Langsung ke konten utama

Makalah Tentang Antropologi Medis (Antropologi Kesehatan)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Antropologi merupakan suatu cabang ilmu soisal yang membehas mengenai budaya masyarakat suatu etnis. Antropologi muncul karena adanya ketertarikan dari orang Eropa yang melihat budaya, ciri-ciri fisik dan adat istiadat yang berbeda.
Tujuan antropologi adalah untuk membangun masyarakat dengan mempelajari perilaku, bagaimana manusia dapat bermasyarakat dalam suku bangsa dan budaya manusia. Antropologi memaduakan secara integratif tujuan biologi dan sosio-budaya dalam kehidupan. Sehubungan dengan itu, dalam ilmu antropologi juga membahas tetang pengobatan manusia yang menyangkut kesehatannya yang dikenal dengan antropologi kesehatan.

Antropologi kesehatan sendiri ini di sebut dengan sistem medis yaitu aturan hasil kontruksi manusia. Sistem medis sebagai strategi adaptasi sosial – budaya. Di dalam sistem medis ini membahas masalah-masalah luas mengenai penyakit dan perananya dalam evolusi manusia, yang di lihat sebagai strategi adaptasi. Penekanan kami adalah pada penyakit itu sendiri, bukan pada penduduk sebagai individu-individu, serta mengenai cara-cara tingkah laku manusia dalam menaggapi ada atau tidak adanya, atau akibat dari penyakit-penyakit tertentu. Penyakit dengan rasa sakit dari penderitanya, merupakan kondisi manusia yang dapat di ramalkan dan merupakan gejala biologis maupun kebuudayaan yang bersifat universal. Sebelum manusia ada seperti hanya di kalangan hewan-hewan sekarang penyakit hampir sepenuhnya merupakan gejala biologis.






1.2Rumusan Masalah

a)    Apa definisi sistem medis?
b)    Bagaimana  ciri-ciri universal dalam sistem medis?
c)    Bagaiamana sistem medis tradisional?
d)    Bagaimana pengelompokan sistem medis tradisional?
e)    Apa definisi definisi etnomedisin?
f)    Bagaimana etiologi penyakit dalam etnomedisin?
g)    Bagaimana konsep kausalitas dalam sistem personalistik?
h)    Bagaimana konsep-konsep sebab-akibat dalam sistem naturalistik?

1.2    Tujuan
 
1)    Untuk mengetahui definisi sistem medis.
2)    Untuk mengetahui ciri-ciri universal dalam sistem medis.
3)    Untuk mengetahui sistem medis tradisional.
4)    Untuk mengetahui pengelompokan sistem medis tradisional.
5)    Untuk mengetahui definisi etnomedisin.
6)    Untuk mengetahui etiologi penyakit dalam etnomedisin.
7)    Untuk mengetahui konsep kausalitas dalam sistem personalistik.
8)     Untuk mengetahui konsep-konsep sebab-akibat dalam sistem naturalistic.



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Definisi Sistem medis

Menurut  Dunn  (1976)  yang  dikutip  dari  Anne  (2007)  sistem  medis  adalah pola-pola  dari  pranata  sosial  dan  tradisi-tradisi  yang  menyangkut  perilaku  yang disengaja  untuk  meningkatkan  kesehatan,  meskipun  hasil  dari  tingkah  laku  khusus tersebut  belum  tentu  menghasilkan  kesehatan  yang  baik.  Sistem  medis  juga merupakan suatu kompleks luar dari pengetahuan, kepercayaan, teknik, peran, norma-norma, nilai-nilai, ideology, sikap, adat istiadat, upacara-upacara dan lain-lain. Secara singkat sistem medis mencakup semua kepercayaan dalam usaha untuk meningkatkan kesehatan  dan  tindakan  serta  pengetahuan  ilmiah  maupun  keterampilan  anggota-anggota kelompok yang mendukung sistem tersebut.

