu yah masih adalah tapi seperti kita orang Wawonii asli tidak terlalu berpikir kearah sana tapi berpikir bagaimana sekolah anak-anak, punya pendidikan dan kedudukan sehingga secarang itu ilmu tesebut sudah semakin ditinggalkan. Namun ada juga yang berilmu hitam namun kadang kala orang Wawonii pergi disini agak segan juga pada sesama putra daerah.
Sesuai pernyataan informan bahwa ada kelebihan dari Wawonii ini jika ada putra daerah dari ketun raja meninggal dunia maka yang minggal ini akan meletus kuburannya seperti bunyi meriam, yang kedua munculah pulau di Wawonii kita bisalihat orangnya namun untuk pergi ketempat tersebut tidak akan pernah sampai tapi sepuuh tahun terakhir ini sudah jarang terjadi muncul mungkin tidak ada keturunan asli yang mininggal tapi kadang ada bunyi-bunyi itu setiap pemerintahan Wawonii soalnya ada kelebih karena hampir secara keseluruhan pemukaka islah berasal dari Wawonii.

Komentar
Posting Komentar