2.2 Ciri-ciri Universal Dalam Sistem Medis

1.    Sistem Medis Merupakan Integral dari Kebudayaan-Kebudayaan.
Di sini dikatakan bahwa sistem medis berkaitan dengan keseluruhan pola-pola kebudayaan. Sebagai contoh, kepercayaan terhadap penyakit pada banyak masyarakat sangat terjalin erat dengan magis dan religi, di mana sebagian masyarakat masih mempercayai mitos dan makhluk-makhluk lain yang mendatangkan penyakit, serta adanya pantangan-pantangan yang didapat dari sesepuhnya.

2.    Penyakit Ditentukan oleh Kebudayaan


Dari pandangan budaya, penyakit adalah pengakuan sosial bahwa seseorang itu tidak bisa menjalankan peran normalnya secara wajar dan harus dilakukan sesuatu terhadap kondisi tersebut. Dengan kata lain, harus dibedakan antara penyakit (disease) sebagai suatu konsep patologi, dan penyakit (illness) sebagai suatu konsep kebudayaan.
Illness adalah penyakit yang dianggap sebagai suatu konsep kebudayaan atau dapat dikategorikan konsep penyebab sakit personalistik dimana dianggap munculnya penyakit disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk atau bukan manusia.

Sedangkan disease adalah penyakit yang dianggap sebagai suatu konsep patologi atau dapat dikategorikan konsep penyebab sakit naturalistik yaitu seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan), kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dingin seperti masuk angin dan penyakit bawaan.
Persepsi masyarakat mengenai terjadinya penyakit berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, tergantung dari kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat tersebut.

Berikut ini contoh persepsi masyarakat tentang penyakit malaria, yang ada di beberapa daerah pedesaan di Papua (Irian Jaya). Makanan pokok penduduk Papua adalah sagu yang tumbuh di daerah rawa -rawa. Selain rawa-rawa, tidak jauh dari mereka tinggal terdapat hutan lebat. Penduduk desa tersebut beranggapan bahwa hutan itu milik penguasa gaib yang dapat menghukum setiap orang yang melanggar ketentuannya. Pelanggaran dapat berupa menebang, membabat hutan untuk tanah pertanian, dan lain-lain akan diganjar hukuman berupa penyakit dengan gejala demam tinggi, menggigil, dan muntah. Penyakit tersebut dapat sembuh dengan cara minta ampun kepada penguasa hutan, kemudian memetik daun dari pohon tertentu, dibuat ramuan untuk di minum dan dioleskan ke seluruh tubuh penderita. Dalam beberapa hari penderita akan sembuh.

3.    Sistem Medis memiliki segi-segi pencegahan dan pengobatan


Segi-segi pencegahan umumnya dilakukan dengan upaya preventif dari tindakan individu itu sendiri, dan tindakan ini merupakan tingkah laku individu yang secara logis mengikuti konsep tentang penyebab sakit, menjelaskan mengapa orang jatuh sakit, dan tentang apa yang harus dilakukan untuk menghindari penyakit itu. Apabila penduduk percaya bahwa penyakit terjadi karena dikirim oleh dewa-dewa atau leluhur yang marah untuk menghukum suatu dosa, maka prosedur untuk melakukan upaya preventifnya adalah dengan pengakuan dosa.

Contoh nyata dalam masyarakat di beberapa daerah, yaitu penyakit kejang-kejang di mana masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sakit panas dan kejang-kejang disebabkan oleh hantu. Di Sukabumi disebut hantu gegep, sedangkan di Sumatra Barat disebabkan hantu jahat. Di Indramayu pengobatannya adalah dengan dengan pergi ke dukun atau memasukkan bayi ke bawah tempat tidur yang ditutupi jaring.

4. Sistem Medis Memiliki Sejumlah Fungsi


a)   memberikan rasional bagi pengobatan
b)   Tidak hanya mendiagnosis sebab penyakit tetapi juga menjelaskan mengapa penyakit tersebut dapat menyerang seseorang
c)   berperan dalam memberi sanksi dan dorongan norma-norma budaya sosial dan moral.
d) juga berperan dalam dorongan norma-norma budaya sosial dan moral.
e)  Sistem teori penyakit dapat memberikan rasional bagi pelaksanaan-pelaksanaan konservasi (perlindungan alam).
f)   Sistem teori penyakit dapat mengatasi agresi.
g)   Peran nasionalistik pengobatan tradisional. Misalnya, kebangsaan Cina digunakan lama sebelum pengobatan itu muncul di Barat.

2.3 Sistem Medis Tradisional

Adapun yang dimaksud dengan pengobatan tradisional disini adalah cara pengobatan atau perawatan yang diselenggarakan dengan cara lain diluar ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan yang lazim dikenal, mengacu kepada pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang diperoleh secara turun temurun, atau berguru melalui pendidikan, baik asli maupun yang berasal dari luar Indonesia, dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat (UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan).

Banyak faktor yang berperan, kenapa pemanfatan pengobatan tradisional masih tinggi di Indonesia. Beberapa diantaranya yang dipandang penting adalah:

1.    Pengobatan tradisional merupakan bagian dari sosial budaya masyarakat.
2.   Tingkat pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan latar belakang budaya masyarakat menguntungkan pengobatan tradisional.
3.    Terbatasnya akses dan keterjangkauan pelayanan kesehatan moderen.
4.   Keterbatasan dan kegagalan pengobatan modern dalam mengatasi beberapa penyakit tertentu.
5.    Meningkatnya minat masyarakat terhadap pemanfaatan bahan-bahan (obat) yang berasal dari alam (back to nature).
6.    Meningkatnya minat profesi kesehatan mempelajari pengobatan tradisional.
7.    Meningkatnya modernisasi pengobatan tradisional.
8.    Meningkatnya publikasi dan promosi pengobatan tradisional.
9.   Meningkatnya globalisasi pelayanan kesehatan tradisional.Meningkatnya minat mendirikan sarana dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan tradisional.
 
Pengobatan alternatif adalah cara pengobatan atau perawatan yang diselenggarakan dengan cara lain di luar ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan yang lazim dikenal, mengacu kepada pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperoleh secara turun-temurun atau berguru melalui pendidikan, baik asli maupun dari luar Indonesia. Pengobatan alternatif bisa dilakukan dengan menggunakan obat-obat tradisional, yaitu bahan atau ramuan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sedian sarian (galenik), atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Contoh pengobatan alternatif adalah pengobatan dukun.

Pengobatan maupun diagnosa yang dilakukan tabib atau dukun tersebut selalu identik dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun yang memadukan antara kekuata rasio dan batin. Salah satu ciri pengobatan alternatif adalah penggunaan doa ataupun bacaan-bacaan.Selain doa ada juga ciri yang lain yaitu adanya pantangan-pantangan. Pantangan berarti suatu aturan-aturan yang harus dijalankan oleh pasien. Pantangan-pantangan tersebut harus dipatuhi demi kelancaran proses pengobatan, agar penyembuhan dapat selesai dengan cepat.Dimana pantangan-pantangan tersebut sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Seperti misalnya penyakit patah tulang maupun terkilir, biasanya dilarang unutk mengkonsumsi minum es dan kacang-kacangan. Makanan-makanan tersebut menurutnya dapat mengganggu aliran syaraf-syaraf yang akan disembuhkan.

2.4 Pengelompokan Sistem Medis Tradisional


Menurut Agoes (1992:61) pengobatan tradisional dikelompokkan menjadi 4 (empat) jenis yaitu :
 
1.       Pengobatan tradisional dengan ramuan obat, yaitu pengobatan tradisional dengan menggunakan ramuan asli Indonesia, pengobatan tradisional dengan ramuan obat Cina, pengobatan dengan ramuan obat India.
 
2.        Pengobatan tradisional spiritual/kebatinan, yaitu pengobatan yang dilakukan atas dasar kepercayaan agama, dan dengan dasar getaran magnetis yaitu orang itu bisa memakai pengaruh dari luar dunia manusia untuk membantu orang sakit.
 
3.        Pengobatan tradisional dengan memakai peralatan/perangsangan yaitu seperti akupuntur, pengobatan atas dasar ilmu pengobatan tradisional Cina yang menggunakan penusukan jarum dan penghangatan moxa (daun arthamesia vulgaris yang dikeringkan) termasuk juga pengobatan urut pijat, pengobatan patah tulang, pengobatan dengan peralatan (tajam/keras), dan benda tumpul.
 
4.    Pengobatan tradisional yang telah mendapatkan pengarahan dan pengaturan pemerintah yaitu, seperti dukun beranak, tukang gigi tradisional.


2.5 Definisi etnomedisin


Etnomedisin adalah cabang antropologi medis yang membahas tentang asal mula penyakit, sebab-sebab dan cara pengobatan menurut kelompok masyarakat tertentu. Aspek etnomedisin merupakan aspek yang muncul seiring perkembangan kebudayaan manusia dibidang antropologi medis, etnomedisin memunculkan termonologi yang beragam.

2.6    Etiologi Penyakit
    
Setelah melakukan survei terhadap kepustakaan etnomedisin yang berkenaan dengan konsep-konsep kausalitas, kami mejadi heran waktu bahwa ada sedikit sekali kerangka kognitif pada masyarakat-masyarakat non-Barat yang penting untuk “menjelaskan” tentang adanya penyakit (disease).
Menurut kerangka etnomedisin, penyakit dapat disebabkan oleh dua faktor. Pertama penyakit yang disebabkan oleh agen (tokoh) seperti dewa, lelembut, makhluk halus, manusia, dan sebagainya. Pandangan ini disebut pandangan personalistik. Penyakit juga dapat disebabkan karena terganggunya keseimbangan tubuh karena unsur-unsur tetap dalam tubuh seperti panas dingin dan sebagainya. Kajian tentang ini disebut kajian natural atau nonsupranatural. Di dalam realitas, kedua prinsip tersebut saling tumpang tindih, tetapi sangat berguna untuk mengenai konsep-konsep dalam etnomedisin (Foster danAnderson, 1986:63-64).

1.      Sistem-Sistem Medis Personalistik


Adalah suatu sistem dimana penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi dari suatu agen yang aktif, yang berupa mahluk supranatural (mahluk gaib, atau dewa), mahluk yang bukan manusia (hantu, roh leluhur, atau roh jahat) maupun mahluk manusia (tukang sihir). Orang sakit adalah korbannya, objek dari agresi atau hukuman yang ditujukan khusus kepadanya untuk alasan – alasan yang khusus menyangkut dirinya saja.

2.      Sistem-sistem Medis Naturalistik.


Adalah penyakit (illness) dijelaskan dengan istilah-istilah sistemik yang bukan pribadi. Sistem naturalistik mengakui adanya suatu model keseimbangan, sehat terjadi karena unsur-unsur yang tetap di dalam tubuh seperti panas, dingin, cairan tubuh (humor atau dosha) yin dan yang ,berada dalam keadaan yang seimbang menurut usia, dan kondisi individu dalam lingkungan alamiah dan lingkuan sosialnya. Apabila keseimbangan ini terganggu, maka hasilnya adalah timbulnya penyakit.

2.7    Konsep Kausalitas Dalam Sistem Personalistik


Inti dari kausalitas dalm sistem-sistem personalistik dapat dibaca dalam tulisan Glick mengenai penduduk Gimi dari dataran tinggi Nugini: “Penyakit disebabkan oleh agen-agen yang dengan beberapa cara menjatuhkan kekuatan mereka atas diri para korban mereka. Agen-egen tersebut dapat berupa makhluk manusia “manusia super” atau bukan manusia ; namun senantiasa dipandang sebagai makhluk yang keras hati, yang tidak bertindak sembarangan melainkan sebagai respon terhadap motif pribadi yang disadari (Glick 1967 : 36). Peran sentral dari agen juga ditemukan dikalangan orang Abron di Pantai Gading, dimana penduduknya mempunyai kepercayaan bahwa orang menjadi sakit dan meninggal karena beberapa kekuatan terjadi atas diri mereka.

Harley mendaftar sejumlah 16 penyebab penyakit dan kematian tak wajar, termasuk ilmu sihir, keracunan, pelanggaran pantangan, kekuatan fetish dan binatang jadi-jadian.Kasus wajar terbatas pada penyakit-penyakit yang sederhana yang diobati dengan ramuan tumbuh-tumbuhan, usia tua yang menuju ke kematian .
Kepercayaan tentang kausalitas penyakit yang bersifat personalistik menonjol dalam data-data medis dan kesehatan yang tercatat dalam etnografi klasik tentang masyarakat-masyarakat primitif.

2.8     Konsep-konsep Sebab-Akibat dalam Sistem Naturalistik


1.    Patologi Humoral
 
Patologi humoral berdasarkan atas konsep ‘humor” (cairan) dalam tubuh manusia. Akarnya ditemukan dalam teori Yunani mengenai empat unsur (tanah,air,udara,api) yang telah dikenal sejak abad ke-6 s.M. padamasa Hippocrates (lahir tahun 460 s.M.), teori ini telah ditambah dengan konsep paralel mengenai empat kualitas yaitu panas,dingin, kering, lembab yang apabila diintegrasikan dengan teori aslinya, menghasilkan konsep empat “humor” dengan kualitas yang dihubungkannya : darah (panas dan lembab), flegma atau lendir (dingin dan lembab), empedu hitam juga disebut “murung” atau “melankoli” (dingin dan kering) serta empedu kuning atau “bertempramen buruk” (panas dan kering).

Teori keseimbangan mengenai kesehatan telah berkembang di masa Yunani kuno, hal itu dibuktikan oleh deskripsi Hippocrates tentang penyakit : “Tubuh manusia mengandung darah, flegma, empedu kuning, dan empedu hitam. Unsur-unsur inilah yang membentuk tubuh manusia dan menyebabkan tubuh manusia merasakan sakit atau sehat. Sehat merupakan keadaan dimana unsur-unsur tersebut merupakan substansi tersebut berada dalam proporsi yang tepat satu dengan lainnya, baik dalam kekuatan dan kuantitasnya, dan tercampur dengan sempurna. Rasa sakit timbul apabila salah satu dari substansi-substansi itu menunjukkan kekurangan atau kelebihan, atau terpisah dalam tubuh sehingga tidak bercampur baik satu sama lainnya.

Ia memahami kualitas-kualitasnya dan melihat bahwa berbagai humor itu juga bervariasi kuantitasnya dari tahun ke tahun, tergantung pada iklim dan cuaca.Flegma bertambah pada musim dingin karena sebagai humor yang terdingin, humor ini sesuai dengan musim dingin. Pada musim semi, kuantitas darah meningkat, dirangsang oleh hari-hari yang basah dan panas pada musim hujan .karena humor itu lembab dan panas, maka bagian dari tahun tersebut paling cocok dengan darah. Dimusim panas, walau darah tetap kuat, empedu semakin bertambah, dan menguasai tubuh selama musim panas dan musim gugur. Cuaca musim panas dan kering adalah baik bagi empedu kuning namun dengan tibanya musim gugur yang dingin dan kering, maka empedu didinginkan, dan empedu hitam berpengaruh lebih besar.

Karena adanya variasi musiman tiap tahun, menurut Hipocrates wajarlah bahwa penyakit-penyakit akan timbul hanya pada waktu-waktu tertentu saja dalam setahun karena itu, dalam pengobatannya dokter harus ingat bahwa setiap penyakit akan paling menonjol pada musim yang cocok dengan sifat-sifatnya. Singkatnya, dokter harus menanggulangi penyakit dengan prinsip oposisi terhadap penyebab penyakit, sesuai dengan bentuknya, pengaruh musimnya dan pengaruh usianya.

2.    Pengobatan Ayurveda


Di India pada masa ini, banyak makanan dianggap mempunyai kualitas memanskan atau medinginkan, seperti dalam patologi humoral, kombinasi yang tepat dari macam-macam makanan dan ramuan-ramuan dapat memulihkan keseimbangan tubuh yang terganggu.Makanan garam (panas) meliputi telur, daging, susu, dahl, madu dan gula; makanan tonda (dingin) meliputi sari buah-buahan, yoghurt, keju asam, nasi dan air. Kepercayaan ini berasal dari pengobatan Ayurveda India, suatu sistem pengobatan pribumiyang pertama kali muncul dalm tulisan-tulisan veda pada tahap awal di abad pertama sebelum masehi.

Menurut teori Ayurveda, alam semesta terdiri dari empat unsur yang sama, seperti yang dikenal oleh orang Yunani (bumi,air,api,udara) ditambah unsur ke lima yaitu eter (ether). Pengaturan dari kelima unsur tersebut dalam tubuh, dimana masing-masing unsur memiliki lima bentuk “halus” dan lima bentuk “material”, merupakan suatu mikrokosmos dari alam semesta.Tubuh manusia juga memiliki tiga humor yang disebut dosha yakni flegma atau cairan lendir, empedu atau cairan empedu serta angina tau gas dalam saluran pencernaan. Keadaan sehat terjadi apabila  ketiga dosha tersebut berada dalam keadaan seimbang; sedangkan sakit terjadi apabila satu atau lebih dosha tidak berfungsi sebagaimana mestinya.Dosha juga dihubungkan dengan situasi dan musim; unsure flegma diasosiasikan dengan muda dan musim pertumbuhan, empedu dihubungkan dengan usia baya dan musim hujan, sedangkan angin dengan usian tua dan cuaca dingin yang kering.

3.    Pengobatan tradisional Cina

Pengobatan tradisional Cina mewakili kasus khusus tenang konsep sentral dalam kosmologi Cina, “pasang kekuatan yin dan yang, dimana interaksi mereka yang terus menerus  berada dibalik seluruh gejala alam, termasuk pembentukan dan berfungsinya tubuh manusia”. Seperti telah disebutkan, keseimbangan yang tepat antara yin dan yang dalam tubuh adalah penting untuk kesehatan. Prinsip harmoni ini, yang memandang penyakit terutama disebabkan oleh kerusakan akibat unsur luar atau dalam, sebab-sebab fisik atau mental, tetap merupakan masalah pokok dalam pengobatan Cina selanjutnya.



BAB III
PENUTUP


3.1    Kesimpulan

Dari penjelasan diatas maka penulis menyimpulkan bahwa praktek medis trradisional yang tidak berasal dari konsep modern sebagian besar masyarakat yang ada di dunia masih mempraktekannya dalam kesembuhan penyakit. Klasifikasi penyakit lebih dibatasi pada pengaruh penyakit yang berbeda disetiap kebudayaan tetapi di dalam etnomedisin meliputi prosedur magis, religious, mekanik dan kimia.

Dalam sistem pengobatan personalistik dan naturalistik dalam banyak pengobatan rakyat kontemperor , perbedaan antara religi,magi dan pengobatan menjadi kabur. Dalam mengamati pengobatan rakyat di dunia orang merasakan bahwa etiologi-etiologi personalistik dan pengobatan yang berhubungan dengannya menjadi semakin maju diabandingkan dengan etiologi naturalistik. Para ahli antropologi mulai dengan mempelajari pengobatan rakyat , namun dengan cepat bahkan menjadi tertarik pada masalah-masalah personalistik dan supranatural.  

    














Komentar

Posting Komentar